Liputan Idul Fitri 1433 H
Sebagian Warga Pidie Mulai Tinggalkan Tradisi Perang
Seiring damai yang semakin bersemi di Aceh, sebagian besar warga di pedalaman Pidie mulai meninggalkan tradisi perang-perangan di malam lebaran
Laporan Zainal
Arifin M Nur | Pidie
SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Warga yang bermukim di puluhan
desa dalam kecamatan Delima, Mila, dan Indrajaya, mulai meninggalkan tradisi
perang-perangan yang melibatkan meriam bambu dan bom karbit, pada malam hari
Raya Idul Fitri. Seiring damai yang semakin bersemi di Aceh, sebagian
besar warga di kawasan pedalaman Pidie ini, mulai menganggap perang-perangan
ini sebagai kegiatan yang mubazir dan menimbulkan dampak tidak baik terhadap
masyarakat sekitar, terutama bagi anak-anak kecil dan para orang tua.
"Alhamdulillah,
kegiatan toet bude trieng (perang
meriam bambu) dan karbit di malam Idul Fitri tahun ini sudah hilang total di
Kemukiman Reubee, Bambong, Beuah (Kecamatan Delima), sebagian di Kecamatan
Mila, dan sebagian di Kecamatan Indrajaya," ungkap Ketua DPP Gerakan
Intelektual Se-Aceh (GISA), Tgk Mukhtar Syafari, melalui pesan singkat kepada Serambinews.com,
malam tadi.
Bahkan,
kata Mukhtar, di desa kelahirannya, Gampong Mesjid Reubee yang beberapa tahun
lalu paling semarak dgn meriam-meriam karbitnya, tahun ini berganti dengan
lantunan takbir.
Pawai
Takbir keliling Pidie dilaksanakan oleh oleh Pengurus Besar Rabithah
Muta'allimin Pidie Se-Aceh (PB RAMPI), bekerja sama dengan DPW Gerakan
Intelektual Se-Aceh (GISA) Pidie, dengan dukungan penuh dari Pemerintah
Kabupaten Pidie dan Pemerintah Aceh. "Pawai takbir berlangsung sangat
semarak, lebih semarak dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, kami baru saja
bertemu dengan Bupati Pidie, Tgk Sarjani Abdullah, dan beliau menyatakan sangat
senang serta menyatakan akan memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan pawai
takbir ini," ujarnya.
RAMPI,
lanjut Mukhtar Syafari, sudah intens melaksanakan takbir keliling Pidie sejak
tahun 2008. Mereka juga gencar menyuarakan agar warga menghindari kegiatan yang
bersifat hura-hura di malam Idul Fitri, seperti membakar petasan, serta
perang-perangan yang melibatkan meriam bambu dan bom karbit.
"Alhamdulillah
perjuangan ini mulai membuahkan hasil, di mana warga yang bermukim di puluhan
desa dalam tiga kecamatan yang selama ini dikenal sebagai pusat kegiatan perang
meriam bambu, mulai meninggalkan kebiasaan itu dan menggantinya dengan kegiatan
takbiran, baik ikut pawai bersama kami maupun membuat pentas di depan masjid
atau meunasah. Bahkan di beberapa desa, mereka juga menggelar kenduri syukuran
dengan memotong kambing," ujarnya.
Pernyataan
Mukhtar ini diakui oleh beberapa tokoh masyarakat dan pemuda di Kemukiman
Reubee, Kecamatan Delima. "Pada malam Idul Fitri tahun ini
kita menyelenggarakan lomba takbiran tingkat kanak-kanak antar dusun, di halaman
mushalla. Alhamdulillah, acara ini berlangsung semarak," ungkap
Hafifuddin, tokoh masyarakat Gampong Tanjong Reubee, kepada Serambinews.com.