Penambang Pasir Menderita Gatal-gatal Aliran Teukuh Diduga Tercemar Limbah Sagu
“Limbah sagu bisa menjadi makanan ikan air tawar,”
SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Belasan pekerja penambang pasir (galian C) sepanjang aliran Krueng Teukueh, Desa/Gampong Pulau Kayu, Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengaku menderita penyakit gatal-gatal. Aliran sungai yang menjadi lahan mereka bekerja diduga tercemar limbah pabrik pengolahan sagu yang dibuang ke dalam aliran sungai di lokasi perbatasan Desa Ikhue Lhueng dengan Desa Asoe Nanggroe, Kecamatan Jeumpa.
Rudi, penambang pasir, didampingi beberapa rekannya kepada Serambi di lokasi, Kamis (24/5/2012) menjelaskan, penyakit gatal-gatal dialami selama kurun waktu beberapa bulan terakhir. Mereka menduga bahwa aliran sungai Krueng Teukueh yang menjadi lahan tempat mencari nafkah saban hari tercemar limbah pabrik sagu yang beroperasi di bagian hulu atau dilokasi perbatasan Desa Ikhue Lhueng dengan Desa Asoe Nanggroe, Kecamatan Jeumpa.
Dugaan tersebut, kata Adi, pekerja lainnya lantaran aliran Krueng Teukueh berubah warna menjadi hitam. Perubahan warga air sungai tersebut setelah limbah pabrik sagu langsung dibuang ke dalam aliran sungai, tanpa proses pengolahan. “Bukan saja penyalit gatal-gatal, beberapa jenis ikan dalam sungai juga mati,” ungkap Rudi.
Penyakit gatal-gatal yang diderita para penambang pasir di kawasan yang saban hari bekerja dengan harus merendam mengeruk pasir di dasar sungai Krueng Teukueh, dikatakan sangat mengganggu. Sehingga setelah keluar dari aliran sungai usai menambang pasir menggunakan sampan, pekerja harus mengosok garam pada bagian kaki dan badan untuk menghilangkan penyakit gatal-gatal.
Mereka mengharapkan instansi terkait di Kabupaten Abdya, dalam hal ini Kantor Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan, melakukan pemeriksaan terhadap air sungai Krueng Teukueh yang diduga tercemar limbah pabrik sagu yang dibuang langsung ke dalam sungai.
Informasi diperoleh Serambi, sekitar satu tahun lalu, satu unit pabrik pengolah sago beroperasi di dekat jembatan atau lokasi perbatasan Desa Ikhue Lhueng dengan Desa Asoe Nanggroe, Kecamatan Jeumpa. Lalu, sejak beberapa bulan lalu, mulai beroperasi satu unit pabik sago lainnya lokasi dekat kepala jembatan Ikhue Lhueng, kawasan jalan raya Ikhue Lhueng-Cot Manee.
Sementara Sawal, Pemilik Pabrik Sagu lokasi perbatasan Desa Ikhue Lhueng ketika diminta tanggapan oleh Serambi, Kamis (24/5/2012) menolak tudingan penyakit gatal-gatal yang diderita warga, dikaitkan dengan limbah pabrik sagu miliknya.
Karena menurut Sawal, limbah sagu tidak menyebabkan penyakit. Malahan, katanya, limbah sagu bisa menjadi umpan ikan yang hidup dalam air tawar. “Limbah sagu bisa menjadi makanan ikan air tawar,” katanya.
Dia menambahkan, limbah sagu sebenarnya dapat diolah menjadi pupuk dan pakan ternak. Sayangnya, pemerintah setempat tidak memberdayakan limbah sagu yang dihasilkan sebagai bahan yang bermanfaat. “Saya bersedia mengolah limbah sagu menjadi pupuk kompos atau pakan ternah, tapi perhatian pemerintah belum ada,” demikian Sawal. (nun) | CS001