Hati-hati! Katakan 'Butuh' di Malaysia
BAGI yang baru pertama sekali melancong ke Malaysia, berhati-hatilah menggunakan bahasa. Meskipun serupa namun bahasa Melayu yang kita
BAGI yang baru pertama sekali melancong ke Malaysia, berhati-hatilah menggunakan bahasa. Meskipun serupa namun bahasa Melayu yang kita tuturkan memiliki banyak perbedaan. Terkadang mendatangkan masalah tersendiri dalam komunikasi. Hal ini terungkap dari beberapa pengalaman kawan-kawan Mahasiswa asal Indonesia yang kini sedang menimba ilmu di sana.
Jangan berfikir negatif dulu kalau anda ditanya tentang “kelamin” karena maksudnya bukanlah alat kelamin. Kata “kelamin” mereka gunakan untuk menyatakan pasangan hidup, sedangkan untuk alat kelamin sendiri mereka sebut “alat sulit”. Jadi hati-hati menyebut kata “sulit”, salah-salah mereka pula yang akan berfikiran negatif. Di sana, kata sulit sebenarnya berarti rahasia.
Kesalahfahaman dalam komunikasi pernah dialami Fauzan seorang mahasiswa doktoral asal Jogja. Ketika itu pembimbing akademiknya, yang di sana disebut penyelia, menjemput dia ke rumahnya. Dengan penuh kesediaan, Fauzan pun menunggu jemputan tersebut dengan sabar, karena sudah larut malam dia memutuskan untuk tidak jadi datang. Keesokan harinya, ia ditanya oleh penyelianya tentang ketidakhadirannya tersebut, ternyata Fauzan telah menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Kata “menjemput atau jemputan” yang dimaksud bukanlah akan dijemput lalu dibawa, tetapi bermakna mengundang atau diundang ke rumah. Kita sendirilah yang datang layaknya orang yang menerima undangan.
Pengalaman salah hidang di rumah makan juga paling sering terjadi bagi yang baru-baru menginjak kakinya di Malaysia. Denia asal Jakarta sempat ribut dengan pelayan sebuah warung yang di sana disebut restoran hanya gara-gara memesan kopi tetapi yang diantar malah kopi susu. Di sana semua minuman yang kita pesan telah termasuk susu di dalamnya, karenanya jika kita menginginkan tidak tercampur susu maka mesti menyebut kopi “o” (o=huruf).
Ternyata bagi orang Melayu sengaja berbuat demikian karena perkataan susu identik dengan payudara. Mereka malu menggunakan kata tersebut sehingga susu pun langsung dicampur tanpa harus disebut-sebut.
Menurut Azlan Ahmad, dosen mata kuliah Bahasa Melayu di Universiti Kebangsaan Malaysia, masalah berbahasa ini sering sekali dialami mahasiswa asal Indonesia. Mereka mengira bahasa di keduanya adalah sama, padahal di sana ada perbedaan yang dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu: Pertama: Benda sama tetapi nama berbeda, contohnya mobil dan kereta, piring dan pinggan, sepatu dan kasut, jeruk dan limau, dan lain sebagainya. Kedua: Perkataan yang mempunyai sedikit perbezaan ejaan atau bunyi, contohnya juli dan julai, iuran dan yuran, uang dan wang, sehat dan sihat, dan lain-lain. Ketiga: Perkataan sama tetapi makna berbeda.
Untuk kategori ini dosen yang memperoleh gelar masternya dari salah satu universitas di Indonesia tersebut mengingatkan supaya kita tidak menggunakan kata “butuh”, “gampang”, dan “pantat”, “kerana boleh merbahaya” katanya dalam dialek Malaysia.
“Kata butuh itu bermakna kepada orientasi seksual, “gampang” itu anak haram, sedangkan pantat itu bukan yang di belakang melainkan yang di depan, kepunyaannya wanita sahaja”, terang Azlan.
Kesulitan menemukan padanan kata dalam berbahasa Melayu Malaysia terkadang dapat teratasi dengan menggunakan bahasa daerah. Pengalaman ini dicontohkan Fajri yang menggunakan bahasa Aceh ketika sukar menemukan perkataan yang sesuai untuk diucapkan kepada lawan bicara melayunya. Siapa sangka kata kuwih/juadah, tingkap, bubong, beutek, seurati, dan camca juga mengandung makna yang sama bagi orang Malaysia yaitu Kue, jendela, atap, pepaya, bebek, dan sendok. “Mungkin juga masih banyak perkataan lain lagi yang sama, saya akan terus berupaya untuk menginventarisirnya”, ujar guru salah satu sekolah di Aceh.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com