Citizen Reporter

Maladewa 100% Muslim, 99% Air

SEUSAI mengikuti sebuah simposium internasional di kota wisata Durban di pantai timur Afrika Selatan, pihak sponsor Coastal Ocean Research

Maladewa 100% Muslim, 99% Air
EDI RUDI
OLEH EDI RUDI, Dosen FMIPA Unsyiah, melaporkan dari Maladewa

SEUSAI mengikuti sebuah simposium internasional di kota wisata Durban di pantai timur Afrika Selatan, pihak sponsor Coastal Ocean Research and Development Indian Ocean (CORDIO) mengundang saya mengikuti pelatihan Reef Resilience di Maldives.  

Pertama mendengar nama Maldives, terasa agak asing. Selidik punya selidik ternyata Maldives di Indonesia dinamai Maladewa. Belakangan saya tahu bahwa orang Maldives sendiri justru tak mengenal kata Maladewa. Pasti ada sesuatu yang spesial dengan pemilihan Maladewa sebagai tempat pelatihan, begitu kesimpulan awal saya.  

Kawan saya sesama dosen di Unsyiah mengungkapkan, belumlah lengkap hidup seorang peneliti biologi kelautan sebelum ia mengunjungi Maladewa. Saya pun makin penasaran seperti apa sebenarnya Maladewa itu. Sampai pada hari keberangkatan, kami belum memperoleh visa kunjungan hingga muncul rasa waswas, walaupun informasi tentang itu sudah coba kami telusuri di internet.  

Pertanyaan mengenai visa terjawab sudah begitu kami mendarat di Male International Airport pada pukul 10 malam waktu setempat setelah menempuh perjalanan empat jam dari Kuala Lumpur. Ya, Maladewa memberlakukan visa on arrival (VOA) bagi pengunjung dari banyak negara, sebab mereka tak memiliki kedutaan di banyak negara.

Malam itu kami dijemput naik boat, selanjutnya dibawa menuju ‘hotel terapung’ berupa kapal wisata serbaguna nan mewah, bernama MV Gaaviya. Pelatihan sepuluh hari kami lalui dengan penuh kesan. Bagaimana tidak, hidup di atas kapal mewah dan mengunjungi pulau-pulau karang berbentuk lingkaran (atol) setiap harinya. Sebuah atol memiliki ratusan pulau karang yang tersusun melingkar seperti cincin. Ada pulau yang muncul ke permukaan, ada pula yang tidak.  

Penyelaman scuba kami lakukan secara rutin tiga hingga empat kali sehari, pagi dan sore. Malamnya kami melakukan diskusi kelompok. Peserta pelatihan sebelas orang, dari berbagai negara di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, yaitu India (2 orang), Sri Lanka (2), Bangladesh (1), Maladewa (2), Thailand (2), dan Indonesia (2 orang).  Maladewa adalah negara yang terletak di kawasan Asia Selatan, tepatnya di selatan India. Secara geografis, Maladewa sangat unik, memiliki sekitar 1.192 pulau karang yang terbentang luas dari utara ke selatan sepanjang 2.000 km. Sekitar 200 pulaunya berpenghuni. Ratusan pulau tersebut menjadi pulau wisata eksklusif (resort islands). Namun, lebih dari setengah pulau-pulaunya tak berpenghuni.

Luas daratan negara ini kurang dari 0,5 persen luas keseluruhannya, yaitu 90.000 km2. Tidak ada pulau yang besar, tidak ada bukit atau gunung, rata-rata ketinggian dari permukaan laut hanya 1,5 m. Ibu kota negaranya bernama Male dengan luas kurang dari 2 km2.  

Bandara Internasional Male terletak pada pulau/gosong yang bersebelahan dengan ibu kota. Hanya perlu waktu sepuluh menit perjalanan boat dari Male.  

Male memiliki populasi sekitar 70.000 orang, sedangkan Maladewa sendiri punya populasi sekitar 400.000 orang. Male merupakan kota terpadat di dunia dengan 35.000 orang per km2. Hanya empat pulau yang tercatat memiliki populasi di atas 5.000 orang, sedangkan pulau-pulau berpenghuni lainnya rata-rata dihuni 800 orang saja.  

Banyak aktivitas justru terjadi di tengah laut, apakah itu pariwisata, perikanan, perdagangan ataupun yang lainnya. Maladewa merupakan tujuan wisata kelas dunia yang mahal dan eksklusif. Para wisatawan justru tak perlu singgah ke Male karena Maladewa memiliki pulau-pulau khusus untuk berlibur (holiday resort islands). Dari bandara wisatawan langsung menuju ke pulau tujuannya menggunakan kapal atau kebanyakan dengan pesawat air.

Pesawat air (sea plane) adalah keunikan lain Maladewa. Dulunya Maladewa mengembangkan helikopter untuk transportasi antaratol, selain kapal laut, namun sering terjadi kecelakaan, karena faktor cuaca. Pesawat air terlihat sangat cocok dan mendukung pariwisata Maladewa. Pilotnya semua bule. Hampir tak ada lagi kecelakaan yang  terjadi. Pesawat yang menjadikan air laut sebagai landasannya itu memiliki kapasitas sekitar belasan orang. Dengan adanya kapal air itu, pariwisata di Maladewa terasa sangat eksklusif, berkelas, dan nyaman.

Republik Maladewa merdeka dari Inggris pada tanggal 26 Juli 1965.  Republik Maladewa adalah salah satu atau bahkan satu-satunya negara di dunia yang mendeklarasikan diri sebagai negara dengan penduduk 100% muslim. Pelaksanaan syariat Islam terasa di Kota Male hingga ke pulau-pulau. Salah satunya adalah toko-toko dan pusat bisnis akan ditutup 15 menit sebelum masuknya waktu shalat dan dibuka kembali paling cepat 15 menit setelah shalat. Namun demikian, Maladewa tidak anti terhadap pendatang atau orang-orang yang berbeda agama. Mereka menghormati keberagaman, namun mencintai Islam dengan sepenuh hati.  

Mereka juga sangat familiar dengan Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved