Liputan Idul Fitri 1433 H
Mereka yang Tetap Bekerja di Hari Raya
Meskipun mengorbankan Lebaran bersama keluarga, ia tetap berupaya menjalankan tugas penuh dedikasi.
Memang bukan kali ini saja Ngadiri sekeluarga merayakan Lebaran di kapal. Sejak bergabung di KMP Prima Nusantara empat tahun lalu, Ngadiri sekeluarga selalu merayakan Lebaran di kapal.
”Setelah Lebaran, kami baru boleh cuti 10 hari pasca-Lebaran,” kata Ngadiri. Sang istri memakluminya. ”Tugas melayani publik adalah bagian dari ibadah. Karena itu, kami sekeluarga ikhlas berlebaran di kapal,” ujar Nuryana.
Ngadiri masih beruntung bisa mengajak keluarganya, tetapi tidak bagi mualim III, Samsudin (48). Sejak bekerja di kapal 15 tahun lalu, Samsudin tak pernah merayakan Lebaran bersama keluarganya di Sidoarjo, Jawa Timur.
”Mereka (kru kapal) jadi pengobat rasa sedih karena tak bisa Lebaran dengan keluarga,” kata Samsudin (48).
Berlebaran di kapal bersama keluarga mendapat dukungan dari PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Cabang Utama Merak. Demikian dikatakan Mario Sardadi Oetomo dari bagian humas. Hal itu asalkan layanan kepada publik tak terabaikan. ”Selama Lebaran, kapal tak boleh berhenti. Karena itu, saat Lebaran, kru kapal mengibaratkan kapal sebagai daratan. Suasananya diciptakan seperti Lebaran di kampung halaman,” ujarnya.
Jalur yang menghubungkan Jawa dan Sumatera—sejauh 30 kilometer dan bisa ditempuh sekitar 2 jam—selama ini memang dikenal sebagai jalur padat, apalagi saat Lebaran. Tak mengherankan jika kru kapal penyeberangan tak boleh cuti.
Senior Manajer Nautika PT Pelayaran Nasional Indonesia Kapten Yanto Duriyanto mengatakan hal senada. Selama menjadi nakhoda, berkali-kali malam Takbiran dan Lebaran dilewatinya di atas kapal.
Kalau Ngadiri dan Samsudin beruntung bisa berlebaran di kapal, ada juga orang yang sama sekali tak bisa berlebaran. Sulaeman (51) adalah salah satunya. ”Selama hampir 30 tahun tugas, saya sering dapat piket saat Lebaran. Jadi hampir sudah seperti rutinitas,” ujarnya.