Warisan Amanah
Senin, 6 Februari 2012 09:56 WIB
Oleh: Jarjani Usman
“Tidaklah seseorang yang diberi amanah Allah untuk memimpin rakyatnya, sedangkan ia meninggal dunia dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah haramkan baginya masuk surga” (HR. Imam Muslim).
Banyak orang lebih suka mewariskan harta untuk para penerusnya, meskipun Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sebagai orang yang katanya dijadikan sebagai teladan banyak mewariskan sifat-sifat yang baik, antara lain, amanah atau dapat dipercaya. Dalam kisah hidupnya, Rasulullah bahkan menunjukkan bagaimana membangun dan menjaga amanah, baik ketika menjadi anggota masyarakat biasa, maupun ketika menjadi pemimpin umat. Sangat jelas makna dan prakteknya. Terbukti kemudian, menjaga amanah adalah modal yang menggerakkan pribadi, kelompok masyarakat, atau bahkan negara, menuju kemajuan dan kemakmuran.
Namun, warisan dalam bentuk amanah banyak diabaikan orang-orang sepeninggalnya, terutama orang-orang yang diberikan amanah. Ada kekuatiran bila terlalu amanah, harta kekayaan untuk kepentingan pribadi akan sulit diraup selama mengurus rakyat. Kekuatiran ini menyebabkan timbulnya pengkhianatan-pengkhianatan yang menyebabkan kehancuran parah dari tahun ke tahun dalam masyarakat. Bahkan seakan-akan, ketidak-amanahan tidak boleh tidak hadir dalam kepengurusan masyarakat. Karena ketidak-amanahan terus dipelihara, maka berganti kepengurusan masyarakat akan berakibat pada bergantinya sumbat lobang menuju kemakmuran.
Dengan demikian, tidak akan bermakna mengenang bulan kelahiran Rasulullah dengan berbagai acara yang kelihatannya meriah, bila tidak mau mewarisi sifat-sifat Nabi, seperti sifat amanah. Juga akan menjadi sesuatu yang tak bermakna merumuskan program-program yang muluk-muluk dalam suatu kepemerintahan bila amanah tak ingin dijaga. Apalagi Rasulullah semasa hidupnya pernah mengatakan bahwa memperbaiki akhlak manusia, termasuk menjaga amanah, ialah tujuan diutuskannya.
Editor : bakri
Share on Facebook