Geliat Islam di Speyer Jerman
Selasa, 21 Februari 2012 10:12 WIB

OLEH HERU FAHLEVI, Pengurus Kajian Islam Online Student-Ikatan Mahasiswa Aceh di Jerman (KIOS-IMAN), melaporkan dari Jerman
SPEYER adalah salah satu kota tua penuh sejarah di Jerman. Kota ini terletak di pinggiran Sungai Rhine dan masuk ke wilayah administrasi Negara Bagian Rheiland-Palatinate. Kota kecil yang penuh sejarah ini dibangun oleh Kekaisaran Romawi sekitar Abad X Sebelum Masehi. Penduduknya kini sekitar 50.000 jiwa.
Objek wisata utama kota tua ini adalah sebuah katedral tua (Speyer Cathedral) yang dibangun sekitar Abad XI dan merupakan salah satu simbol penting (sejarah) kekristenan di Jerman. Selain Katedral Speyer, di kota ini juga dijumpai dua gereja besar lainnya yang menggambarkan kuatnya dominasi dan pengaruh Kristen di wilayah tersebut.
Di antara kemegahan gereja-gereja dimaksud, terdapat dua masjid kecil yang menjadi tempat peribadatan utama muslim di kota ini, yaitu Masjid Fatih dan Masjid Ayasofya. Masjid Fatih didirikan sekitar 50 tahun lalu oleh masyarakat Turki. Ketika kita bicara masjid di Jerman, jangan bayangkan sebagai sebuah bangunan besar dengan menara tinggi ataupun kubah setengah lingkaran. Masjid di Jerman umumnya berbentuk seperti bangunan lainnya, kecil dan letaknya agak “tersembunyi”, sehingga susah menemukannya jika kita tak memiliki alamat yang lengkap atau rajin bertanya kepada muslim setempat.
Namun, sering kali jumlah jamaahnya lebih besar daripada kapasitas masjid tersebut, khususnya ketika shalat Jumat berlangsung.
Masjid Fatih adalah masjid pertama di Kota Speyer. Pada mulanya masjid tersebut terletak di tengah kota dan mampu menampung lebih kurang 120 jamaah. Kapasitas tersebut terhitung relatif kecil karena jumlah muslim di Speyer berkisar 2.000 orang. Di masjid ini, khutbah Jumat dan pengajian disampaikan dalam bahasa Turki karena mayoritas jamaahnya adalah warga Turki yang tidak semua bisa berbahasa Jerman.
Alhamdulillah, sejak awal tahun ini masjid tersebut sudah dipindah ke sebuah bangunan baru yang lebih luas, sehingga dapat menampung lebih banyak jamaah. Masjid ini merupakan masjid Kota Speyer yang mendapatkan dukungan dana dari pemerintah setempat.
Masjid Ayasofya terletak persis di sebelah stasiun kereta api Speyer. Masjid ini didirikan oleh sebuah paguyuban Turki sekitar dua tahun lalu. Bahasa Jerman menjadi bahasa “resmi” di Masjid Ayasofya karena jamaah masjid tersebut datang dari berbagai belahan dunia, seperti Tunisia, Saudi Arabia, Bosnia, Pakistan, dan tentu saja Indonesia. Menurut imam sekaligus ketua pengurus masjid tersebut, Murat Bingöl, Masjid Ayasofya memposisikan diri sebagai masjid multietnik, multibudaya, dan multimahzab. “Masjid ini tidak boleh merepresentasikan budaya, negara, atau mahzab tertentu saja, karena yang menjadi satu-satunya titik temu dan kesamaan di masjid ini adalah Alquran dan sunnah Rasullullah saw,” ujar pria paruh baya ini.
Masjid yang berukuran tidak lebih dari 45 meter persegi itu, memiliki dua ruangan, yaitu ruang shalat dan ruang belajar untuk siswa. Meski kecil, peran Masjid Ayasofya sebagai pusat informasi dan pendidikan Islam di Speyer tidak kalah penting dengan Masjid Fatih.
Selain kegiatan shalat berjamaah, masjid ini juga memiliki program pendidikan Islam bagi anak-anak dan dewasa. Setiap Minggu siang, misalnya, anak-anak multikewarganegaraan berkumpul untuk mengikuti kelas membaca Quran serta mempelajari akidah dan fikih. Istri saya dan istri sang imam menjadi tenaga pengajar di kelas tersebut. Anak-anak tampak begitu antusias ketika mengetahui bahwa ada guru baru dari Indonesia, walaupun kadangkala bahasa “isyarat” mesti digunakan dalam kelas karena istri saya belum terlalu lancar berbahasa Jerman.
Tidak itu saja, masjid ini juga menjadi pusat informasi Islam bagi penduduk sekitar. Dalam beberapa kesempatan ada orang Jerman yang datang sekadar untuk bertanya sekaligus memperhatikan bagaimana cara orang Islam shalat. Guna mendukung program syiar Islamnya, masjid ini menyediakan brosur, buku tentang Islam, dan Alquran berbahasa Jerman yang diperuntukkan bagi para warga yang tertarik pada Islam.
Kehadiran kedua masjid tersebut di kota ini tidak hanya memberi kesempatan kepada kaum muslim Speyer untuk shalat berjaamah dan belajar Islam bersama, tetapi juga telah meretaskan jalan bagi dakwah Islam di kota yang penuh sejarah kekristenan ini. Pelan tapi pasti, Islam makin menggeliat bahkan telah menjadi warna baru dalam kehidupan warga Jerman pada umumnya dan Kota Speyer pada khususnya.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com
Editor : bakri
Share on Facebook