Liputan Idul Fitri 1433 H
Mereka yang Tetap Bekerja di Hari Raya
Meskipun mengorbankan Lebaran bersama keluarga, ia tetap berupaya menjalankan tugas penuh dedikasi.
Menurut dia, ini risiko pekerjaan sebagai petugas jaga palang pintu kereta api. ”Saya bersyukur tak bertugas di daerah sepi karena sekarang ini kondisinya sudah lebih baik dibanding dulu,” kata Sulaeman yang menjaga pelintasan kereta api di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Meskipun mengorbankan Lebaran bersama keluarga, ia tetap berupaya menjalankan tugas penuh dedikasi. Kebetulan ia memperoleh jadwal jaga sejak malam takbiran hingga masuk Idul Fitri. Ia juga tak bisa ikut shalat Idul Fitri.
Namun, ia bersyukur keluarganya memahami profesinya. Karena tak bisa berlebaran di rumah, Sulaeman pernah membawa anak-anaknya untuk menemaninya saat malam takbiran. ”Adakalanya mereka membawakan makanan,” ujar Sulaeman, yang menyekolahkan anaknya hingga kuliah.
Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat Kepolisian Resor Purwakarta, Jawa Barat, Ajun Komisaris Agun Guntoro masih ingat jelas pertanyaan yang dilontarkan kedua anaknya berkali-kali setiap menjelang mudik Lebaran.
”’Kapan kita bisa Lebaran bersama seperti orang lain, Pak?’ Pertanyaan itu tak mudah dijawab. Namun, saya selalu tekankan bahwa ini tugas sebagai anggota kepolisian,” ujar Agun yang memimpin 22 anggotanya sejak H-7 hingga H+7 Lebaran untuk melancarkan arus lalu lintas di Pintu Tol Sadang.
Hal yang sama dilakukan Nani Hartini, petugas Dinas Kesehatan Purwakarta. Sejak 15 tahun lalu, ia selalu kebagian tugas menjaga posko kesehatan mudik Lebaran di Purwakarta. Ia hanya punya waktu 1-2 jam untuk kumpul bersama keluarga saat Lebaran.
Bertugas saat Lebaran menjadi kenyataan yang tak terelakkan oleh mereka yang memiliki tugas dan tanggung jawab besar untuk melayani sesama. Meski demikian, mereka tak mau larut dalam kesedihan. Kerja tetap menjadi yang utama bagi mereka. (APA/CHE/ADH/EKI/ILO)