Rusa di Jepang Makan Kertas
Rabu, 22 Februari 2012 10:38 WIB


OLEH HUSNA SARTIKA, Mahasiswa Fakultas Hukum Unsyiah, melaporkan dari Jepang
LULUS dalam seleksi Pusat Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik (Center for Peace and Conflict Resolution Studies-CPCRS) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) pada The Japan-Short Term Study Program, telah membawa saya menikmati kesempatan berharga di Osaka University, Jepang, selama seminggu. Kemudian dilanjutkan ke Hiroshima.
Kota yang saya sebut terakhir ini pasti sangat lekat dalam ingatan kita. Ya, bom atom pertama dalam sejarah modern manusia, dijatuhkan di atas kota tersebut pada pukul 08.15 tanggal 6 Agustus 1945. Di Hiroshima, saya dan kawan-kawan dari beberapa negara Asia lainnya tinggal selama tiga hari.
Kunjungan ke Hiroshima University adalah aktivitas kami yang pertama. Kami disambut dengan cara sangat ramah, khas Jepang. Di samping berkenalan, mereka juga menerangkan tentang Hiroshima pada umumnya dan Hiroshima University pada khususnya disertai dengan sejumlah brosur.
Dari Hiroshima University kami kemudian check in di Hotel New Tachibana. Rasa lapar menyergap. Untungnya Yoko Kawano dari Osaka School of International Public Policy (OSIPP) yang menemani kami sejak dari Osaka, sudah menyiapkan program makan malam langsung di hotel.
Sebagai muslim, saya dan Jabal Ali Husin (mahasiswa FISIP Unsyiah) mendapat perlakuan khusus. Begitu masuk restoran, plakat bertuliskan nama kami berdua sudah diletakkan di atas meja. “Agar saya bisa memastikan Anda makan makanan halal!” kata Yoko berargumen.
Yoko mengatakan bahwa menu spesial halal itu terhidangkan selama kami berkunjung di Hiroshima. Alhamdulillah.
Hari kedua di Hiroshima, kami mengunjungi Hiroshima Peace Memorial Museum & Peace Memorial Park. Lama kunjungan 2,5 jam. Park (taman) ini sangat asri dan luas. Bangunan museumnya sangat modern, berisikan informasi dalam bentuk video, audio, dan diorama. Sedih, perasaan tercekat, dan bergidik saat menyaksikan diorama di hampir setiap sudut museum. Saya jadi tahu mengapa kita semua harus anti pada bom nuklir, bom tanpa hati, menewaskan siapa pun tanpa kecuali.
Masih lelah tapi tetap bersemangat, saya dan rombongan berkunjung ke Pulau Miyajima, salah satu dari World Cultural Heritage (Warisan Dunia yang ditetapkan Unesco). Letak pulau ini sekitar dua jam perjalanan dengan bus dari Hiroshima. Untuk tiba di pulau itu, kami naik kapal feri kira-kira sebesar KM Rondo jika kita ke Sabang. Tapi perjalanan dengan feri hanya sekitar 10 menit!
Setelah mendarat di pulau, kami berjalan kaki melewati semacam perkampungan asli Jepang dan toko-toko yang menjual souvenir. Jalan di pulau ini tetap dibiarkan berpasir, sampai kami tiba di Istana Miyajima, warisan dunia tadi.
Pemandangannya sangat indah. Kita bisa melihat ke laut lepas di mana sebagian pintu gerbang tenggelam digerus pasang laut. Rusa-rusa berkeliaran, jinak. Kami dapat mengambil foto sambil mendekat pada mereka. Hebatnya, rusa-rusa ini suka makan kertas. Jadi, kalau kita sampai ke tempat ini, maka harus berhati-hati agar kertas-kertas atau dokumen penting tidak sampai dimakan oleh rusa-rusa itu. Kelelahan saya terbayar sudah pada hari kedua di Hiroshima.
Hari ketiga, saya mengikuti kuliah tentang Nuclear Weapon Free by 2020 Activities of Mayors for Peace and Role of Citizen yang disampaikan oleh Prof Akiba Tadatoshi di Hiroshima University. Inti kuliahnya adalah tentang bom Hiroshima, juga bagaimana dunia ini bebas dari senjata nuklir pada tahun 2020 dengan membuat sebuah perjanjian yang ditandatangani oleh negara-negara yang ada di dunia serta bahasan yang lain yang berkaitan dengan judul tersebut.
Selesai kuliah, kami mengunjungi the Graduate School for International Development and Coopertation (IDEC). Lucunya, sebagian dari mereka yang di IDEC, meski ada yang sudah dua tahun di sana, tapi belum pernah berkunjung ke Pulau Miyajima. Kami pun kemudian diminta menjelaskan ABC-nya pulau yang kami kunjungi pada hari kedua itu. Kerja ekstra, pikir saya. Tapi secara keseluruhan, kunjungan ke Osaka dan Hiroshima suungguh-sungguh sudah membuat saya belajar lebih banyak lagi tentang arti kehidupan, pengetahuan, persahabatan, dan keramahtamahan. Tentu saja kedisplinan. Jepang bisa bangkit dari kehancuran, mulai dari bom atom, gempa bumi dan tsunami, karena kokohnya persatuan dan kedisiplinan itu. Saya yakin, Aceh pun akan bergerak maju ke arah sana, insya Allah.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com
Editor : bakri
Share on Facebook