Citizen Reporter
Nama-nama Unik di Jerman
APALAH arti sebuah nama. Meski ungkapan tersebut sudah sangat populer, tapi tetap saja benda abstrak yang bernama itu terasa sangat penting
APALAH arti sebuah nama. Meski ungkapan tersebut sudah sangat populer, tapi tetap saja benda abstrak yang bernama itu terasa sangat penting. Di Aceh, ketika konflik sedang membara, kesamaan nama dengan seseorang bisa saja membuat orang tersebut celaka.
Saya juga pernah dihujani sms ucapan selamat dari banyak pihak, karena nama saya--sebenarnya nama orang lain—disebutkan di Harian Serambi Indonesia telah dilantik menjadi salah satu pembantu dekan di Unsyiah. Jadi, apa pun ceritanya, nama tetap menjadi salah satu hal terpenting dalam kehidupan kita.
Dari sisi pemberian nama kepada seorang anak, para orang tua di Indonesia memang lebih cenderung ikut tren. Oleh karena itu, saat ini jarang kita jumpai nama “lama”, semisal Ibrahim, Yunus, Yahya, Harun, dan sebagainya pada anak-anak SD. Karena tren nama yang berkembang pada saat anak-anak tersebut lahir memang mengarah kepada nama-nama islami yang lebih up to date, seperti Daffa, Nabila, Syifa, dan sebagainya. Kondisi ini menuntut orang tua atau calon orang tua untuk lebih kreatif mencari nama untuk bayi, atau bahkan memformulasikan nama baru yang unik dan pas untuk si buah hatinya. Ada kebanggaan tersendiri bagi orang tua ketika berhasil memberikan nama yang unik dan punya arti yang baik bagi anaknya.
Berbeda dengan di Indonesia, di Jerman, nama-nama yang sudah berusia ratusan tahun lalu masih terus dipakai hingga kini. Secara umum, kecenderungan terciptanya nama baru di Jerman dan di Eropa tidak dominan. Oleh karena itu, tidak heran jika nama seperti Mark, Robert, Michael, David, Johanna, dan sebagainya masih saja ditemukan pada nama mereka yang baru lahir hari ini. Meskipun pada kenyataannya, nama tersebut sudah eksis sejak dulu kala.
Kenyataan itu mengakibatkan banyak sekali orang yang mempunyai nama yang sama. Tidak mengherankan jika kita menemukan ribuan orang bernama Robert, John, Martina, Eva, atau nama lainnya. Lalu untuk membedakan Robert yang satu dengan Robert lainnya, terdapat nama julukan yang tersandang di belakang nama tersebut. Julukan tersebut umumnya diadopsi dari pekerjaan mereka sehari-hari. Sehingga tersebutlah nama belakang seperti Mueller (penggiling), Bauer (petani), Schneider (pemotong), Kaufmann (pedagang), dan sebagainya. Nama-nama julukan tersebut akhirnya melekat pada orang-orang tadi beserta istri dan anak-anaknya. Nama belakang ini kemudian berkembang menjadi nama family (nama keluarga). Nama keluarga ini masih tetap digunakan meskipun keturunannya sudah jauh berbeda profesinya dengan julukan awal. Oleh karena itu, tak heran jika kita temukan seorang pembalap terkenal Formula 1 bernama Michael Schumacher. Nama Schumacher yang berarti penjahit sepatu, menunjukkan bahwa meskipun menjadi pembalap, Michael adalah keturunan penjahit sepatu. Hal yang sama juga terjadi pada Claudia Schiffer (Schiffer=juragan), Steffi Graf (Graf=pegawai pencatat), Bastian Schweinsteiger (Schweinsteiger= pengembala/pengurus babi), dan Mark Weber (Weber=penenun).
Tidak semua nama belakang diadopsi dari profesi pendahulu mereka. Sebagiannya diambil dari sifat fisik orang yang dijuluki tersebut. Nama-nama seperti Klein (kecil), Schwarz (hitam), atau Duenn (kurus), adalah contohnya. Selain itu ada juga nama yang diambil dari bagian tubuh manusia, seperti Hand (tangan), Fuss (kaki), Daum (jari jempol). Nama-nama binatang juga ikut menjadi nama julukan orang Jerman, seperti Wolf (serigala), Ziege (kambing), dan Schwein (babi).
Singkat cerita, hampir semua hal terwakili dalam julukan atau nama keluarga orang Jerman. Selain kategori yang disebutkan tadi, ada juga nama yang diadopsi dari benda, waktu, kelakuan, dan sebagainya.
Website www.unmoralische.de malah memublikasikan nama-nama yang disaring dari daftar nama dalam buku telepon Jerman. Beberapa nama tersebut adalah: Urin (air seni), Teufel (iblis), Pimmel (penis), Beha (pakaian dalam wanita), Trinker (peminum/pemabuk), Lager (gudang), dan masih banyak lagi. Di antara semua nama keluarga di Jerman, beberapa nama yang paling banyak dipakai adalah Mueller, Schmidt, Schneider, Fischer, dan Weber.
Beberapa keluarga di Indonesia sudah mulai mengikuti tren penggunaan nama keluarga pada seluruh anggota keluarganya. Alhamdulillah, karena tak ada pembatasan pemberian nama di Indonesia, nama keluarga yang dipilih pun cukup bagus dan memiliki arti yang mendoakan akan kebaikan dan sesuai anjuran agama.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com