Selalu Ada Kisah Dramatis Nelayan Kita
Selasa, 7 Februari 2012 10:18 WIB
CERITA terdamparnya nelayan Aceh ke luar negeri, seperti ke India bukan hal mengagetkan. Penyebab terdampar bermacam-macam, ada karena kecelakaan, misalnya boat yang digunakan mati mesin hingga terseret arus atau tertangkap patroli negara tetangga karena tuduhan memasuki wilayah teritorial mereka.
Nama Kepulauan Andaman dan Nikobar di India juga tak asing lagi di kalangan masyarakat Aceh, khsususnya keluarga dan komunitas nelayan. Hampir 20 tahun terakhir, cukup banyak nelayan kita yang berurusan dengan otoritas Andaman and Nicobar Islands yang sering disingkat A & N Islands atau ANI. Kasus terbesar karena tuduhan pelanggaran batas negara. Itu biasanya melibatkan nelayan pemburu hiu.
Selain tuduhan pelanggaran, tak sedikit pula karena musibah, seperti yang dialami tiga nelayan asal Krueng Mane, Aceh Utara yang melaut dari Banda Aceh pada 12 Desember 2011. Boat mereka mengalami kerusakan mesin pada 14 Desember 2011 hingga membentur karang dan tenggelam.
Ketiga awaknya berhasil menyelamatkan diri dengan cara berenang ke daratan Kepulauan Andaman. Mereka ditolong penjaga pantai dan diproses bahkan sempat ditahan di Penjara Port Blair. Untuk kesekian kalinya Kapal Perang RI (KRI) terlibat untuk proses pemulangan nelayan asal Aceh.
Pada tahun 2000, tercatat pemulangan nelayan Aceh terbanyak dari Port Blair, hampir mencapai 200 orang. Mereka terdampar di kepulauan tersebut akibat berbagai kasus dan dalam rentang waktu berbeda. KRI Cut Nyak Dhien dipercayakan oleh pemerintah RI waktu itu untuk misi penjemputan mereka. Waktu itu, wartawan koran ini mendapat kesempatan untuk ikut dalam misi.
Komandan KRI Cut Nyak Dhien punya penilaian tersendiri terhadap nelayan Indonesia, khususnya Aceh. Menurut sang komandan, nelayan kita terkenal berani bahkan cenderung nekat. Karena kenekatan itu pula mereka kadang tak peduli jika wilayah berburu ikan sudah memasuki perairan negara orang.
Pihak keamanan India secara rutin melakukan patroli, namun peningkatan pengamanan tak membuat mereka ciut. Ombak Teluk Benggala yang dikenal ganas malah dijadikan benteng untuk berlindung dari kapal patroli India. Di tebing ombak itulah boat-boat nelayan kita menyelinap sampai akhirnya kapal yang mengejar kehilangan jejak. Benar-benar gila. Begitulah penilaian sang komandan KRI Cut Nyak Dhien waktu itu.
Terlepas dari penilaian keberanian dan kenekatan pelaut-pelaut kita, tetapi yang pasti terulangnya kasus penangkapan oleh pihak keamanan negara lain tentu saja memunculkan berbagai persoalan, termasuk di kalangan keluarga nelayan itu sendiri.
Agar kasus serupa tidak terulang, Pemerintah bersama Lembaga Adat Laot dituntut mencarikan solusi cerdas supaya nelayan kita tidak harus menyerempet-nyerempet bahaya. Mereka memang tak bisa dipisahkan dengan laut, tetapi bekalilah mereka dengan pengetahuan dan fasilitas yang mendukung agar laut benar-benar menjamin kehidupan dan masa depan nelayan kita.
Editor : bakri
Share on Facebook