Bulan Tobat
Jumat, 19 Agustus 2011 10:37 WIB

Oleh Ustaz Jefry Al Bukhori
SAUDARAKU kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia. Bulan Ramadhan adalah bulan yang disucikan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, sudah semestinya kita mengisinya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dengan menyucikan diri dari dosa-dosa masa lalu dengan cara memperbanyak istigfar sebagai bukti tobat kita kepada Allah.
Tobat adalah kembalinya seorang hamba kepada Rob-nya (Allah swt) dengan melaksanakan ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Tobat bukan saja menyesal dari melaksanakan kemaksiatan, akan tetapi menyesal telah meninggalkan perintah Allah.
Pintu tobat selalu terbuka, ampunan dari Allah selalu diberikan. Tetapi sangat sedikit orang yang bersungguh-sungguh meminta ampun kepada Allah. Di dalam Alquran Surah Az-Zumar ayat 53, Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Para pembaca yang dirahmati Allah, bulan Ramadhan adalah bulan tobat dan ampunan, waktu yang lebih mahal dari apa pun, dan yang paling berharga. Rasulullah saw pernah bersabda dalam sebuah hadis yang artinya, “Sesungguhnya Allah membentangkan rahmat-Nya di waktu malam untuk mengampuni hamba-hamba-Nya yang berbuat dosa di waktu siang, dan Dia membentangkan rahmat-Nya di waktu siang untuk mengampuni hamba-hamba-Nya yang berbuat dosa di waktu malam, sampai matahari terbit dari timur.”
Tidak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa. Selalu ada saja keburukan, kekhilafan yang melekat. Namun, sebesar apa pun kesalahan seseorang, sungguh rahmat-Nya jauh lebih besar dan sebesar apa pun kekhilafan seseorang sungguh ampunan-Nya jauh lebih agung.
Wahai orang-orang yang berpuasa, bulan ini adalah kesempatan untuk bertobat yang sesungguh-sungguhnya. Di antara ciri-ciri diterimanya ibadah puasa adalah bersungguh-sungguh dalam bertobat kepada Allah dan menyesali segala kemaksiatan yang pernah dilakukan.
Allah berfirman di dalam Alquran Surah Asy-Syura ayat 25 yang artinya, “Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan, dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dan Rasulullah saw pun bersabda dalam sebuah hadis, “Demi Dia yang jiwaku berada dalam kekuasan-Nya, andai kamu tidak berdosa, niscaya Allah akan menyirnakan kamu dan niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang berdosa kemudian mereka memohon ampun kepada Allah dan Allah mengampuni mereka.”
Menangis
Para pembaca yang dirahmati Allah swt, sering kita menyaksikan ada sebagian orang yang saat berpuasa keadaannya istikamah, perilaku dan tutur sapanya dalam pergaulan baik. Ketika bulan Ramadhan telah berlalu, ia kembali kepada keadaan lama dan jalan hidup seperti sebelum Ramadhan.
Ia merusak apa yang telah diperbaiki selama bulan Ramadhan. Kembali hidup lalai dan penuh dengan kemaksiatan. Allah berfirman di dalam Alquran Surah An-Nahl ayat 92 yang artinya, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang merusak benang yang dipintalnya sesudah teguh dan terurai kembali.”
Para pembaca yang dirahmati Allah, kebanyakan ulama dan orang-orang saleh, ketika bulan Ramadhan akan berlalu, mereka menangis karena tidak mau berpisah dengan Ramadhan. Mereka menyayangkan kepergiannya, menyesali perpisahannya.
Perasaan itu timbul karena banyaknya amal ibadah yang mereka lakukan sehingga menimbulkan kesucian hati, dan kebersihan jiwa yang merasakan betapa agungnya bulan Ramadhan.
Semoga Ramadhan kali ini bisa mengantarkan kita semua untuk mampu mengisi malam-malam Ramadhan dengan cucuran air mata tobat, air mata penyesalan dari segala kemaksiatan dan kelalaian yang pernah kita lakukan. Sehingga pada akhir Ramadhan kita mampu meraih ampunan dari Allah. (*)
Editor : bakri
Share on Facebook