Droe Keu Droe

Apotik dan Praktik, Bermurah Hatilah

KAMI ikut sedih menyimak kisah Barlian AW, tentang kemungkinan tumbuhnya ‘sindikasi’ di Cempaka Lima, Banda Aceh

KAMI ikut sedih menyimak kisah Barlian AW, tentang kemungkinan tumbuhnya ‘sindikasi’ di Cempaka Lima, Banda Aceh. Tentang resep obat yang berkode khusus, dari seorang spesialis. Yang hanya di Cempaka Lima kode itu bisa ‘dibaca’ (Serambi, 20/11).

Miris dan tragis mungkin bisa kita alamatkan juga untuk segelintir dokter dan apotik lain di Aceh. Kami mau juga keluhkan, persoalan yang serupa dengan itu, tapi agak beda. Ini bukan memanas-manasi, tapi ini isi hati Ayahanda.

Beberapa bulan lalu, kami menemani Abu yang lumayan uzur ke klinik bersama, di kawasan Beurawe itu. Kami ke Bagian Penyakit Dalam (kini dokter spesialis yang baik itu sudah praktek bersama ke seberang jalan, agak ke arah timur Cempaka Lima). Alhamdulillah dan terima kasih, kami digratiskan untuk terima resep dan rujukan pemerikasaan. Sebab dokter itu sekampung dengan kami, dan ayah dokter juga satu ‘letting’ dengan Abu kami. Anjuran cek darah dan air seni (di lab milik negara) serta rontgen (di lab kelompok Cempaka Lima), kami tunaikan segera. Resep kami tebus, Abu minum terus. Jumlah obat memadai diminumi untuk hampir tiga pekan. Esoknya, hasil lab keluar, harga selangit. Kami balik ke praktik bersama hasil lab, dan Abu ditanyai soal obat kemarin: ada reaksi atau tidak. Abu tanya di luar parktik sama kami: capek kita periksa (bahkan puasa seharian), tidak dibilang apa-apa soal hasil lab, tapi resep kedua pula yang di’coret-coret’ dan digratiskannya. Kami disuruh ‘tebus’ juga di apotik itu, jika obat kemarin sudah habis. Sebab resep memang ‘sama’.

Masalahnya, karena Abu pulang kampung, kartu dan resep juga dibawa saja. Mungkin ‘kreatif’’, saya copy semua kartu dan resep untuk jaga-jaga. Sebulan kemudian, kakak kami datang untuk satu acara lain, sambilan meminta dibelikan lagi obat untuk Abu, pil kayak dulu. Pembelian mesti selesai sebelum rombongan kakak balik ke kampung. Berdasarkan copyan itu, saya coba membeli, menjelaskan bahwa resep yang asli tertinggal, dan resep ini (copian) belum kami tebus sekali pun, di mana pun. Bahwa ini melanjutkan obat Abu yang sudah habis. Jawab petugas wanita: “tidak bisa, harus dengan resep asli; jika mau obat, ambil atau suruh kirim lagi yang asli dari kampung.” Saya sempat mengira: dia pikir kita menebus dua-tiga kali dengan satu resep dari prakik itu; atau setiap membeli semacam obat, dia ingin harus dengan satu resep yang baru, dan mesti ajak Abu yang tua itu, kunjungi ke praktik itu, buat resep baru lagi.

Akhirnya saya ke apotik lain, ternyata obat lebih murah, dengan murah senyum pula dilayani kami. Dan kiriman sampai ke tangan Abu, bersamaan dengan rombongan balik dari Banda Aceh. Begitulah pembaca, semoga Abu-Mama kami dan Abu-Mama Anda sehat selalu, walau pelayanan kesehatan di tempat praktik kita tak semua ‘sehat’. Mari lebih bermurah hatilah, wahai apotik dan praktik bersama.

Muhammad Yakub Yahya

Putra Grong-Grong Beuracan Meureudu, Pidie Jaya

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved