Khanduri Laot
Pang Laot mondar-mandir lebih sepuluh kali. Orang-orang sudah pening dibuatnya, karena terus mengikuti langkah Pang Laot dengan biji mata
Orang-orang berseru girang, bahkan sebelum kalimatku selesai. Aku h diangkat tinggi-tinggi. Purnama di atas langit seakan tersenyum. Kulihat Teungku Imum Syik beranjak dari tempatnya. Pelan ia berlalu menjauh. Sorot mata kecewanya sempat kutangkap meski ia berusaha menghindar tatapanku. Maafkan aku, Teungku. Lirihku.
Tiba-tiba saja aneka bunga-bunga telah mengalungiku. Pakaianku diganti dengan pakaian baru yang tersetrika rapi. Sekujur tubuhku dipercik minyak wangi. Kepalaku dipasangkan kopiah meukutop, entah dari mana asalnya. Kakiku yang telanjang dipasangkan sepasang sepatu mengkilap. Antara heran dan bingung, dari mana orang-orang mendapatkan barang-barang mahal ini, padahal dapur mereka telah lama padam. Sebagai yatim piatu pun, baru kali inilah aku mendapat perhatian luar biasa dari masyarakat.
Aku diarak ke pantai, lalu dengan susah payah dinaikkan ke atas perahu. Sebuah batu yang telah diikat tali plastik didudukkan di sebelahku. Perahu mesin melaju tergesa-gesa, hantaman ombak berkali-kali hampir membalikkan perahu itu sebelum sempat melaju. Hanya aku dan Pang Laot di dalamnya. Tiba di tengah laut, tempat membuang kerbau beberapa minggu lalu, perahu dihentikan. Tubuhku dan Pang Laot telah basah kuyup sejak hendak menaiki perahu. Jantungku berdegup kencang. Inilah akhirku. Aku tak tahu apakah setelahnya akan terlempar ke neraka, karena mengikuti kemauan orang-orang tak waras ini, atau Tuhan akan mengasihiku karena niatku menolong orang-orang? Entahlah. Aku memasang kalung batu itu ketika Pang Laot diam menatapku. Lalu, tanpa basa-basi aku melompat ke dalam laut yang diiringi tatapan tak kumengerti darinya. Entah dia menyesali atau malah menyuruhku cepat-cepat melompat.
Lantas, aku merasa duduk di sebuah singgasana berukir-ukir dan berkilauan. Emas dan permata menghiasi setiap sudut ruangan ini. Agak risih, dan belum terbiasa dengan keadaan semewah ini. Aku sampai berkeringat. Padahal, ruangan ini sangat sejuk. Ada beberapa pendingin ruangan di dindingnya.
Sementara orang-orang di Gampong Anoe masih murung setelah menemukan jasad Pang Laot beberapa hari kemudian. Perahunya hangus terbakar.
* Fonna Zahra, anggota FLP Lhokseumawe