Gempa Aceh
Listrik untuk Fasilitas Umum Harus Tetap Hidup
Direktur Operasi PT PLN (Persero) Wilayah Indonesia Barat, Moch Harry Jaya Pahlawan, menyarankan agar listrik untuk fasilitas
BANDA ACEH - Direktur Operasi PT PLN (Persero) Wilayah Indonesia Barat, Moch Harry Jaya Pahlawan, menyarankan agar listrik untuk fasilitas umum seperti penerangan jalan, rumah sakit, dan fasilitas umum lain hendaknya harus tetap hidup pascagempa.
Hal itu dikatakannya dalam pertemuan dengan pimpinan dan karyawan PLN, di kantor PT PLN (Persero) Wilayah Aceh di kawasan Lampriek, Kamis (12/4). Kunjungannya ke Aceh kemarin, untuk memantau langsung fasilitas PLN pascagempa 8,5 SR yang mengguncang wilayah Aceh, Rabu (11/4) sore.
“Karena gempa yang terjadi kemarin waktunya mendekati malam, maka sangat dibutuhkan penerangan. Karena itu, meski listrik untuk rumah tangga dimatikan, sebaiknya diupayakan listrik untuk fasilitas umum tetap hidup,” ujarnya kepada General Manager PT PLN (Persero) Wilayah Aceh, Sulaiman Daud, dan sejumlah kepala cabang dan staf lainnya yang hadir dalam pertemuan itu.
Dia mengungkapkan, pemadaman listrik setelah terjadi gempa, merupakan prosedur standar untuk menghindari musibah lain akibat korsleting listrik. “Setelah gempa reda, listrik akan dihidupkan lagi. Namun kemarin, saat listrik hendak dihidupkan, kembali terjadi gempa. Sehingga pemadaman berlangsung cukup lama,” katanya.
Saat ini, dia memastikan bahwa suplai listrik ke seluruh Aceh sudah kembali normal. Karena ekses dari gempa tersebut diakui hanya menyebabkan kerusakan ringan pada sejumlah fasilitas PLN. Ia juga memberi apresiasi kepada petugas PLN di Aceh, karena tidak meninggalkan tugas saat terjadi gempa.
“Ini merupakan wujud pengabdian yang tinggi dalam memberi pelayanan kepada masyarakat,” ujar Moch Harry, yang kemarin juga melakukan pemantauan ke sejumlah fasilitas PLN di Banda Aceh, antara lain ke Gardu Induk Lambaro, PLTD Lueng Bata, dan Kantor PLN Area Banda Aceh di Merduati.(th)