Rabu, 8 April 2026

SDLB Negeri Susoh

Sekolah Penyandang Cacat yang Butuh Perhatian

PENDIDIKAN adalah hak semua warga negara, tidak terkecuali bagi penyandang cacat. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Negeri Susoh

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Sekolah Penyandang Cacat yang Butuh Perhatian
Dua murid SDLB Negeri Susoh, Abdya sedang bermain di halaman sekolah.SERAMBI/ZAINUN YUSUF
PENDIDIKAN adalah hak semua warga negara, tidak terkecuali bagi penyandang cacat. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Negeri Susoh Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) adalah satu-satunya sarana pendidikan tingkat dasar yang diperuntukkan bagi anak-anak yang  punya kelainan di wilayah pantai barat selatan Aceh.

Sekolah luar biasa ini berdiri sejak 1 September 1983, saat Kabupaten Abdya masih bagian dari Kabupaten Aceh Selatan. Hingga memasuki usia 28 tahun saat ini, SDLB yang berlokasi di pinggir jalan raya Desa Pawoh, Kecamatan Susoh itu belum mendapat perhatian secara luas dari masyarakat, maupun pemerintah sehingga terkesan seperti “hidup segan mati tidak mau”.

Kurang perhatian masyarakat  dapat dilihat dari jumlah murid hanya 52 orang belajar dari kelas I sampai VI. Mereka belajar di empat jurusan, cacat mata (jurusan tuna netra) 3, cacat bisu (jurusan tuna rungu wicara) 13, cacat fisik (jurusan grahita) 30, cacat tubuh (jurusan tuna daksa) serta jurusan autis (agresif) 3 orang.

Dari 52 murid luar biasa tersebut, menurut Kepala SDLB Negeri Susoh, Murniati SPd, hanya 5 murid di antaranya berasal dari Kabupaten Aceh Selatan dan 1 orang dari Kabupaten Nagan Raya. Padahal, katanya, berdasarkan hasil survei yang dilaksanakan  di beberapa tempat di Kabupaten Abdya diketahui masih banyak anak-anak yang menyandang kelainan (cacat) usia sekolah dasar, namun dibiarkan tinggal di rumah oleh orangtuanya.

Kurangnya perhatian pemerintah terhadap perkembangan SDLB Negeri Susoh, seperti fisik bangunan yang dibangun sejak 1983 sebanyak sembilan ruangan belum ada perubahan. Perhatian  baru dirasakan tahun anggaran 2011, dimana Pemkab Abdya mengalokasikan  dana rehap empat dari sembilan lokal SDLB Negeri Susoh. Di samping itu, Dirjen Pendidikan Luar Biasa Kemendiknas juga membantu dana rehab tahun 2011.    

Kondisi asrama juga sangat memprihatinkan. Seperti kamar mandi/WC, tempat tidur, perabotan  dan peralatan memasak. “Merasa prihatin, ada salah seorang wali murid dari Tapaktuan Aceh Selatan membantu membangun satu kamar mandi dalam asrama,” ungkap Murniati yang sudah tercatat sebagai guru SDLB Susoh sejak 1986.

SDLB Negeri Susoh saat ini didukung 10 guru, dua di antaranya tenaga honor. Dari delapan guru PNS, hanya lima guru khusus, termasuk kepala sekolah. Masing-masing guru jurusan tuna netra 2, guru tuna rungu dan guru jurusan tuna daksa masing-masing 1 orang. Sehingga setiap guru  mengajar di semua jurusan.

Soal kekurangan tenaga guru khusus di SDLB Susoh sangat mendesak diperhatikan. Bila tidak, setelah guru yang ada menjalani masa pensiun, maka tidak ada lagi guru khusus yang memang langka.(zainun yusuf)  

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved