Wawancara dengan Zaini Abdullah
Di tangan bekas pucuk pimpinan GAM itulah nasib Aceh lima tahun kedepan dipertaruhkan.
Angka korupsi di Aceh tinggi, apa yang akan dilakukan?
Tujuan kita nanti setelah pelantikan, kami akan membina good governance dan clean government, juga ditambah dengan disiplin. Itu yang harus ditancapkan sebagai momen yang harus dikejar. Semua harus bekerja secara disiplin. Sehingga, mereka yang bekerja bertanggung jawab dari awal hingga selesai.
Langkah kongkret membangun pemerintahan yang bersih?
Itu tak bisa serta merta. Berilah waktu. Ini secara bertahap saya kira, dan bergantung taraf mana dan di mana terjadinya keadaan tersebut. Sejak semula kami mengatakan bahwa pemerintahan ini akan kami pimpin, dan tujuannya adalah mengurangi itu semua dan dihapus, serta menurunkan korupsi.
Persoalan di Aceh adalah tingginya proporsi anggaran di Aceh untuk belanjaa rutin dan gaji pegawai. Birokrasi gemuk. Apakah akan ada reformasi birokrasi?
Yang saya lihat, seperti saat saya lama di luar negeri, kami akan mencoba memperbaiki birokrasi yang ada di Aceh. Kami akan mencoba mempermudah sistem birokrasi di Aceh. Karena seperti yang kita lihat sekarang, untuk mendapatkan izin lama sekali dan mesti harus dilicinkan dengan uang, bersalaman di bawah meja. Sesuatu yang tak seharusnya ada. Jika tidak dihapuskan akan gagal.
Ini sistem yang harus kita tegaskan, kita daerah syariah. Jangan hanya lips servic syariah. Tapi dilaksanakan ajaran Islam itu. Kami akan adakan diskusi, ikut sertakan semua pihak, termasuk soal-soal akidah, pendidikan, ekonomi, kami nanti akan pilah-pilah, siapa saja yang mempunyai kemahiran.
Proporsi anggaran pembangunan kecil, apa yang akan bapak lakukan?