Di Kobe, Khatib Harus Dapat Izin Polisi
TERBANG dari Kuala Lumpur, pesawat yang kami tumpangi akhirnya turun di Bandar Udara (Bandara) International Kansai Osaka
TERBANG dari Kuala Lumpur, pesawat yang kami tumpangi akhirnya turun di Bandar Udara (Bandara) International Kansai Osaka. Bandara ini berada di pulau buatan yang dibangun di tengah laut. Otomatis, pemandangannya sangat menakjubkan.
Kemudian, dari Bandara Kansai Osaka kami naik bus menuju Kobe. Saya mampir di Kobe saat menuju Kyoto dalam rangka memenuhi undangan International Conference on Sustainable Future for Security (SUSTAIN) 2011, di Kyoto University, 7-11 Oktober 2011.
Begitu ke luar bandara, banyak hal yang bagi saya menarik. Misalnya, pengaturan trasportasi darat yang begitu tertib dan teratur. Hampir tak kita dengar sekalipun orang yang membunyikan klakson, karena tak sabaran saat berlalu lintas.
Kota Osaka yang saya lalui saat menuju Kobe juga cukup menakjubkan. Tergambar jelas bahwa ini adalah sebuah kota zona industri yang maju, menyerupai zone industri seberang perai Pulau Penang Malaysia, tempat saya sedang mengambil program doktor.
Berjalan menyusuri Kota Kobe yang hancur akibat gempa 1995, banyak hal menarik perhatian saya. Selama di Kobe, saya ditemani Fakhrurrazi yang juga Dosen Teknik Kimia FT Unsyiah, sama seperti saya. Tapi ia kuliah S3 di Kobe University. Ia membawa saya ke kampusnya yang begitu nyaman dan bersih. Cuaca saat itu dingin karena sedang musim semi. Lagi pula kampus ini berada di perbukitan.
Setelah mengunjungi Kampus Kobe, pada hari selanjutnya saya ditemani Razi--begitu ia biasa disapa--ke tempat-tempat wisata bekas daerah deraan gempa. Di antaranya, kawasan Harbor Land. Kami mampir di Resto Fisherman Mosain.
Kemudian, karena bertepatan dengan hari Jumat, maka kami berjalan menuju masjid bersejarah di Jepang. Disebut bersejarah, karena inilah masjid pertama dibangun di Jepang oleh para pendatang dari Arab pada tahun 1940-an. Menurut catatan, pada Perang Dunia II, masjid ini tidak terkena imbas bom saat Hiroshima dan Nagasaki dibombardir Amerika bersama sekutunya. Menariknya lagi, masjid ini juga tidak rusak oleh goyangan gempa yang menghancurkan Kobe pada tahun 1995. Padahal, di sekeliling masjid itu semua gedung rusak.
Saat shalat Jumat di masjid ini, jamaahnya ramai. Umumnya pelajar Indonesia, Arab, dan hanya sedikit penduduk Jepang yang muslim.
Sebelum shalat Jumat dimulai, datang sejumlah polisi (pasukan bela diri) Jepang yang mengenakan jas. Mereka memantau dan mengamankan pelaksanaan shalat Jumat sejak jamaah berwudhuk hingga Jumatan berakhir. Pas khatib naik mimbar untuk memulai khutbah sampai shalat Jumat ditunaikan, regu kopolisian tersebut setempak ke luar dari dalam masjid.
Izin polisi
Menariknya lagi, sebelum naik ke atas mimbar, khatib lebih dulu mendatangi kepala regu polisi tersebut untuk memohon izin menyampaikan khutbah. Setelah disetujui melalui isyarat anggukan, barulah khutbah menyampaikan khutbah Jumat.
Kebetulan, khutbah Jumat pada tanggal 7 Oktober lalu itu disampaikan oleh khatib keturunan India. Isi khutbahnya cukup singkat, tapi mampu menggugah batin para jamaah.
Seusai shalat Jumat, jamaah saling berjabat tangan. Kemudian, saya bertanya kepada seorang jamaah asli Jepang tentang sejarah masjid tersebut, juga tentang pelaksanaan shalat fardhu lima waktu di masjid itu. Begitu saya perkenalkan diri berasal dari Aceh, pria tua itu langsung menyatakan bahwa dia kenal Aceh, sebagai kota yang juga didera tsunami dahsyat pada tahun 2004.
Menurutnya, apa yang dirasakan masayarakat Aceh pada tahun 2004 itu juga pernah dialami warga Kobe saat gempa 5,9 skala Richter mengguncang kota itu.
Saya kemudian dibawanya ke sebuah sudut masjid. Ia perlihatkan foto-foto dan catatan sejarah berdirinya masjid pertama di Jepang tersebut. Kakek ini menyatakan bahwa masjid ini adalah rumah Allah yang kekuatannya sudah teruji oleh getaran bom atom pada Agustus 1945 dan juga tidak rusak akibat goyangan gempa dahsyat di Kobe 50 tahun kemudian (1995).
Kakek itu juga mengaku ada menonton tayangan televisi bahwa saat gempa dan tsunami menggempur sebagian wilayah Aceh tahun 2004, juga sangat banyak masjid yang selamat. “Ini bukti lain dari kuasa Allah. Rumah Allah tetap terpelihara dari bencana,” ujarnya. Saya mengangguk-angguk ketika ia berkata begitu. (*)
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com