Sriwijaya Post
home / ramadhan

Menanti dan Mengisi Laylatul Qadar

Senin, 22 Agustus 2011 10:43 WIB
Oleh Prof. Dr. Alyasa‘ Abubakar, MA

ISTILAH Laylatul Qadar (layl al-qadr) tidak asing bagi umat Islam, khususnya ketika bulan Ramadhan tiba, karena dianggap sebagai malam yang sangat diberkati, yang menyebabkan semua doa akan terkabul. Semua umat Islam yang tahu kelebihan malam yang penuh berkah ini, akan bersungguh-sungguh mencari dan menemukannya guna berdoa secara khusyuk dan tulus untuk mengisinya.

Sebagai bulan yang diutamakan, Ramadhan paling kurang mempunyai tiga kelebihan. Pertama, shalat malam yang di bulan lain dilaksanakan secara diam-diam, pada Ramadhan dilaksanakan secara berjemaah di masjid-masjid dan dijadikan sebagai salah satu syiar utama.

Kedua, ibadah puasa yang cenderung hanya untuk kemanfaatan individual, harus diakhiri dengan zakat fitrah (bagi yang mampu) yang merupakan ibadah sosial, sehingga keterhubungan antara ibadah individual dengan ibadah sosial tetap selalu terhubung. Dan, ketiga, keberadaan Laylatul Qadar yang akan diulas lebih lanjut.

Istilah Laylatul Qadar ditemukan di dalam Alquran Surah ke-97 (Surah Al-Qadr yang bermakna kemuliaan). Secara bebas ayat-ayat tersebut bermakna: Sesungguhnya Kami telah (mulai) menurunkan (Alquran) pada malam kemuliaan (al-qadr); apakah kamu tahu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan adalah (malam yang) lebih baik daripada seribu bulan; pada malam itu turun malaikat-malaikat dan (malaikat) Jibril dengan izin Tuhannya untuk menjalankan segala titah; malam itu (penuh dengan) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Seperti jelas tertera pada ayat-ayat di atas, malam tersebut punya beberapa kelebihan. Pertama, merupakan waktu yang dipilih Allah untuk mulai menurunkan Alquran. Kedua, para malaikat, termasuk Jibril, atas izin dan perintah Allah, pada malam itu turun (ke bumi) untuk melaksanakan berbagai urusan, perintah ataupun titah yang diberikan Allah kepada mereka.

Ketiga, malam ini penuh dengan keberkatan dan kesejahteraan sampai fajar tiba. Keempat, malam ini lebih baik daripada seribu bulan, karena itu sangat baik untuk beribadah.

Bagaimana penjabaran lebih konkret dari empat keutamaan di atas?  Ketika penulis masih kecil sering diberi tahu bahwa Laylatul Qadar merupakan malam yang amat sangat mulia dan penuh keajaiban. Pada malam itu semua makhluk sujud kepada Allah secara harfiah, sehingga pohon kayu pun akan sujud, semuanya condong ke arah kiblat. Air akan berhenti mengalir, bahkan membeku sebagai tanda bersujud; hewan-hewan pun pada malam itu tidak ada yang berkeliaran, tak ada yang bersuara gaduh, dan tak ada yang akan menangkap mangsa (membunuh hewan lain), karena semuanya bersujud kepada Allah.

Jadi, kelebihan tersebut cenderung bersifat fisik dan karena itu bisa diamati dengan pancaindera. Begitu mulianya malam ini sehingga semua doa akan dikabulkan Allah secara langsung, termasuk semua permintaan yang bersifat fisik ataupun kasat mata. Dengan kata lain, Laylatul Qadar adalah malam yang sangat agung yang kelebihannya cenderung dianggap bersifat fisik.

Kembali kepada penjelasan Rasulullah, kapan waktu Laylatul Qadar terjadi? Untuk mengetahuinya, menurut hadis-hadis Nabi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Kemungkinan besar Laylatul Qadar terjadi pada salah satu malam di bulan Ramadhan yang kemudian dipertajam lagi, lebih sering terjadi pada malam-malam ganjil. Setelah ini ada lagi hadis yang lebih mempersempitnya, lebih sering terjadi pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan. Karena itu, Rasulullah sangat menggalakkan para keluarga dan sahabatnya untuk selalu berada di masjid pada sepuluh hari yang terakhir itu (beriktikaf), untuk membaca Alquran, berzikir, berdoa, melakukan shalat dan ibadah sunat lainnya, sepanjang siang dan malam.

Dengan beribadah secara sungguh-sungguh sejak awal Ramadhan sampai ke akhirnya, terutama pada malam hari, tanpa perlu mencari, menunggu ataupun mengetahui terjadinya Laylatul Qadar secara pasti, insya Allah kita akan menemukan Laylatul Qadar dengan segala kelebihan dan berkahnya. Wallahu a‘lam bish-shawab wa ilayhil marji‘ wal ma‘ab.***

Editor : bakri
Share on Facebook
Terkait
Tribun Network

Kembali ke Home
Full Site