Sriwijaya Post
home / citizen reporter
Citizen Reporter

Saat Robot Mengoperasi Pasien

Sabtu, 18 Februari 2012 13:59 WIB
MANAKALA kita di Aceh saat ini masih berkutat dengan isu seputar kelengkapan penunjang medis dan ketiadaan dokter untuk operasi, isu medis yang mencuat di New Delhi, tepatnya di Gurgaon, India, justru jauh lebih canggih. Para dokter di sana sedang sibuk membicarakan  apa untungnya operasi menggunakan mesin robot (robotic operation).

Tidak kurang dari 200 dokter dari seluruh dunia, umumnya dari Asia Pasifik, hadir dalam World Congress of Laparoscopi Ketiga pada 13-15 Februari 2012, di Gurgaon, New Delhi. Gurgaon merupakan kota satelit/cybercity yang berjarak 5 kilometer dari New Delhi.

Saya bersama dr Farizal Fadil dari Aceh diundang ke acara ini, karena merupakan alumni dari tempat pendidikan tersebut.

Pembicaraan paling dominan dalam forum bergengsi di Gurgaon itu adalah soal robotic operation. Operasi mengandalkan robot merupakan teknik operasi dengan minimal akses atau minimal sayatan di kulit pasien yang selama ini dikenal dengan operasi laparoskopi.

Beberapa provinsi di India saat ini, seperti New Delhi, Chennai, dan Mumbai menjadi pusat unggulan operasi laparoskopi/robotic. Banyak pasien datang dari luar India, karena biaya yang relatif murah, sekaligus berwisata ke Taj Mahal dan tempat wisata lainnya. India juga terus menjadi pusat pendidikan latihan untuk laparoskopi, seperti World Laparoskopi Hospital di Gurgaon New Delhi, sentra training bagi dokter bedah dan kebidanan selama 15 sampai 30 hari. Lembaga ini telah mendidik lebih 500 dokter bedah ahli laparoskopi dari seluruh dunia.

Dalam operasi laparoskopi standar, akses operasi biasanya dilakukan melalui dua sampai empat sayatan kecil di atas atau di bawah pusat seseorang. Juga di beberapa titik lainnya, tergantung jenis operasi. Kemudian, melalui lubang kecil itulah dimasukkan kamera, sedangkan di lubang buatan lainnya dimasukkan alat-alat bantu operasi. Semua gerakan alat tadi dioperasikan langsung oleh operator yang dibantu oleh asisten untuk memegang kamera dan alat bantu lainnya.

Akan tetapi, pada operasi mengandalkan robot, fungsi tangan manusia diganti oleh empat tangan robot. Ditambah tiga tangan alat bantu operasi serta satu tangan untuk kamera. Lalu semua tangan robot tadi dimasukkan dari lubang kecil seperti berlaku dalam operasi laparoskopi. Pada robotic operation, operator robot maupun dokter duduk beberapa meter dari meja operasi sembari menggerakkan tangan robot dari mesin robotnya (telemanipulator). Semua gerakan ini relatif stabil, sebab diperankan oleh tangan robot, bukan oleh asisten. Inilah salah satunya keunggulan operasi dengan robot, karena lebih nyaman, gerakannya stabil, dan terukur. Gerakan tangan robot ini menyerupai tangan manusia, layaknya dokter yang melakukan operasi secara konvensional, yaitu operasi dengan sayatan besar.

Bila kita tilik sejarah, operasi menggunakan robot telah dimulai sejak 1985 dengan robot PUMA 560 untuk biopsi di otak dengan bantuan Computer Tomografi (CT) scan. Kemudian, tahun 1988 dilakukan dengan Probot untuk operasi kanker prostat. Cara ini mulai berkembang pesat sejak tahun 2003 setelah Davinci mengeluarkan Zeuss Robotic Surgical System. Hampir di seluruh dunia para dokter bedah yang dulunya melakukan operasi bedah dengan laparoskopi mulai beralih ke operasi mengandalkan robot.

Cuma, operasi mengandalkan robot ini biayanya besar. Terutama karena biaya yang diperlukan untuk bahan habis pakai saja bisa mencapai Rp 15 sampai 20 juta. Sedangkan harga Robot Davinci yang terbaru keluaran 2009, senilai 1,75 juta dolar, sekitar Rp 17-18 miliar. Tentu saja menjadi kendala tersendiri bagi negara kita. Apalagi untuk operasi biasa, pihak Askes biasanya menghitung biaya antara Rp 4 sampai 10 juta per orang, termasuk dengan laparoskopi.

Operasi dengan sayatan minimal kecil pada operasi robot atau operasi laparoskopi sangat banyak keunggulannya. Misal, rasa nyeri kurang, karena luka kecil cukup ditutup dengan tensoplas saja. Selain itu, darah yang hilang sedikit, masa rawat di rumah sakit pun singkat. Tak kalah pentingnya, kulit perut tetap mulus. Risiko perlengketan pascaoperasi sangat sedikit dibandingkan dengan operasi konvensional.

Selain itu, pasien bisa pulang dalam 24 jam untuk operasi laparoskopi/robot bagi pasien usus buntu, batu empedu, hernia, kista ovarium, dan hamil di luar kandungan yang belum pecah. Bandingkan dengan jenis operasi besar seperti tumor usus dan kandungan yang tentu saja membutuhkan waktu perawatan lebih dari 24 jam.

Untuk operasi laparoskopi saat ini di Aceh hanya bisa dilayani di RSUZA, termasuk juga dalam layanan Askes dan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Kita berharap dalam waktu lima tahun ke depan operasi dengan robot juga dapat dilakukan di RSUZA, tentu apabila ada dukungan dana yang memadai untuk membeli alat dan training staf.

Tapi apa pun ceritanya, tingkat perekonomian pasien harus tetap diperhatikan, sehingga jangan karena alasan agar operasi aman dan nyaman, tapi timbul masalah kemudian sewaktu pembayaran.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com

Editor : hasyim
Share on Facebook
Tribun Network

Kembali ke Home
Full Site