Sriwijaya Post
home / editorial / salam serambi
Salam

Mengapa Percaya Bisnis MLM?

Kamis, 9 Februari 2012 09:18 WIB
Kasus penipuan dengan modus tawaran bisnis sistem multilevel marketing (MLM) kembali menelan korban di Banda Aceh. Praktik itu dilakoni seorang ibu rumah tangga (IRT), bernama Fitri Handayani (26). Alhasil, wanita muda ini pun ‘sukses’ meraup rupiah dalam jumlah miliaran.

Kini, yang bersangkutan tengah berurusan dengan pihak berwajib guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kapolresta Banda Aceh melalui Kapolsek Kutaraja, AKP Sapri Helmi mengatakan, pihaknya menangkap Fitri Handayani di rumahnya Gampong Merduati, Kecamatan Kutaraja, Sabtu (4/2) sore, setelah sebagian para korban melaporkan kerugian yang mereka derita ke Mapolsek Kutaraja, dan sebagian lainnya mengerumuni rumah tersangka pada hari itu.

“Atas permintaan pihak keluarga, tersangka kami amankan di Mapolsek. Kami sudah memeriksa dua saksi korban, benar Nuraida mengaku mengalami kerugian Rp 150 juta dan Syukri Rp 60 juta. Korban semuanya sekitar 20 orang dengan total kerugian kurang lebih Rp 1 miliar. Para korban lainnya juga akan kami periksa,” jelas AKP Sapri Helmi, (Serambi, 8/2).

Yang jadi pertanyaan bagi kita adalah mengapa begitu mudahnya masyarakat percaya terhadap bisnis tersebut? Padahal, kasus penipuan yang serupa sudah berulang kali terjadi, tidak hanya di Banda Aceh, melainkan merata di seluruh Indonesia.

Hampir setiap saat ada saja media cetak dan eletronik yang mengangkat kasus-kasus tersebut. Hal itu dilakukan media massa dengan tujuan agar menjadi pelajaran bagi masyarakat, sehingga tidak mudah tertipu atas bujuk rayu yang dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dimaksud.

Namun, anehnya semua itu bagai angin lalu di benak masyarakat kita. Padahal, berita-berita yang mengangkat kasus penipuan itu ikut dibaca dan tontonnya berulang-ulang. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang saling mengingatkan untuk tidak percaya terhadap bisnis MLM tersebut.

Berangkat dari berbagai pengalaman korban bisnis MLM, faktor yang menjadikannya ikut bergabung dalam lingkungan itu adalah kerena ingin mendapat materi yang besar dalam waktu yang singkat.

Untuk itu, kita mengingatkan kepada semua pihak bahwa cara-cara berpikir seperti ini adalah keliru, salah, dan juga sesat. Tak mungkin suatu hasil bisa diperoleh dengan cara sim salabin, tanpa harus berkeringat terlebih dahulu.

Ingat, orang yang bekerja keras dan berusaha mati-matian sekalipun belum tentu bisa memperoleh hasil yang maksimal. Konon lagi mempercayai undian berhadiah dari seseorang yang tidak dikenal sama sekali.

Tampaknya hanya akal sehat dan daya nalar yang tinggi yang bisa menyelamatkan seseorang dari aksi penipuan seperti ini. Nah, yang jadi pertanyaan sekarang adalah maukah menggunakan akal sehat tidak?   

Editor : bakri
Share on Facebook
Tribun Network

Kembali ke Home
Full Site