Pesantren Markaz Al-Ishlah Al-Aziziyah (2-habis)
Dulu Aktivis, Kini Ayah bagi Yatim Korban Konflik
TEUNGKU Tu Bulqaini Tanjongan, bukanlah sosok yang asing bagi sebagian masyarakat Aceh
Saat itu, ia bersama sejumlah aktivis kemanusiaan lainnya, gencar menuntut keadilan bagi korban konflik yang dituduh makar tanpa proses pengadilan. Termasuk menuntut digelarnya pengadilan koneksitas pertama di Indonesia terhadap kasus pembunuhan massal Tgk Bantaqiyah dan para santrinya, di kawasan Beutong Ateuh.
Di tahun 1999-2003, ia menjabat sebagai Ketua Rabithah Taliban Aceh. Di organisasi tersebut, ia aktif mendorong tegaknya syariat Islam di bumi Serambi Mekkah.
Setelah malang melintang di dunia pergerakan, kini ia menjadi ayah bagi 150 anak yatim korban konflik di Aceh. Para anak yatim itu ia bina di Pesantren Markaz Al-Ishlah Al-Aziziyah yang didirikannya sembilan tahun lalu.
Kepada Serambi ia mengisahkan, di awal pesantren ini berdiri, setiap hari ia harus mengantar-jemput satu per satu santrinya ke sekolah-sekolah umum. Itu karena pesantren ini belum memiliki fasilitas dan tenaga pengajar yang memadai. “Baru beberapa tahun ini kami bisa mendirikan Mts dan MA untuk menyesuaikan dengan kurikulum Depag. Sehingga para santri tidak perlu lagi sekolah ke luar pesantren,” ujarnya.
Selama Ramadhan, anak-anak yatim itu pun lebih banyak diarahkan kepada kegiatan bimbingan rohani yang dapat memberi ketenangan bagi jiwa mereka yang labil. Melihat kekhusyukan mereka saat membaca doa untuk orang tuanya, menunjukkan besarnya harapan agar doa yang mereka ucapkan sampai kepada orang yang mereka sayangi.
Dengan dana pesantren yang sangat terbatas, Tgk Tu Bulqaini berharap bisa membelikan baju lebaran bagi para anak yatim yang diasuhnya. “Saya sedih sekali jika tak bisa memberikan mereka baju lebaran, seperti layaknya anak-anak lain seusia mereka. Kami berharap ada pihak-pihak yang mau menyumbangkan sedikit hartanya untuk membahagiakan anak-anak yatim ini,” ungkapnya.(th)