Breaking News:

Investasi di Pasar Modal

ALHAMDULILLAH, akhirnya, Banda Aceh di penghujung tahun 2011 ini mendapatkan kado istimewa dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan

Oleh Alfian Anas

ALHAMDULILLAH, akhirnya, Banda Aceh di penghujung tahun 2011 ini mendapatkan kado istimewa dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan didirikannya kantor perwakilan mereka yang ke-15. Kantor dengan dengan nama Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) merupakan perwakilan BEI di Banda Aceh setelah telah lebih dulu berdiri di beberapa kota besar Indonesia seperti Pekan Baru, Padang, Lampung, Batam, Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan, Cirebon, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Manado, Makassar, dan Semarang.

Walaupun sebenarnya di Banda Aceh telah ada pusat informasi tentang pasar modal yang bernama Pojok Bursa Efek Indonesia (Pojok BEI) di di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala dan telah berdiri sejak 2010, namun tampaknya BEI masih ingin memaksimalkan upayanya untuk mengenalkan pasar modal bagi masyarakat. Karena tujuan yang diemban oleh PIPM dan Pojok BEI memang sedikit berbeda. Di mana pendirian Pojok BEI adalah lebih untuk memperkenalkan Pasar Modal ke dalam dunia akademis, baik itu dalam teori maupun praktik.

Satu hal menarik yang dapat kita amati dari pendirian PIPM ini, ternyata Aceh telah diperhitungkan dan dianggap sebagai salah satu daerah yang masyarakatnya memiliki potensi untuk berinvestasi di pasar modal. Secara statistik, dari data Bank Indonesia maupun BPS (2011) memang menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi di Aceh sangat menjanjikan. Provinsi Aceh tahun 2011 diperkirakan mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,62%, sementara jika diperhitungkan pula dengan migas maka pertumbuhan ekonomi Aceh tercatat sebesar 6,25%, dan jika dilihat dari sisi PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) perkapita Aceh tahun 2010 cukup besar dengan pencapaian Rp17,28 juta (migas) dan Rp14,4 juta (tanpa migas), naik dari PDRB perkapita 2009 yang mencapai Rp16,43 juta (migas) dan Rp13,43 juta (tanpa migas). Dari data di atas terlihat bahwa masyarakat Aceh mempunyai potensi yang sangat layak untuk menjadi investor di pasar modal.

Sebenarnya sejarah pasar modal di Indonesia telah dimulai dari zaman penjajahan Belanda sejak tahun 1921, namun setelah sempat mengalami masa “mati suri” yang lama barulah mengalami “booming” kembali di sekitar era 90-an dengan terbitnya UU no.8 tahun 1995 tentang Pasar Modal dan berlakunya sistem perdagangan terkomputerisasi JATS (Jakarta Automatic Trading System). Pada saat itu BEI masih bernama Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang lebih berfokus ke dalam perdagangan saham dan Bursa Efek Surabaya (BES) yang lebih berkonsentrasi pada obligasi dan derivatif. Akan tetapi, sejak 2007 agar lebih efektif, dua bursa tersebut dilebur menjadi satu dan berubah namanya menjadi Bursa Efek Indonesia.  

Dari sisi teori, pasar modal sendiri merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan yang bisa diperjualbelikan, baik itu surat utang (obligasi), ekuiti (saham), reksa dana, derivatif maupun instrumen keuangan lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun pemerintah, dan sebagai sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi. Dengan demikian, pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual beli dan kegiatan terkait lainnya. Pasar Modal sangat bermanfaat karena menyediakan pilihan alternatif bagi masyarakat untuk berinvestasi selain alternatif investasi lainnya yang sudah cukup familiar, seperti menabung di bank, membeli emas, asuransi, tanah dan bangunan, dan sebagainya. Dalam hal ini pasar modal berfungsi sebagai penghubung antara para investor dengan perusahaan ataupun institusi pemerintah melalui perdagangan instrumen keuangan. Jadi, ibarat sebuah mall, BEI merupakan pusat perbelanjaan yang menjajakan berbagai instrumen keuangan bagi para investor untuk berbelanja intrumen keuangan di sana.

Pada 9 Desember 2010, Index Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatat pergerakan keseluruhan saham yang ada di BEI secara harian mampu mencapai record tingkat tertinggi sejak 1992 yakni di level 3, 973 point di mana naik sebesar 46,3% dan prestasi itu juga tercatat pula sebagai bursa nomor dua di Asia-Pasific yang memiliki kinerja pertumbuhan tertinggi di tahun 2010 (Annual Report 2010).

Selain itu di tahun 2010 BEI juga mencatat prestasi sebagai “The Best Stock Exchange of the Year 2010 in Southeast Asia” dari Alpha Southeast Asia Magazine. Sayangnya, memasuki akhir tahun 2011 ini, IHSG kembali turun, faktor penurunan tersebut salah satunya adalah sentimen negatif atas perekonomian dari luar negeri, seperti ketegangan suasana di Timur Tengah dan masalah utang di negara-negara di Eropa yang efeknya juga berimbas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Namun demikian, BEI masih dianggap memiliki daya tarik tersendiri bagi para investor, terutama investor asing. Ini dibuktikan pada saat pascakrisis 2008 lalu, dimana kepemilikan investor asing di Indonesia terus meningkat. Akan tetapi sangat disayangkan dari sekitar satu juta jumlah total investor yang tercatat di BEI hanya berkisar diangka 300 ribu saja yang merupakan investor lokal, sebagian besar masih merupakan pemain asing (Tribun Jabar, 2011).

BEI sendiri menargetkan tahun 2012 nanti jumlah investor lokal diharapkan akan naik menjadi sekitar 1% dari total jumlah penduduk atau berkisar di angka 2,4 juta investor lokal yang berarti 8 kali jumlah investor lokal saat ini (businessreview.com 2011). Jumlah yang cukup besar ini mampu dicapai jika BEI terus berusaha “menjemput bola’ dengan cara mendirikan perwakilan-perwakilan cabangnya di berbagai kota-kota besar Indonesia yang memiliki potensi besar seperti halnya Aceh. Apalagi dalam waktu dekat, otoritas BAPEPAM sebagai badan pengawas Pasar Modal di Indonesia juga telah menyiapkan lembaga yang bernama “Investor Protection Fund Indonesia” yang diharapkan bisa berdiri pada 2012.

Lembaga yang mirip dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPP) di perbankan itu nantinya akan menjamin dana investor agar tidak akan hilang jika terdapat perusahaan efek yang kolaps.

Kehadiran PIPM di Aceh tentunya akan berdampak positif bagi masyarakat Aceh sebagai sarana alternatif berinvestasi dan sarana pembelajaran untuk lebih mengenal lebih jauh lagi mengenai pasar modal. Di samping itu dengan adanya perwakilan BEI di Aceh juga memiliki dampak positif lainnya seperti ikut didirikannya banyak cabang perusahaan efek (broker) dan tentunya akan menyerap banyak tenaga kerja lokal di Aceh. Sinergi ini akan memiliki efek multiplier yang mampu membantu menggerakkan roda perekonomian di Aceh. Oleh karena itu berdirinya PIPM di Aceh sangat berguna bagi masyarakat Aceh. Akhir kata, mari kita ucapkan Selamat Datang Bursa Efek Indonesia ke Provinsi kita tercinta ini.

* Penulis adalah Dosen FE Unmuha Aceh. Alumnus Curtin University Australia.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved