Sriwijaya Post
home / ramadhan

Melanjutkan Amalan Ramadhan

Sabtu, 27 Agustus 2011 13:02 WIB
Oleh Prof. Dr. Azman Ismail, M.A.
(Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh)

Bulan Ramadhan dalam pandangan masyarakat Aceh merupakan bulan mulia. Untuk menyambut kedatangan bulan ini di Aceh, diadakan hari meugang. Musala, meunasah, dan masjid baik pada tingkat gampong, mukim, kecamatan, kabupaten, maupun provinsi lebih banyak didatangi jemaah, khususnya jemaah shalat Isya.

Banyaknya jemaah shalat Isya dibandingkan dengan jemaah shalat Isya di bulan-bulan yang lain, karena ada pelaksanan shalat Tarawih. Jemaah shalat Tarawih datang bersama istri dan anak-anaknya. Tentu ada yang tinggal menjaga rumah, agar tidak dimasuki pencuri. Orang tua sengaja menitip uang kepada anak-anak mereka walaupun Rp 1.000 untuk dimasukkan ke dalam celengan yang beredar di kalangan jemaah. Anak-anak dengan tenang mendengarkan ceramah Ramadhan yang diberikan pendakwah yang silih berganti setiap malam. Ada pencermah dengan kocak menyampaikan tausiahnya sehingga anak-anak tertarik mengikutinya. Anak-anak dengan patuh melaksanakan shalat Isya, Tarawih, dan Witir.   

Di waktu sahur kepala rumah tangga sengaja membangunkan seluruh isi rumah yang berkewajiban melakukan ibadah puasa untuk makan sahur bersama. Makan bersama banyak manfaatnya dalam menjaga hubungan antaranggota keluarga. Berkat ada jam weker atau alarm handhpone yang sengaja disetel untuk membangunkan semua isi rumah, mereka tak perlu risau dan takut terlambat sahur.

Ini berbeda dengan mereka yang puasa pada tahun ‘60-an, karena takut terlambat sahur, mereka sudah bangun pada pukul dua dini hari. Mereka makan sahur bersama dan selesai pada pukul tiga dini hari. Waktu subuh baru tiba dua jam kemudian, akibatnya ada yang tertidur, sehingga tidak sempat melaksanakan shalat Subuh.

Sekarang kaum muslimin sudah dapat melaksanakan makan sahur sekitar pukul empat lebih dan berakhir menjelang waktu imsak. Akibatnya, mereka dapat mempersiapkan diri untuk melakukan shalat berjemaah di meunasah dan masjid.

Di pengujung bulan Ramadhan kaum muslimin menunaikan zakat fitrah, guna membantu kaum fakir miskin. Pada tahun lalu seseorang tergolong kaya karena mempunyai toko, tapi sekarang dagangannya sudah bangkrut. Dulu seorang anak dapat meminta uang kepada orang tuanya, tapi sekarang orang tuanya itu sudah dipanggil pulang menghadap Yang Maha Esa, sehingga anaknya tergolong anak miskin. Mereka terbantu di hari raya dengan zakat fitrah.

Di siang hari kaum muslimin melaksanakan tugasnya sehari-hari. Para pegawai hadir di kantor melakukan tugas rutinnya. Para pedagang membuka toko atau kedainya seperti yang dilakukan pada bulan selain Ramadhan. Ini artinya, bulan Ramadhan tidak menghalangi kaum muslimin untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Kalau ada tetangga yang sakit dikunjungi bersama-sama. Kalau ada kematian di gampong mereka laksanakan tugas untuk mentajhizkan mayat di bawah pimpinan imam gampong.

Kaum muslimin melaksanakan amal saleh pada siang dan malam bulan Ramadhan dengan harapan mendapat ganjaran yang berlipat ganda dari Allah swt. Memang Allah menjanjikan kepada orang yang beramal saleh di bulan Ramadhan akan diberi bonus. Bonus itu adalah ganjaran  yang setimpal dengan amalan seribu bulan bila seseorang beramal di malam Lailatul Qadar.    

Kaum muslimin yang sudah lulus dalam ujian di bulan Ramadhan tentu akan memelihara predikat kelulusannya dengan meneruskan amal saleh di bulan yang lain, karena Tuhan yang disembah di bulan Ramadhan, Tuhan itu pula yang disembah pada bulan-bulan yang lain.

Kalau mereka sudah sanggup mengendalikan diri di bulan Ramadhan tentu mereka akan mempertahankan kemenangannya itu. Memang ada amal saleh yang khusus di bulan Ramadhan, tentu tidak akan dikerjakan pada bulan lain, misalnya, shalat Tarawih.

Meneruskan amal saleh di luar bulan Ramadhan harus dengan menciptakan lingkungan seperti yang ada di bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan kaum muslimin datang berduyun-duyun ke meunasah dan masjid. Kalau ada yang tidak datang orang tersebut akan merasa asing di tengah masyarakatnya.  

Peran keluarga sangat penting dalam menjaga kemenangan yang telah digapai pada bulan Ramadhan. Bukankah Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim:6)

Mulailah mengerjakan amal saleh sesuai dengan kemampuan dan waktu yang tersedia. Beriktikaf, misalnya, pernah dilakukan pada bulan Ramdhan, tentu akan dikerjakan pula di bulan-bulan lain sesuai dengan waktu yang tersedia.

Mulailah mengerjakan amal saleh dari yang ringan dan kecil, kemudian terus dipertahankan dalam waktu yang lama. Rasul bersabda, “Sesungguhnya amalan yang sangat disukai Allah adalah yang terus-menerus dikerjakan walaupun sedikit.” (H.R Muslim)

Mulailah mengerjakan amalan saleh dari jumlah yang sedikit dan diupayakan ada penambahannya di kemudian hari. Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman, rukuk dan sujudlah kamu...” (Al-Haj:77). (*)

Editor : hasyim
Share on Facebook
Terkait
Tribun Network

Kembali ke Home
Full Site