Mana Mungkin Tupai Goyang Pohon Kelapa
Kamis, 16 Februari 2012 09:15 WIB
Memang sungguh tidak masuk akal apabila ada orang yang percaya bahwa tupai mampu menggoyang pohon kelapa. Tetapi, dalam berbagai cerita dongeng secara turun temurun, tupai selalu mengaku kepada monyet bahwa dirinya mampu menggoyang pohon kelapa.
Hal itu memang dibuktikan tupai kepada sang monyet, karena mampu memanfaatkan angin yang sedang berhembus kencang di sekitarnya. Manakala angin bertiup, saat itulah tupai langsung mengklaim bahwa dirinyalah yang menyebabkan pohon kelapa tersebut bergoyang.
Untuk meyakinkan monyet tupai pun menarik kuat-kuat pelepah kelapa dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri memeluk pohon kelapa erat-erat. Semakin kuat angin, semakin kencang pula hentakan tangan tupai terhadap pelepah tersebut.
Dan, tupai pun baru berhenti bergoyang ketika angin yang berhembus tadi sudah benar-benar reda. Namun anehnya, sang monyet begitu percaya bahwa tupai memiliki kekuatan yang luar biasa, yakni mampu menggoyang pohon kelapa yang besar itu.
Perumpamaan ini sangat cocok dialamatkan kepada para agen politik yang mengaku mampu mengurus seseorang untuk mendapatkan jabatan tertentu di tubuh pemerintah. Sudah bukan rahasia umum bahwa dalam pekan-pekan terakhir ini begitu banyak agen politik yang berseleweran menawarkan jasanya.
Misalnya, ada mengaku mampu mengurus seseorang untuk diangkat dalam jabatan Pj (penjabat) kepala daerah tertentu. Dan, anehnya si agen tersebut berani mengklaim terhadap lolosnya seseorang untuk ditunjuk menjadi Pj adalah berkat perjuangan.
Padahal, sama sekali tidak ada kontribusi si agen politik tersebut terhadap diangkatnya seseorang untuk jabatan tertentu. Hanya saja secara kebetulan nama yang disetujui Kementerian Dalam Negeri persis sama seperti yang dia jual itu.
Kepiawian si agen dalam memanfaatkan momentum inilah yang kemudian membuat dirinya bisa mengeruk keuntungan materi dan berbagai fasilitas lainnya. Seterusnya ia pun menjadi orang penting di lingkungan si pejabat tersebut, semisalnya ia dengan leluasa bisa mengatur manajemen pemerintah, baik dalam kegiatan pemerintahan maupun bisnis.
Dan, di sinilah biasanya mulai muncul bibit-bibit kerusakan terhadap sistem pemerintahan suatu daerah. Sebab, sesunguhnya si agen tersebut tidak punya niat yang ikhlas untuk membantu seseorang hingga sukses dan selamat sampai ke tujuan. Yang ada di dalam benaknya adalah bagaimana cara ia bisa menikmati keuntungan pribadi yang sebesar-besar.
Untuk itu kita berharap kepada siapa pun kelak yang terpilih menjadi pejabat, termasuk Pj kepala daerah agar berjati-hati. Yakinilah, jabatan yang diberikan itu adalah sebuah kepercayaan yang wajib dijaga, serta bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan Allah Swt.
Editor : bakri
Share on Facebook