Sriwijaya Post
home / citizen reporter
Citizen Reporter

‘Rue Jakarta’ di Maroko

Sabtu, 11 Februari 2012 14:42 WIB
SETELAH menempuh perjalanan melelahkan dari Jakarta, akhirnya saya dan 14 teman dari Indonesia menginjakkan kaki di Maroko, negara yang letaknya di ujung utara Benua Afrika. Kata “Maroko” berasal dari “Marrakech”, nama kota di selatan Maroko. Dalam bahasa Arab, Maroko dikenal dengan Maghribiy, artinya wilayah bagian barat atau tempat terbenamnya matahari.  

Belum pernah termimpikan oleh saya akan bisa menginjakkan kaki di negeri seribu benteng ini. Negara yang beribu kota Rabat ini dikelilingi Samudera Atlantik dan bersebelahan dengan Selat Gibraltar. Uniknya, Maroko walaupun menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi, namun dalam keseharian masyarakatnya paling banyak menggunakan bahasa Prancis.

Hampir dua bulan saya berada di negara yang menggunakan mata uang dirham ini, yaitu sejak 10 Desember 2011. Maroko sebenarnya punya ikatan emosional tersendiri dengan negara kita, Indonesia. Ketika di Maroko saya mendapati nama jalan Rue Jakarta, Rue Bandung, bahkan Rue Soekarno.

Keheranan saya tak hanya sebatas itu, ternyata setelah saya cari informasi, tahun 1960 saat Soekarno berkunjung ke Maroko, Raja Muhammad V pernah memberikan hadiah bagi rakyat Indonesia, yaitu fasilitas bebas visa jika berkunjung ke Maghriby (Maroko).

Selama di Maroko, saya dan teman-teman tinggal di Kenitra, tempat yang hanya 1 dirham ongkosnya jika naik taksi ke Kampus Ibnu Tufail. Di kampus ini kami menuntut ilmu selama tiga bulan.

Setelah satu minggu berada di Kenitra, kekaguman saya dan juga heran kian bertambah, karena ternyata di kota ini ada sebuah masjid sebagai bentuk penghargaan yang diberikan untuk pemerintah dan rakyat Indonesia oleh Kerajaan Maroko, yaitu “Masjid Indonesia”.

Di samping mendapat ilmu selama di Kenitra, saya juga berkesempatan mengunjungi tempat-temapt bersejarah, seperti Maqam Ibnu Bathuthah di Kota Tanger, juga Ifrene, tempat bersalju. Masjid Qurawiyyin adalah masjid pertama yang saya kunjungi. Masjid yang begitu agung dan indah dengan ornamen dan arsitektur yang bersahaja.

Di Rabat (ibu kota Maroko) terdapat sebuah masjid yang dibangun di laut dan memiliki keistimewaan tersendiri. Menaranya tertinggi di dunia, sekaligus merupakan masjid terindah dan terbesar setelah Masjidil Haram dan Masjid Madinah. Masjid itu diberi nama Masjid Hassan II.

Saya dan 14 teman lainnya dari Indonesia, berada di Maroko dikirim Kementerian Agama RI (saya diutus atas nama Pesantren Tgk Syik di Adan Kabupaten Pidie).

Untuk merajut kembali jembatan peradaban Islam Indonesia-Maroko, Kementerian Agama RI mengirim kami ke Universitas Ibnu Tufail, dibimbing menjadi penggerak pesantren Indonesia. Program takhassus ini berlangsung sejak 10 Desember 2011 hingga 10 Maret 2012.

Dubes Indonesia untuk Maroko, H Tosari Wijaya dalam sambutannya pada acara pembukaan pelatihan takhassus, sangat berharap ke-15 peserta ini dapat meningkatkan kualitas pesantren di Indonesia.

Selama berada di Universitas Ibnu Tufail, kami diajari bidang keilmuan takhassus seperti Fikih, Tafsir, Ilmu Hadis, Akidah, Tasawuf, Hukum Islam, bahasa Arab, dan bimbingan penulisan kitab atau karya ilmiah.

Ada hal yang sangat berkesan bagi saya, yaitu saat saya diberi kesempatan menjadi pemateri di Rabat dan juga Tetouan-Maroko untuk rekan-rekan mahasiswa S2 tentang “Dauratu Al-Mar’ah fi Aceh”, (Peran Wanita di Aceh). Bermodalkan kosakata bahasa Arab yang sangat minim ketika saya kuliah S1 di IAIN Ar-Raniry, saya coba memberanikan diri untuk mendampingi dosen saya dari Ibnu Tufail. Alhamdulillah, ini adalah pengalaman istimewa bagi saya yang tak bisa saya lupakan seumur hidup.

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman juga berkesempatan membaca Yasin dan turut mendokan atas kesembuhan istri Dubes RI untuk Maroko, Bapak Tosari Wijaya. Istrinya, Hj Mahsusoh Ujiati sakit pada 2 Desember 2011 dan dirawat dua minggu di rumah sakit. Ternyata Allah berkehendak lain, Hj Mahsusoh dipanggil Sang Khalik pada hari Rabu, 21 Desember 2011 di Rumah Sakit Syaikh Zaid.

Selamat jalan Ibu, semoga baktimu untuk negara Indonesia dan juga kerelaanmu mendampingi suami tercinta di Maroko akan dinilai sebagai ibadah oleh Allah. Amin.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : hasyim
Share on Facebook
Tribun Network

Kembali ke Home
Full Site