Sriwijaya Post
home / ramadhan

Menjaga Hidayah

Rabu, 24 Agustus 2011 10:32 WIB
Oleh Ir. Faizal Adriansyah, M.Si, Kabid Kajian Aparatur PKP2A IV LAN-Aceh

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran ayat 8)

Tiada terasa perjalanan waktu telah mengantar kita pada pengujung Ramadhan 1432 Hijriah. Selama hampir sebulan kita hidup bersama Ramadhan. Hidup kita telah dibimbing Ramadhan menjadi orang yang taat dan patuh pada Allah. Kita mudah shalat berjemaah, Tarawih, membaca Quran, berzikir, menahan amarah, santun dalam berkata, memberi bekal berbuka kepada orang lain, berinfak, dan bersedekah.

Sungguh Ramadhan menjadikan kita dekat dengan Allah dan dekat dengan sesama manusia, hal yang sulit kita lakukan di luar Ramadhan. Mengapa hal ini bisa terwujud dalam kehidupan kita? Ini semua terjadi tak lain karena hidayah yang Allah berikan kepada kita. Tanpa hidayah kita tak mungkin tergerak untuk melakukan segala kebaikan tersebut. Namun sayang, banyak yang tidak dapat menjaga dan mempertahankan hidayah tersebut seusai Ramadhan. Itulah yang tampak kita saksikan pasca-Ramadhan, tatkala masjid, musala, dan meunasah kembali sepi, suara alunan Alquran seperti menghilang,  orang marah dan tak sabaran mulai bertaburan. Kata dan kalimat kasar pun makin sering kita dengar, orang bakhil dan kikir pun kian kelihatan.

Untuk dapat mempertahankan hidayah tersebut, tentu dibutuhkan tekad dan upaya yang sungguh-sungguh untuk tetap konsisten dengan berbagai amal kebaikan yang sudah kita latih selama Ramadhan. Selama kita menyadari bahwa semua ibadah yang kita lakukan akan membawa manfaat bagi kehidupan kita, maka dapat dipastikan kebiasaan baik dalam bulan Ramadhan akan terus kita lanjutkan di luar Ramadhan. Ibarat ketika kita masih kecil, kita tidak menyadari betapa pentingnya mandi, makan, dan tidur, sehingga kadang orang tua harus menyuruh kita bahkan dengan cubitan dan jeweran agar kita melakukan itu semua. Namun, setelah kita dewasa, semua pekerjaan itu tidak perlu lagi diperintah, karena kita telah menyadari manfaatnya.  Untuk dapat mempertahankan hidayah tersebut bukanlah ringan, setan tidak akan tinggal diam. Dia akan terus berupaya untuk mengembalikan kita kepada kesesatan, maka kita membutuhkan pertolongan Allah  sebagaimana diajarkan dalam Alquran Surah Ali Imran ayat 8 yang penulis kutip di awal tulisan ini.

Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa hidayah itu amatlah berat untuk dipertahankan. Kecenderungan kita untuk kembali kepada kesesatan amatlah kuat, berupa godaan setan yang akan menggempur kita dari semua arah agar ke luar dari hidayah Allah. Namun, hanya dengan karunia rahmat Allah, maka kita akan dapat mempertahankan hidayah tersebut dan terhindar untuk kembali kepada kesesatan. Itulah yang kita mohon di pengujung doa ini; karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau (agar kami mendapat kekuatan untuk tidak condong kembali kepada kesesatan); karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).

Orang-orang yang tetap menjaga hidayah inilah orang-orang yang memperoleh kemenangan dalam arti sesungguhnya dan berhari raya pada 1 Syawal. Itulah sebabnya hari raya bagi orang yang berhasil melaksanakan puasa Ramadhan disebut Idul Fitri, hari kita kembali kepada kesucian, kembali kepada fitrah kita sebagai seorang yang bersih dari dosa dan kesalahan. Lalu Allah memberi gelar kepada orang-orang yang menang dan beruntung itu dengan sebutan muttaqin. Pada hari Fitri tersebut ucapan atau tahniah yang disunahkan adalah ucapan saling mendoakan sebagaimana hadis berikut, “Dari Jubair bin Nufair adalah sahabat Rasulullah saw apabila berjumpa satu sama lain di hari Ied mereka mengucapkan taqaballahu mina wa minkum (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan engkau)

Menurut Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, sanad hadis ini hasan. Sedangkan ucapan minal aidin wal faizin yang populer di negeri kita dalam konteks Idul Fitri, menurut Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Alquran bahwa kata ‘Aidin adalah bentuk pelaku Id’ dan kata alfaizin yang ditemukan 29 kali dalam Alquran adalah bentuk jamak dari faiz yang berarti orang yang beruntung. Dengan demikian, ucapan itu bisa bermakna orang yang kembali kepada kesucian/fitrah dan menjadilah orang yang beruntung.  

Dengan saling bertemu dan mengucapkan doa, kita bermohon kepada Allah, semoga hidayah Ramadhan yang sudah diberikan dapat terus kita pertahankan seusai Ramadhan. Amin ya rabbal ‘alamin. (*)

Editor : bakri
Share on Facebook
Terkait
Tribun Network

Kembali ke Home
Full Site