Turis Nonmuslim Diharuskan Berjubah
Rabu, 2 November 2011 10:59 WIB


OLEH MUHAJIR ISMAIL, Guru SMKN 1 Jeunieb, sedang tugas belajar di UPSI, melaporkan dari Perak, Malaysia
JARUM jam menunjukkan pukul 2 siang. Matahari yang berada di atas kepala terasa menyengat ke seluruh tubuh. Burung saja pun serasa enggan terbang, saking panasnya. Namun, tidak demikian dengan ratusan turis yang sedang berfoto dengan berbagai gaya di halaman Masjid Putra, wilayah Persekutuan Putrajaya, Malaysia.
Sejak didirikan tahun 1999, Masjid Putra yang tampak seakan terapung dalam Danau Putrajaya itu merupakan salah tempat andalan kunjungan wisatawan di Malaysia. “Setiap hari masjid ini dikunjungi sekitar 4.000 turis yang berasal dari berbagai penjuru dunia,” ujar Kepala Keamanan Masjid Putra, Syamsul bin Abdul Rasyid, Senin (25/10).
Masjid Putra terdiri atas satu kubah besar dan delapan kubah kecil. Desain eksterior dan interiornya merupakan perpaduan Melayu dan Timur Tengah. Warnanya merah jambu, sehingga menambah daya tarik tersendiri. Di dalamnya penuh dengan ukiran kaligrafi asma Allah yang mangandung nilai seni menakjubkan, sehingga siapa pun yang masuk ke dalam masjid ini rasanya mendapatkan ketenangan jiwa.
Satu hal yang menarik, masjid yang dibangun dengan dana RM 250 juta (Rp 725 miliar) itu juga terbuka bagi turis nonmuslim. Di gerbang depan mesjid, ada sebuah pos penjagaan. Di situ beberapa pemuda mengenakan baju teluk belanga warna merah hati dengan wajah selalu tersenyum menyambut pengunjung dengan ramah tamah.
Namun, apabila mendapatkan pengunjung lelaki yang menggunakan celana di atas lutut atau perempuan yang mengenakan baju dan celana yang tidak menutup aurat atau pakaiannya menunjukkan bentuk dan lekuk tubuh, maka dengan lemah lembut petugas keamanan mempersilakan orang tersebut ke pos untuk mengambil jubah yang didesian khusus menutupi kepala hingga tumit.
“Kami menyediakan ratusan jubah dalam dua warna, yaitu pink dan biru. Kedua warna ini akan digilirkan penggunaannya setiap hari. Dengan menggunakan jubah, wisatawan nonmuslim bebas menikmati indahnya masjid tersebut. Namun, apabila ingin melihat keagungan masjid dan mengambil gambar dari dalam mesjid, kami telah memberikan garis batasan hanya seukuran 5 x 12 meter dari pintu masjid,” jelas Syamsul.
Membiarkan turis nonmuslim melihat ke dalam masjid, kata Syamsul, bertujuan untuk memperkenalkan Islam kepada nonmuslim. Pengurus mesjid juga menyediakan buku-buku tentang Islam dalam bahasa Inggris. “Ini sebuah fakta yang menarik. Setiap bulannya ada sekitar delapan orang yang memeluk Islam di Perak setelah mengunjungi masjid tersebut,” ungkap Syamsul.
Karena ramainya turis yang berkunjung dan agar tidak mengganggu pelaksanaan waktu shalat, masjid yang berdekatan dengan Kantor Perdana Menteri Malaysia itu diatur waktu berkunjungnnya. Setiap hari dibuka dari pukul 09.00-12.30, pukul 14.00-16.00, dan pukul 17.30-18.00. Sedangkan untuk muslim yang ingin beribadah tidak ada pembatasan waktu.
Masjid Putra yang mampu menampung 8,000 jamaah lelaki dan 2,000 jamaah perempuan itu, selain tujuan utamanya sebagai tempat ibadah dan aneka kegiatan keagamaan, Pemerintah Kerajaan Malaysia juga telah sukses menjadikannya sebagai objek wisata islami karena manajemen dan pengelolaanya tepat dan benar.
Kembali ke dalam negeri, Aceh yang telah ditetapkan sebagai Bandar Wisata Islami, juga memiliki masjid megah, yakni Masjid Raya Baiturrahman. Dulu masjid ini merupakan Masjid Kesultanan Aceh. Tapi sewaktu Belanda menyerang Kota Banda Aceh tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian tahun 1875 Belanda membangun kembali masjid di tempat semula sebagai gantinya.
Selain tujuan utamanya sebagai tempat ibadah, apabila Pemerintah Aceh benar-benar mau menjadikan masjid tersebut sabagai salah satu objek wisata, alangkah indahnya manajemen pengelolaannya meniru Masjid Putra yang telah berhasil mempromosikan Islam yang ramah dan santun kepada ribuan wisatawan mancanegara setiap hari.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com
Editor : bakri
Share on Facebook