Opini
Tanggap Bencana dengan Kearifan Lokal
Aceh memiliki potensi bencana alam yang sangat tinggi, terutama bencana alam berupa gempa bumi. Hal ini karena secara geografis Aceh berada dekat
Aceh memiliki potensi bencana alam yang sangat tinggi, terutama bencana alam berupa gempa bumi. Hal ini karena secara geografis Aceh berada dekat dengan pertemuan lempeng benua, sehingga sangat mungkin terjadi pergerakan atau pergeseran lempeng tersebut. Bahkan sejak peristiwa gempa bumi dan tsunami tahun 2004, Aceh seakan tidak pernah sepi dari goncangan gempa. Oleh karena itu, sudah selayaknya persoalan ini menjadi perhatian semua pihak dari perspektif apa pun.
Salah satu hal yang dapat menjadi pelajaran untuk masyarakat kita, khususnya yang ada di Aceh berkaitan dengan bencana alam yaitu keberadaan local wisdom atau yang lebih sering kita dengar atau baca kearifan lokal. Kearifan lokal adalah nilai atau ajaran atau norma yang telah lama dianut oleh masyarakat dan ajaran tersebut ada di wilayah setempat (lokal) berkaitan dengan hal-hal yang sebenarnya memiliki muatan positif bagi masyarakat dalam kaitan dengan peristiwa alam. Salah satu kearifan lokal yang memiliki hubungan dengan peristiwa alam yaitu bencana alam, seperti gempa bumi juga ditemukan di Aceh ini. Beberapa saat ketika terjadi gempa di Aceh, salah satu media elektronik televisi nasional memberitakan tentang kearifan lokal yang ada pada masyarakat Simeulue. Pemberitaan tersebut mengupas tentang ketanggapan masyarakat saat sebelum terjadi gempa dan pascagempa. Diberitakan bahwa ketika hewan-hewan peliharaan berupa kerbau telah berkumpul di satu tempat yang jauh dari pantai (hal ini menunjukkan akan terjadinya peristiwa alam), masyarakat sudah melakukan antisipasi. Pascagempa pun meraka sudah secara otomatis melakukan evakuasi diri dengan cara mencari daerah yang lebih tinggi. Pada aspek bahasa, sebenarnya masyarakat Simeulue juga telah memiliki kearifan lokal dengan kosakata smong yang jika diterjemahkan bebas kira-kira sama maknanya dengan kata tsunami. Artinya, kearifan lokal dapat menjadi sinyal awal atau sekadar tanda bagi manusia untuk berpikir dan membaca tanda-tanda alam. Kearifan lokal memang bukanlah satu-satunya parameter yang akurat akan adanya peristiwa alam, seperti gempa. Akan tetapi, dengan kearifan lokal yang dipadu dengan antisipasi secara modern, akan sangat meminimalkan jumlah korban jiwa jika memang terjadi bencana alam yang sebenarnya.
Local wisdom mencuat sebagai salah satu jawaban atas keterbatasan teknologi dalam mengantisipasi peristiwa alam. Polemik yang terjadi akhir-akhir ini mengenai peringatan dini tsunami yang tidak bekerja efektif sepenuhnya dapat dieliminasi dengan penguatan atau penggalian kearifan-kearaifan lokal yang ada dan selanjutnya ditularkan kearifan lokal tersebut kepada masyarakat. Tujuannya supaya masyarakat dapat melakukan deteksi dini akan adanya peristiwa alam, seperti gempa bumi.
Konon, Jepang yang notabene negara dengan teknologi yang canggih, tetap memanfaatkan kearifan lokal dan dimasukkan di dalam kurikulum di sekolah-sekolah mereka. Seperti kita ketahui, Jepang juga memiliki potensi gempa bumi yang tinggi. Masyarakat di Jepang dapat mengantisipasi akan adanya gempa dari tanda-tanda alam yaitu berupa bentuk awan yang ada di langit seperti tertarik menuju ke satu titik. Bentuk awan tersebut tidak seperti keadaan yang normal dan cenderung memanjang menyerupai garis (tidak bergumpal-gumpal). Kearifan lokal ini tentu saja dipadu dengan analisis ilmiah dari para pakar gempa di Jepang. Rupanya hal ini pun apabila kita perhatikan fenomena awan seperti ini sering muncul di angkasa Aceh. Barangkali setiap kita nanti dapat membuktikan atau minimal memperhatikan fenomena alam berupa bentuk awan ini. Konon pula, bentuk awan yang seperti tertarik menuju ke satu titik itu karena gaya gravitasi yang terjadi di daerah pusat gempa, sehingga berakibat pada bentuk awan.
Lain di Aceh, lain di Jepang, lain pula di Yogyakarta. Saat Gunung Merapi meletus, masyarakaat yang berada di sekitar gunung tersebut telah familiar dengan perubahan alam, terutama perubahan perilaku binatang. Masyarakat di sekitar lereng Merapi sering menjumpai binatang-binatang buas yang turun ke kampung mereka. Adakalanya mereka bertemu atau melihat harimau, babi hutan, atau ular. Frekuensi masyarakat yang sering melihat “turunnya” binatang-binatang tersebut menjadi firasat atau pertanda yang sudah lama mereka percayai bahwa akan terjadi peristiwa alam, yakni yang biasanya berkaitan dengan aktivitas lava Gunung Merapi. Hal ini telah dipercaya oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Merapi.
Kearifan lokal sudah barang tentu dimiliki oleh setiap komunitas. Dan akan menjadi pelajaran apabila kearifan lokal tersebut digali aspek validitasnya yang selanjutnya dapat diajarkan kepada masyarakat supaya antisipasi dini lebih cepat dilakukan apabila terjadi peristiwa alam berupa bencana gempa dan lain-lain.
Allah SWT telah memberi karunia kepada manusia dengan akal dan pikirannya untuk mempelajari alam. Bentuk pembelajaran yang dapat dilakukan menurut sifatnya ada yang ilmiah, semi ilmiah, bahkan tradisional. Kearifan lokal adalah bentuk pembelajaran komunal yang sebenarnya dapat diintegrasikan dengan bentuk-bentuk pembelajaran tanggap bencana alam yang bersifat modern. Semakin banyak kearifan lokal yang digali dan dibelajarkan kepada masyarakat, bukan tidak mungkin kesiapsiagaan dan kondisi tanggap bencana di dalam masyarakat juga akan semakin baik.
Penulis adalah pereksa bahasa pada Balai Bahasa Banda Aceh