Gaya Marketing Sopir Taksi Negara Jiran
Jumat, 10 Februari 2012 10:18 WIB

OLEH FAUZI UMAR, Ketua Rumoh Aceh Internasional, melaporkan dari Malaysia
PESAWAT Firefly mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Bayan Lepas Pulau Penang, Malaysia, Minggu siang lalu waktu Malaysia. “Alhamdulillah kita sudah sampai di Penang,” seru Rara Shofia, peserta yang lulus tes dan mendapat beasiswa masuk Al-Bukhary Internasional University (AIU) Darul Aman, Kedah, Malaysia. Perjalanan saya kali ini dalam rangka mendampingi dan mengantarkan calon mahasiswa asal Aceh penerima beasiswa Al-Bukhary Internasional University. Mereka adalah Muhammad Yazid, Fakihin, Yusral, Rara Shofia, dan Mukshalmina. Perjalanan dari Penang ke Darul Aman Kedah kami tempuh dalam waktu tiga jam melalui jalan darat yang mulus dan tanpa kemacetan.
Al-Bukhary Internasional Unversity menempati area seluas 45 hektare dengan bangunan berarsitek campuran Timur Tengah dan Eropa. Maka tidak heran, bila memasuki kampus ini, para pengunjung akan terpana menyaksikan replika berbagai arsitektur Islam dari Spanyol, Turkei, Palestina, dan banyak lagi. Di sini juga kita dapat melihat seni ukiran serupa dengan di Masjid Al-Quds Palestina.
Penerima beasiswa untuk masuk AIU berasal dari 25 negara, terutama negara yang penduduknya muslim minoritas dan mengalami konflik, seperti Bosnia, Kosovo, Albania, Myanmar, China, Uzbekistan, Filipina, Sri Lanka, Syiria, Indonesia, dan lain-lain.
Mahasiswa penerima beasiswa tahun 2012 dari Indonesia berjumlah 12 orang, sembilan di antaranya berasal dari Aceh. Proses rekrutmen ini telah lama dijajaki Lukman Age, Chairul Fahmi, Dr Saiful Mahdi, dan Dr Muhammad Subhan yang sekarang menjadi dosen Manajemen Kepelabuhan di Universitas Utara Malaysia (UUM).
Proses rekrutmen ini merupakan hasil kerja sama Rumoh Aceh Internasional (House of Aceh Internasional), The Aceh Institute, dan Lembaga Phi Beta Banda Aceh dengan AIU.
Selama berkeliling di Penang, kami menggunakan taksi sederhana milik Mr Chow. Walaupun taksinya sangat sederhana, namun kemampuan Chow mempromosikan negaranya kepada tamu asing sangat mengesankan. Ia menyampaikan dengan bangga bahwa Kerajaan Malaysia telah berhasil membangun jembatan yang menghubungkan antara Kedah dengan Pulau Penang yang telah selesai dibangun pada tahun 2008 sepanjang 13 km. “Pada tahun ini akan dibangun satu lagi jembatan serupa sepanjang 24 km dengan perkiraan selesai pada tahun 2015. Dengan harapan, masing-masing jembatan akan melayani rute sehala sahaja,” ungkap Chow dengan logat Malaysia.
Sepanjang perjalanan Chow menunjukkan kepada kami sejumlah kawasan industri dan pusat perbelanjaan, kawasan wisata, rumah sakit (hospital), rumah ibadah, kampus, dan lain-lain yang perlu dikunjungi selama berada di Penang.
Kerajaan Pulau Penang maju pesat dan telah memberikan kontribusi pendapatan nomor dua bagi Kerajaan Malaysia setelah ibu kota Kerajaan Kuala Lumpur. Dalam hal kehebatan menggali pendapatan asli daerah (PAD) dan lainnya, Aceh pantas berguru pada Pulau Penang.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com
Editor : bakri
Share on Facebook