Dayah Terpadu An-Nur Bener Meriah (3-habis)
Ustadz-Ustadzah Bergelar Master
Tgk H Zainal Abidin SPdI, pendiri dayah terpadu An-Nur yang terletak di Kampung Tingkem Asli, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah
Bagaimana tidak, dalam era globalisasi saat ini, pondok pesantren ini telah memiliki 28 ustadz-ustadzah yang sebagian besar meraih gelar master (S2) dari Universitas Al-Azhar Mesir, India dan berbagai perguruan tinggi di dalam negeri. Diantaranya, Tgk H Asmadi Lc MTh, Tgk H Sahlan Suhada Lc MTh, Tgk Muhajir SPdI MHum, Tgk Ismet Nur SPdI MA dan sejumlah ustadz-ustadzah tamatan dalam negeri.
Pada awalnya, Zainal menilai jumlah ulama di Aceh makin berkurang, ditambah dayah juga minim, khususnya di Bener Meriah, dulunya di bawah Aceh Tengah. Kemudian, dia bertekad mendirikan Dayah Terpadu An-Nur dengan tujuan mencetak ulama yang berkualitas dan mampu menyerukan manusia ke jalan yang benar.
Sejak zaman Belanda, Kampung Tingkem yang dikenal dengan sebutan Kampung Telong Bidin sudah pernah ada lembaga pendidikan dan pondok pesantren. Kini, Dayah Terpadu An-Nur mendidik para santri dari Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Medan dan Tapanuli, Sumatera Utara. Sementara banyak santri daerah terpecil berasal dari Kampung Samarkilang dan Rusip Kabupaten Bener Meriah dan Kampung Jamat Kecamatan Linge Aceh Tengah belajar di dayah ini.
Zainal Abidin merupakan putra asli Kampung Tingkem yang juga tokoh masyarakat Gayo yang juga merintis pembangunan dayah terpadu itu. Dia menetapkan tiga poin utama yakni mencetak ulama yang amilin (ulama yang mengamalkan ilmu), ulama yang menyerukan manusia untuk bertaqwa (Imamal Muttaqin) dan ulama yang mampu mengajak orang lain untuk bertaqwa.
Tetapi, fokus utama saat masih belajar di dayah, mencetak pribadi yang bertaqwa (Muttaqin). Dalam proses belajar mengajar, Dayah Terpadu An-Nur memadukan antara ilmu Agama Islam, ilmu umum dan sains. Di samping membina santri dayah, lembaga pendidikan itu juga membina Madrasah Tsanawiyah (MTs) di lingkungan Dayah Terpadu An-Nur.(jalimin)