"Awalnya kami hanya memperhitungkan durasi, tetapi tampaknya kualitas tidur lebih penting dalam hubungan ini. Kami awalnya tidak tahu kalau Alzheimer tahap awal dapat menyebabkan buruknya kualitas tidur atau sebaliknya. Kemungkinan ada perubahan yang terjadi pada aktivitas otak selama tidur yang menyebabkan cairan amiloid menurun sepanjang malam. Tetapi kami akan meneliti temuan ini lebih mendalam," ungkap Dr Yo-El Ju, asisten profesor neurologi dari Washington University School of Medicine di St. Louis
Dalam risetnya, Yo-El Ju yang juga anggota American Academy of Neurology, memasang peralatan bernama actigraph untuk mengukur tidur para relawan selama dua pekan. Peneliti juga mengukur kadar amiloid beta-42 dalam cairan tulang belakang relawan dan memantau peningkatan Pittsburgh compound B (PiB) selama pemeriksaan melalui alat tomografi.
Hasilnya, 25 persen relawan menunjukan gejala praklinis Alzheimer, yakni hadirnya plak amiloid. Penelitian itu menemukan bahwa orang yang terbangun lebih dari lima kali setiap jam punya kemungkinan lebih besar memiliki plak amiloid. Mereka yang tidurnya "tidak efisien" juga cenderung memiliki plak amiloid ketimbang yang tidurnya lebih efisien. Tidak efisien di sini artinya, waktu terlelap dibagi dengan waktu di tempat tidur nilainya kurang dari 85 persen.
Penelitian ini sedianya akan dipresentasikan pada pertemuan tahunan ke-64 American Academy of Neurology bulan April mendatang.