Lailatul Qadar
Sabtu, 20 Agustus 2011 13:44 WIB

Oleh Ustaz Jefry Al Bukhori
PARA pembaca yang dirahmati Allah. Syukur alhamdulillah, kita masih menjalani hari-hari dan malam-malam yang penuh berkah, yakni sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan yang sangat istimewa. Pada periode ini Allah mengkhususkan amalan ibadah yang tidak dilakukan pada hari-hari lainnya.
Semoga kesehatan dan kenikmatan masih senantiasa Allah limpahkan kepada kita hingga akhir Ramadan ini. Amin. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabnya, Shahih Muslim, dari Aisyah ra, ia berkata bahwa, “Pada sepuluh malam terakhir (di bulan Ramadhan), Nabi Muhammad saw lebih giat (beribadah) dari sebelumnya.”
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra, “Apabila masuk sepuluh malam terakhir, Nabi Muhammad mengikat kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” Maksud mengikat kain adalah menjaga jarak dari istri agar lebih total melakukan shalat, zikir, menghidupkan malam dengan membaca Alquran, doa, dan mengadu kepada Allah swt.
Oleh sebab itu, setiap orang mukmin yang bijak tidak mungkin mau melewatkan begitu saja kesempatan emas dan malam-malam yang sangat berharga ini, baik untuk diri sendiri maupun keluarganya. Oleh sebab itu, tidak lebih dari beberapa jam yang sangat pendek dan beberapa malam yang sangat terbatas, dengan harapan mudah-mudahan ia meraih setitik anugerah dari Allah yang memberi kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat.
Satu malam yang lebih baik dari seribu bulan dalam hal keutamaan, berkah, kemuliaan, dan jumlah pahala, serta ganjaran. Pada malam itu, malaikat-malaikat yang tidak pernah angkuh dan tidak pernah lelah untuk menyembah Allah, turun dari langit. Mereka senantiasa bertasbih siang dan malam tanpa henti, lalu turun ke bumi dengan membawa berkah dan rahmat.
Pada malam itu, dosa-dosa diampuni, kesalahan-kesalahan dihapus, kekeliruan-kekeliruan dimaafkan, dan doa-doa dikabulkan, bagi orang yang terjaga dan shalat pada malam itu dengan menggenggam keimanan kepada Tuhannya, yakni dengan pemberiannya, hanya mengharap balas dan pahala dari-Nya, ikhlas dalam berniat.
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang shalat malam pada malam Lailatul Qadar dengan iman dan hanya mengharap balasan dari Allah swt, maka diampuni seluruh dosanya yang terdahulu.”
Lantas kapan munculnya Lailatul Qadar itu?
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah saw menjelaskan waktu munculnya Lailatul Qadar. “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” Tetapi, ada petunjuk yang menyatakan Lailatul Qadar cenderung muncul di malam ganjil pada tujuh hari terakhir di bulan Ramadhan.
Ini berdasarkan riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra bahwa beberapa sahabat Nabi Muhammad saw bermimpi bahwa Lailatul Qadar terjadi pada tujuh malam terakhir. Lalu Rasulullah bersabda, “Aku melihat mimpi-mimpimu sepakat bahwa malam Lailatul Qadar terjadi pada malam terakhir. Untuk itu, siapa yang ingin mencarinya, maka carilah pada tujuh malam terakhir.”
Malam ganjil di antara tujuh malam terakhir yang membuka peluang terbesar untuk munculnya Lailatul Qadar adalah malam 27 Ramadhan. Akan tetapi, dari tahun ke tahun selalu berubah-ubah.
Allah swt sengaja merahasiakan sebagai bentuk kasih sayang kepada hamba-Nya, agar mereka terus memperbanyak ibadah dan mencari sepanjang malam-malam istimewa tersebut dengan segala bentuk ketaatan yang mendekatkan dirinya kepada-Nya.
Bila kita sudah tahu keistimewaan malam Lailatul Qadar yang agung ini, dan tahu bahwa ia hanya ada di antara sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, maka kita harus menyisingkan lengan baju, dan berusaha keras pada malam-malam itu untuk melakukan shalat malam, zikir, doa, tobat, dan mohon ampunan (istigfar). Pada malam itu kita dianjurkan untuk memanjatkan doa, memohon kebahagiaan dunia dan akhirat. (*)
Editor : hasyim
Share on Facebook