Sriwijaya Post
home / ramadhan

Menjadikan Bulan Lain Seperti Ramadhan

Senin, 29 Agustus 2011 10:25 WIB
Oleh Prof. Dr. Syahrizal Abbas, M.A, Pembantu Rektor IV IAIN Ar-Raniry

Ini merupakan hari-hari terakhir bulan Ramadhan, bulan di mana kaum muslimin menjalankan perintah suci berupa ibadah puasa (shaum).  Hampir sebulan penuh kita bersama Ramadhan mengisi dan memaknainya dengan berbagai ibadah, baik ibadah mahdhah maupun  ghairu mahdhah.

Detik-detik terakhir bersama Ramadhan tentu sangat mengharukan bagi kaum muslimin. Keharuan itu muncul karena sebentar lagi Ramadhan akan meninggalka kita dan membawa seluruh amal ibadah yang kita laksanakan sebulan penuh untuk dipersembahkan kepada Allah swt. Keharuan di hati kaum muslimin juga muncul karena berhadapan dengan hari kemenangan, yaitu Hari Raya Idul Fitri. Kemenangan kaum muslimin didasarkan pada kesuksesannya menjalankan ujian spiritual  selama sebulan penuh.

Keberhasilan kaum muslimin menggapai kemenangan dengan jiwa yang suci ditunjukkan pada Hari Raya Idul Fitri dengan saling memaafkan, silaturahmi, dan mengagungkan asma Allah, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Ramadhan telah menawarkan sejumlah upaya bagi kaum muslimin guna meningkatkan citranya sebagai insan yang paripurna (insan kamil), insan damai, bermartabat, dan saleh dalam spiritual maupun saleh dalam sosial. Saleh spiritual ditandai dengan banyaknya ibadah yang kita jalankan selama ini seperti puasa di siang hari, shalat Tarawih, berzikir, membaca Quran, iktikaf, berdiskusi, dan berbagai ibadah sunah lainnya.

Puasa juga mengajarkan kita untuk senantiasa menghindari perbuatan yang dapat meruntuhkan nilai ibadah puasa seperti berbohong, berkhianat, ingkar janji, korupsi, menganaiya orang lain baik dalam tindakan maupun kebijakan, dan berbagai sikap tercela lainnya.

Rutinitas ini kita jalankan selama Ramadhan dalam rangka menyucikan jiwa, membersihkan pikiran, dan membeningkan qalbu. Jiwa yang muthmainnah inilah yang nanti akan dipanggil Allah untuk masuk ke dalam surga-Nya.

Kesemarakan bulan Ramadhan juga ditandai dengan meningkatnya kesalehan sosial di kalangan kaum muslimin. Realisasi kesalehan sosial dimaksudkan dalam rangka membangun jiwa yang mampu menebarkan kasih sayang, kedamaian, empati, dan kepedulian sosial di kalangan masyarakat sekitar. Kesalehan spiritual dan kesalehan sosial yang dilakukan kaum muslimin di bulan Ramadhan itu dimaksudkan untuk memperbaiki dan meningkatkan nilai hablumminallah dan hambblumminannas.

Rutinitas ibadah yang kita praktikkan satu bulan lamanya, diharapkan membawa dampak perubahan perilaku ke arah yang lebih baik, terutama pada pada bulan-bulan yang akan datang. Kesuksesan menjadi manusia muttaqin diukur dengan sejauhmana kemampuan kita mengisi sebelas bulan ke depan dengan sejumlah ibadah. Paling tidak setara dengan apa yang pernah dilakukan pada bulan Ramadhan,  bahkan harus lebih meningkat lagi.

Kecenderungan peningkatan ibadah setelah Ramadhan ditunjukkan oleh Rasulullah kepada umatnya, sehingga bulan setelah Ramadhan diberi nama bulan Syawal yang berarti peningkatan. Diharapkan dalam bulan Syawal setiap kaum muslimin melakukan peningkatan ibadah tahap demi tahap dan terus diikuti dengan bulan-bulan selanjutnya.

Harus diakui memang, upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah serta menjaga kesinambungan ibadah, bukanlah hal yang mudah. Ia memerlukan perjuangan. Ada beberapa upaya yang barangkali patut kita renungkan dalam rangka menjaga keberlangsungan ibadah kita selama sebelas bulan mendatang.

Pertama, perubahan paradigma ibadah. Ibadah yang kita lakukan, bukan semata-mata untuk menggugurkan kewajiban dari Allah, tetapi sebagai perangkat untuk mencari keridaan-Nya dan bentuk penghambaan diri yang amat dalam kepada Allah, Khalik Yang Mahakuasa dan Bijaksana. Ibadah yang kita lakukan, baik ibadah spiritual dan ibadah sosial, pada hakikatnya adalah untuk kepentingan dan kemanfaatan bagi manusia itu sendiri secara individu maupun sosial. Kedua, Rasulullah sangat menyenangi umatnya yang beribadah secara terus-menerus walaupun ibadah tersebut kecil. Sebaliknya, Rasulullah tak menyukai praktik ibadah umatnya yang dilakukan banyak, tetapi hanya sekali dua kali saja, dan setelah itu tidak dijalankan lagi. Kontinuitas ibadah ini amat penting, karena kontinuitas ibadah membawa dampak kepada perilaku sehari-hari.  

Ketiga, menjaga kontinuitas ibadah harus didasarkan pada komitmen dari setiap jiwa kaum muslimin. Komitmen yang harus dibangun adalah kesadaran bahwa secara fitrah manusia membutuhkan ibadah dan ibadah dalam Islam adalah ibadah yang mengantarkan kehidupan manusia menjadi kehidupan yang sempurna, bahagia di dunia dan di akhirat. Tidak ada satu pun ajaran ibadah dalam Islam yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Jadi, manusia yang senantiasa hidup dalam fitrah adalah manusia yang senantiasa menjaga dan meningkatkan nilai ibadah sepanjang hidupnya, baik sisi kuantitas maupun kualitasnya.

Ramadhan tahun ini hendaklah kita jadikan sebagai momentum untuk membangun komitmen terhadap keberlangsungan ibadah sepanjang hayat. Kita diciptakan Allah hanya semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Wallahu a’alam bissawab.

Editor : bakri
Share on Facebook
Terkait
Tribun Network

Kembali ke Home
Full Site