Sriwijaya Post
home / citizen reporter
Citizen Reporter

Krisis BBM, Gaza Kian Terpuruk

Minggu, 19 Februari 2012 09:29 WIB
Nur Ikhwan Abadi 

Relawan Mer-C, melaporkan dari Gaza


KETIKA disebut Gaza atau Palestina, yang dominan terbayang di benak kita adalah betapa seringnya kekejaman Zionis Israel terjadi di sana. Derita penduduk Gaza seolah tiada henti, setelah diblokade secara ilegal oleh Israel selama dua tahun, dilanjutkan dengan bombardir selama 22 hari oleh Israel. Blokade terus berlanjut hingga kini, bahkan kian hari terasa makin buruk serta menambah penderitaan rakyatnya.

Sebagai relawan yang tinggal satu tahun lebih di Gaza untuk mengawal pembangunan Rumah Sakit Indonesia, kami benar-benar merasakan bagaimana hidup terblokade dari dunia luar. Berbagai krisis melanda, berbagai permasalahan datang bagai tiada henti mendera rakyat Gaza.

Saat ini ada dua krisis utama yang terjadi di Gaza, yakni krisis bahan bakar minyak (BBM) dan krisis listrik. Kedua krisis ini sangat sering terjadi di Gaza sehingga menimbulkan efek berantai terhadap sisi kehidupan rakyatnya.

Dalam dua minggu terakhir, kelangkaan BBM makin parah, antrean kendaraan di depot pengisian BBM makin mengular. Berjam-jam mengantre, namun saat tiba di dekat pom bensin, bahan bakar yang dibutuhkan telah habis. Ini yang dialami oleh tim Mer-C Gaza saat mengantre di sebuah depot pengisian minyak. Saat itu kami mengantre bersama penduduk Gaza. Tapi ketika berjarak 2-3 mobil lagi ke tempat pengisian, tiba-tiba BBM dilaporkan habis dan depot pun ditutup.

Di sisi lain, krisis listrik tak kalah menyebabkan penderitaan yang berat bagi penduduk Gaza maupun pendatang yang berkunjung ke sini. Tahun 2010 saat pertama kali kami datang ke Gaza, pemadaman listrik terjadi setiap delapan jam. Delapan jam hidup, delapan jam mati, begitu seterusnya. Kejadian ini berlanjut setiap hari di Gaza. Tapi kini krisis listrik bertambah parah, seiring langkanya stok BBM, sehingga Gaza kala malam lebih sering gelap gulita.

Kebutuhan 2/3 listrik di Gaza yang disuplai dari satu-satunya generator di Gaza telah berhenti beroperasi pada hari Selasa lalu, karena terbatasnya stok BBM. Dalam satu hari hanya enam jam listrik menyala dan 18 jam mati. Menyalanya pun hanya sejak pukul 06.00 sore hingga 12.00 tengah malam.

Tidak terbayang bagaimana menderitanya pasien rumah sakit, terutama mereka yang berada di ruang intensive curative unit (ICU) yang membutuhkan alat-alat berbasis listrik untuk menyambung hidup mereka. Direktur Teknik Departemen Kesehatan Gaza, Ir Bassam menyatakan seperti dikutip Maannews bahwa dalam satu jam kebutuhan BBM untuk menghidupkan listrik di seluruh rumah sakit di Gaza adalah 815 liter. Artinya, dalam sehari perlu sekitar 19.560 liter BBM untuk kebutuhan generator rumah sakit.

Sektor pendidikan pun tak luput dari krisis ini. Anak-anak yang belajar pada malam hari pun akan terganggu, karena tidak ada penerang akibat putusnya jaringan listrik. Pabrik-pabrik yang memproduksi roti dan makanan juga tidak luput dari krisis ini. Beberapa pabrik sempat kesulitan menjalankan produksinya karena kekurangan bahan bakar.

Sebuah sumber dari pusat hak asasi manusia di Pelestina menyebutkan, kebutuhan BBM setiap harinya untuk menghidupkan listrik di Gaza sebesar 600.000 liter. Tapi sejak Jumat (10/02) lalu BBM yang masuk ke Gaza melalui Mesir hanya 340.000 liter, sementara itu tidak ada cadangan BBM yang mencukupi di Gaza.

BBM yang berasal dari terowongan antara perbatasan Rafah dan Mesir ini menjadi sangat terbatas, karena ada pembatasan pengiriman dari pihak Mesir. Beberapa sumber di Gaza menyebutkan, pembatasan ini akibat adanya permintaan dari pihak penyuplai BBM dari Mesir untuk menaikkan harga BBM. Di Gaza harga BBM untuk jenis solar adalah 2,5 sheqel atau setara dengan 6.250 rupiah per liter. Sedangkan untuk jenis bensin super seharga 4 sheqel atau setara 10.000 rupiah per liter. Dari harga tersebut para penyuplai BBM via terowongan menginginkan kenaikan sebesar 0,5 sheqel per liternya.

Sementara pihak pemerintah setempat telah melakukan berbagai langkah koordinatif dengan pihak otoritas Pemerintah Mesir agar krisis ini segara dapat diatasi.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri
Share on Facebook
Tribun Network

Kembali ke Home
Full Site