Breaking News:

Harmonisasi dalam Islam

ISLAM merupakan sebuah nama dari nama agama yang tidak diberikan oleh para pemeluknya. Kata “Islam” dicantumkan dalam al-Qu’ran, yaitu: pertama

Harmonisasi dalam Islam
Farid Wajdi Ibrahim

ISLAM merupakan sebuah nama dari nama agama yang tidak diberikan oleh para pemeluknya. Kata “Islam” dicantumkan dalam al-Qu’ran, yaitu: pertama, “Wa radhitu lakum al-Islama dinan” artinya “Dan Allah mengakui bagimu “Islam” sebagai Agama”. Kedua, “Innaddina `indallah hi al Islam” artinya “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam”.

Berdasarkan dua surah tersebut maka jelaslah bahwa nama “Islam” diberikan oleh Allah sebagai sebuah nama agama dan bukan nama hasil ciptaan manusia yang memeluk agama tersebut. Penyebutan “Islam” dengan Muhammadanisme, Mohammedan Law, Muhammadaansch Recht atau sejenisnya tidak tepat dan dapat membawa kekeliruan arti, karena Islam ialah wahyu dari Allah bukan ciptaan Muhammad SAW.

Ada beberapa makna dari “Islam”. Jika diambil dari urutan asal kata salima, artinya selamat. Jika diambil dari urutan asal kata sali, artinya damai, rukun, bersatu. Jika diambil dari urutan asal kata istaslama, artinya tunduk, dan taat kepada perintah Allah dengan memakai dasar petunjuk-petunjuk serta bimbingan ajaran Rasul Muhammad SAW. Jika “Islam” diambil dari urutan asal kata istlasama, artinya tulus dan ikhlas. Dan jika “Islam” jika diambil dari urutan asal kata sullami, artinya tangga untuk mencapai keluhuran derajat lahir dan batin.

Dari pengertian Islam tersebut, dapat ditarik kesimpulan adanya tiga aspek, yaitu: Pertama, Aspek vertikal. Aspek yang mengatur harmonisasi antara makhluk dengan khaliknya (manusia dengan Tuhannya). Dalam hal ini manusia bersikap berserah diri pada Allah. Kedua, Aspek horizontal, yaitu mengatur hubungan harmonis antara manusia dengan manusia. Islam menghendaki agar manusia yang satu menyelamatkan, menentramkan dan mengamankan manusia yang lain. Dan ketiga, Aspek batiniah yang merupakan aspek yang mengatur harmonisasi ke dalam orang itu sendiri, yaitu supaya dapat menimbulkan kedamaian, ketenangan batin maupun kemantapan rohani dan mental.

Peran Manusia Sebagai Khalifah
Dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 30 Allah SWT berfirman: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Berdasarkan ayat di atas, Allah SWT menciptakan manusia agar dapat menjadi khalifah di muka bumi. Maksud khalifah di sini adalah manusia diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi dan mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatannya. Jika manusia telah mampu menjalankan fungsi tersebut dengan baik, maka tugas manusia sebagai khalifah di bumi benar-benar dijalankan dengan baik.

Ada dua peranan penting manusia sebagai khalifah di permukaan bumi ini yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat. Pertama, memakmurkan bumi (al-‘imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak mana pun (ar-ri’ayah).

Sebagai seorang muslim yang taat tentu kita akan menjalankan fungsi sebagai khalifah di muka bumi dengan tidak melakukan pengrusakan terhadap alam yang diciptakan Allah SWT karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Anjuran harmonisasi
Dalam Islam begitu banyak ajaran-ajaran yang menganjurkan tentang harmonisasi (upaya mencari keselarasan) sesama umat manusia yang dalam hal ini adalah masyarakat, di antaranya adalah: Sikap saling tolong menolong, (QS al-Maidah: 2), saling memberikan kasih sayang dan saling berdamai (QS al-Hujarat: 10), dan toleransi beragama.

Islam menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam agama dan keyakinan adalah kehendak Allah, karena itu tak mungkin disamakan. Dalam al-Qur’an Allah berfirman yang artinya, “dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved