Sriwijaya Post
home / citizen reporter
Citizen Reporter

Merangkai Damai di Jepang

Senin, 20 Februari 2012 10:31 WIB


OLEH JABAL ALI HUSIN SAB, Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik FISIP Unsyiah dan Analyst IDEAS, melaporkan dari Osaka

BERITA penting itu akhirnya datang juga. Pusat Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik (Centre for Peace and Conflict Resolution Studies/CPCRS) Universitas Syiah Kuala, partner kerja sama dalam Exchange Student Program yang diselenggarakan Osaka School of International Public Policy (OSIPP) Osaka University, Jepang, pertengahan Januari lalu mengumumkan bahwa saya terpilih untuk ikut dalam program pertukaran mahasiswa ke Jepang.

Setelah serangkaian persiapan, mulai dari pengurusan izin di fakultas dan visa di Konsulat Jenderal Jepang di Medan dan asuransi, maka saya dan Husna Sartika (dari Fakultas Hukum Unsyiah) terbang ke Jepang via Jakarta dan Bali.

Seharusnya kami tiba Minggu pagi 12 Februari di negeri Sakura itu. Tapi karena pesawat Garuda (GA) delay sejak di Banda Aceh dan Jakarta, maka kami telat tiba di Bali, sehingga tak berhasil naik ke GA yang terbang ke Osaka pada tengah malam Minggu tersebut.

Esoknya kami diinapkan di sebuah hotel di Bali, sampai kemudian take off dari Ngurah Rai tengah malam Senin. Tiba di Kinsai Airport Osaka, Jepang, pada pagi Senin, 13 Februari 2012.

Melelahkan memang. Namun, meski saya belum selesai mengikuti program di Osaka dan Hiroshima, semua kelelahan itu seperti terbayarkan. Program ini relatif sangat eksklusif bagi mahasiswa. Meskipun singkat, tapi lengkap. Pesertanya berasal dari beberapa kampus di Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, Kamboja, Thailand, Timor Leste, dan kami mewakili Indonesia, ditambah beberapa mahasiswa asal Taiwan dan Korea Selatan.

Sangat menarik karena kami bisa berinteraksi dengan mereka. Kami saling bercerita tentang negara masing-masing. Berdiskusi mengenai situasi sosial politik di masing-masing negara dan membicarakan kemungkinan upaya mempererat hubungan antarnegara Asia di masa yang akan datang.

Cuaca di Osaka sendiri saat kami sampai sangatlah dingin. Berkisar antara 4 sampai 10 derajat Celsius. Tak heran jika saat sebelum berangkat, pihak OSIPP Osaka meminta kami menyiapkan pakaian musim dingin, syal, sarung tangan, dan perlengkapan lain seperti pelembab bibir (lips gloss), krim tangan dan badan untuk menghindari keringnya kulit mengingat musim dingin tergolong kering.

Meski begitu, pihak OSIPP juga telah menyiapkan berbagai perlengkapan ini di Osaka. Semua itu menunjukkan perhatian dan tanggung jawab yang besar dari pihak penyelenggara.

Program di OSIPP berlangsung lima hari (Senin 13/2-Jumat 17/2) berbentuk kuliah kelas atau kuliah umum, dilanjutkan dengan diskusi. Rasanya memang beda saat kita mendengar kuliah pada level tinggi. Pihak OSIPP menghadirkan beberapa tokoh yang terlibat aktif dalam mempromosikan Human Security. Misalnya, Koichiro Matsuura, mantan direktur jenderal Unesco dan Kazuo Tase, mantan staf Kantor Pusat PBB untuk Bidang Human Security. Selain itu dihadirkan pembicara dari akademisi berbagai universitas di Jepang. Tema pokoknya adalah mempromosikan Human Security, sebuah konsep keamanan yang bertujuan untuk melindungi hak dan kebebasan vital setiap individu dari berbagai ancaman dan situasi.

Selain mendengarkan kuliah umum, kami berkesempatan belajar merangkai bunga, seni yang terkenal di Jepang dengan nama ikebana. Ikebana (seni merangkai bunga khas Jepang) ini mulanya merupakan persembahan bunga untuk para dewa dan Budha. Kegiatan ini dipandu oleh para pengajar dari Misho School of Ikebana, sekolah yang mengajarkan tradisi merangkai bunga sakura ini.

Seni ini memiliki nilai filosofi tersendiri. Masing-masing pangkal dan ujung merupakan penghubung surga dengan alam yang tidak terbatas dan dinamis, juga bumi yang mewakili empat musim dengan alam yang statis. Sudut kanan dan kiri merupakan keseimbangan antara yin (negatif atau gelap) dan yang (positif atau terang).

Selain terkenal karena kemajuan teknologi dan perekonomiannya, juga peran pentingnya di dunia dalam mempromosikan perdamaian. Jepang pun memiliki nilai kebudayaan yang tinggi dan nilai-nilai historis yang tidak mudah dilupakan. Ini menunjukkan kebesaran sebuah bangsa. Aceh yang memiliki khazanah budaya yang mengagumkan hendaknya kita pelihara hingga pada masa yang akan depan. Dengan menghargai budaya dan nilai-nilai sejarah, di situlah kita dapat belajar menjadi sebuah bangsa yang besar, seperti bangsa Jepang saat ini.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri
Share on Facebook
Tribun Network

Kembali ke Home
Full Site