Reward untuk Perempuan
Jumat, 26 Agustus 2011 10:33 WIB

Oleh Dr. Nurjannah Ismail, M.A, Dosen Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry
Salah satu tema utama sekaligus prinsip-prinsip pokok dalam ajaran Islam adalah persamaan antara manusia, baik antara laki-laki maupun perempuan, dan antara bangsa, suku, dan keturunan. Perbedaan yang digarisbawahi dan yang kemudian meninggikan atau merendahkan seseorang hanyalah pengabdian dan ketakawannya kepada Allah.
Orang yang bertakwa tercermin lewat tindakannya yang lurus serta mampu menghadirkan keadilan dan kedamaian bagi sesama tanpa dihalangi sekat-sekat perbedaan gender.
Bulan ini merupakan bulan diwajibkannya berpuasa bagi yang beriman agar mencapai predikat takwa. Ibadah puasa merupakan sarana yang sangat efektif menghadirkan internalisasi nilai kebajikan, baik dalam ranah individu maupun sosial.
Di bulan Ramadhan pula kitab suci Alquran diturunkan untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia baik laki-laki maupun perempuan agar mampu membedakan antara yang hak dengan yang batil, yang halal dengan yang haram.
Di bulan Ramadhan pula pintu amal kebajikan dibuka lebar dan ruang gerak setan (pengajak kejahatan) dipersempit melalui pengekangan nafsu. Begitulah pesan yang kerap disampaikan lewat ceramah agama di berbagai tempat.
Selama ini, setan kerap dimaknai secara vulgar lewat bayangan imajiner berupa makhluk halus yang menyeramkan. Padahal, setan sesungguhnya merupakan refleksi tindakan/sikap buruk yang mejauhkan manusia dari kebenaran. Bisa dimaknai bahwa segala sesuatu yang dapat menjauhkan manusia dari Tuhan adalah setan, meski tampak manis.
Ramadhan dengan ibadah puasanya memuat makna-makna spiritualitas pada jiwa manusia dan merupakan training tahunan untuk memantapkan kepribadian muslim agar menjadi lebih baik dari hari sebelumnya.
Cita-cita puasa adalah takwa. Orang yang bertakwa bisa dibuktikan dengan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya, yang membias lewat perilaku kebajikan dalam hidup keseharian. Dan salah satu bentuk kebajikan tersebut adalah sikap adil terhadap perempuan.
Selama ini tantangan yang dihadapi perempuan dalam menjalankan peranannya adalah terbatasnya ruang penghargaan dan penghormatan akibat kuatnya arus patriarkisme yang berujung pada tindakan kekerasan, baik fisik, psikis, seksual, maupun penelantaran ekonomi.
Hadirnya bulan Ramadan, dengan ibadah puasanya, diharapkan mampu mengikis nafsu patriarkisme yang mendominasi selama ini, sehingga kaum perempuan bisa hidup lebih mantap dan aman tanpa dihantui ketakutan lantaran dominasi kaum lelaki.
Menggapai cita-cita semacam itu memang tidak mudah dalam kehidupan keagamaan yang masih ritualistik-formalistik. Ibadah puasa yang bertujuan untuk meraih predikat takwa mesti dimaknai secara lebih mendalam, yakni takwa dalam makna spiritual dan sosial. Takwa dalam konteks kehidupan sosial adalah sebuah aksi nyata berbuat kebajikan dalam makna yang tidak terbatas. Tidak sekadar khusyuk berhubungan dengan Tuhan, tetapi juga diikuti dengan berbuat baik terhadap sesama. Sebab, tujuan takwa sangat berkaitan dengan kemampuan kontekstual, memfungsikan puasa sebagai media mencapai kesempurnaan diri baik secara individual maupun sosial.
Peran perempuan
Maka menjadi sangat penting untuk memikirkan persoalan perempuan terkait dengan hadirnya bulan Ramadan. Praktik ibadah puasa tidak bisa lepas dari peran kaum perempuan yang begitu besar. Kaum perempuanlah yang sesungguhnya banyak berjasa di bulan Ramadhan ini untuk mendukung suami dan putra-putrinya melaksanakan ibadah puasa serta kesibukan-kesibukan lainnya dalam masyarakat.
Kekuasaan patriarkisme telah menjadikan perempuan sebagai kelompok manusia yang terus-menerus dibebani tanggung jawab domestik (mengurus rumah tangga) mulai dari dapur, sumur, hingga kasur. Ironisnya, pekerjaan beruntun tersebut kerap kali tidak dihargai sebagaimana mestinya. Kesibukan yang begitu panjang menghiasi hari-hari sering terabaikan (kelelahannya tidak kelihatan), seolah-olah perempuan tidak melakukan apa-apa.
Pekerjaan domestik yang banyak menyita waktu tersebut hanya dianggap sebuah pengabdian yang mesti dijalani. Lebih-lebih di bulan Ramadhan, beban perempuan bertambah berat karena harus menyiapkan segala keperluan berpuasa mulai menyiapkan masakan untuk sahur dan berbuka puasa serta mengurus hal-hal lain yang sudah menjadi tanggungannya.
Banyak suami yang tega membiarkan istrinya sibuk luar biasa setiap hari dan tak pernah berinisiatif membantunya, padahal dia memiliki waktu luang, dengan alasan tidak layak laki-laki melakukan pekerjaan domestik rumah tangga.
Puasa selayaknya bisa menumbuhkan kepekaan dan kepedulian sosial, mengembangkan rasa solidaritas terhadap perempuan dengan menghapus tindak kekerasan maupun penindasan terselubung. Puasa menjadi tidak ada nilainya jika hanya terfokus pada menahan lapar dan dahaga, sementara sensitivitas sosialnya tidak ada atau sengaja menutup mata pada keadaan di sekeliling kita.
Pengakuan kemusliman harus dibuktikan dengan perilaku luhur, meneladani kehidupan Nabi Muhammad saw yang selalu menyayangi para istrinya dan ikut terlibat dalam urusan rumah tangga. Mulai dari menjahit sepatu, memerah susu, hingga pekerjaan domestik lainnya.
Ibadah puasa Ramadhan menjadi semacam training untuk menguji mental manusia sampai sejauh mana penghayatan keagamaannya. Apakah mampu menyempurnakan keimanan dalam wujud aksi nyata sehidupan sehari-hari atau sekadar bangga menghadirkan seremonial tahunan tanpa perubahan apa pun.
Sudah jadi kelaziman turun-temurun dan tradisi perempuan muslim Indonesia, tiap bulan Ramadhan tiba, pekerjaan di dapur bertambah. Dari menyiapkan santapan berbuka puasa hingga makan sahur, dari mengurus keperluan anak berangkat sekolah di pagi hari dan suami pergi beraktivitas ditambah lagi sejumlah pekerjaan rutin lainnya. Perempuan kian sibuk di bulan Ramadhan.
Kesibukan pun bertambah lengkap ketika suami minta dilayani di tempat tidur pada malam hari. Mengeluhkah mereka? Atau malah bahagia lantaran sepotong tubuh itu mampu berbuat banyak untuk orang-orang terdekat serta dikasihinya? Ataukah tradisi yang tiba secara berkala sekali setahun itu bahkan dinantikan para perempuan dengan gembira?
Belum ada penelitian menyoal sikap perempuan atau istri dalam hubungannya dengan bulan Ramadhan. Yang ada sekadar rasa kagum lelaki atau suami atas ketangguhan perempuan sepanjang sebulan melaksanakan puasa. Wajar jika apresiasi positif diberikan kepada perempuan. Apresiasi itu bisa berupa reward (hadiah) dalam bentuk penambahan uang belanja, terutama menjelang Lebaran tiba. (*)
Editor : bakri
Share on Facebook