Rabu, 20 Mei 2026

Citizen Reporter

Orang Aceh di Pulau Langkawi

KEBERADAAN orang Aceh di Malaysia, khususnya mereka yang dilahirkan di Malaysia dan bisa bertutur dalam bahasa Aceh selalu saja menjadi

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto Orang Aceh di Pulau Langkawi
FERDI NAZIRUN SIJABAT
OLEH FERDI NAZIRUN SIJABAT, mahasiswa Program Master of Science Management Othman Yeop Graduate School of Business Universiti Utara Malaysia (UUM), melaporkan dari Malaysia

KEBERADAAN orang Aceh di Malaysia, khususnya mereka yang dilahirkan di Malaysia dan bisa bertutur dalam bahasa Aceh selalu saja menjadi kisah menarik untuk ditelusuri, seperti halnya warga Kampung Aceh di daerah Yan, Pulau Langkawi. Jarak tempuhnya sekitar 1,5 jam melalui jalur laut dari Kuala Kedah. Di Kedah sendiri sebagai pulau tujuan wisata, terdapat banyak warga Aceh.

Saya dan Hadi Hidayat, mahasiswa UUM yang sepekan terakhir sedang ikut latihan kerja di Majelis Perbandaran Langkawi Bandaraya Pelancongan (MPLBP) terheran-heran ketika tahu sedikitnya ada lima pegawai di MPLBP ini keturunan Aceh. Identitas mereka satu per satu terkuak, setelah mengakui bahwa leluhur mereka adalah Aceh tulen.

Ketika pertama kali berada di pejabat (kantor) MPLBP, Encik Zaki Kepala Jabatan Khidmat Pengurusan memperkenalkan kami dengan Encik Sobri. Dia adalah staf bagian sumber daya manusia yang istrinya keturunan Aceh. Sobri menguasai beberapa kosakata Aceh, seperti pajoh bu dan jep ie, sebab mertuanya orang Aceh yang diakuinya masih fasih berbahasa Aceh.

Setelah ditempatkan di Jabatan Perancangan dan Pembangunan, ketua jabatan ini bernama Encik Jamil, memperkenalkan kami dengan staf administrasi, Azhar bin Ahmad dan Basri bin Suib. Keduanya keturunan Aceh, tapi belum pernah ke Aceh dan tak bisa berbahasa Aceh. Menurut Azhar, kakeknya Nyak Lampoh dan lima saudaranya orang Aceh yang sudah lama sekali menetap di Langkawi. Sama seperti Azhar, Basri juga keturunan Aceh.

Basri hanya ingat cerita kakeknya, orang tua dari kakeknya dulu adalah utusan Sultan Aceh ke semenanjung Malaysia. Tiga bersaudara berangkat ke semenanjung, mereka pertama kali tiba di Kedawang, wilayah barat Pulau Langkawi. Setiba di sini mereka kemudian terpisah. Ada yang menetap di Parit Buntar, Pulau Penang, dan Langkawi. Di depan kolega sekantornya, Basri tampak juga tak ragu-ragu mengakui dirinya keturunan Aceh. Dalam satu mesyuarat (rapat) di Jabatan Perancangan dan Pembangunan, Basri juga memperkenalkan kami kepada Encik Fadzli yang bertugas di Jabatan Jurutera (Teknik). Fadzli ternyata saudara Encik Azhar, mereka sama-sama cucu dari Nyak Lampoh. Setiap Lebaran, biasanya keluarga-keluarga keturunan Aceh yang ada di seluruh Malaysia pulang ke Langkawi untuk merayakan Lebaran.

Mereka juga merekomendasikan agar kami mencicipi masakan Aceh di restoran Sinaran Langkawi yang terletak di Jalan Pandak Mayah 1 Bandar Kuah. Memang benar, restoran ini pemiliknya adalah orang Aceh, Tok Affat. Pria kelahiran Langkawi tahun 1929 ini mengaku acap bolak-balik ke Aceh menjenguk saudaranya. Restoran itu kini dikelola anaknya Tok Affat, Kak Na. Tok Affat dan keluarganya tinggal di kawasan Padang Lalang. Selain di Padang Lalang, orang Aceh juga banyak menetap di Kampung Kisap dan Kedawang. Di restoran ini ada dua anak muda Aceh yang jadi pelayan.

Masih di sekitar Bandar Kuah, suatu hari tanpa disangka saat sedang istirahat dan minum teh tarik di kafe yang letaknya persis di sebelah MPLBP, kami bertemu dengan warga Aceh lainnya. Pak Ata namnya, sekitar 10 tahun lebih muda dari Tok Affat. Adalah istrinya, Bu Ana yang membeberkan identitas beliau. “Anak dari Aceh ya, suami saya juga orang Aceh,” katanya.  Saat pertama kali disapa, Pak Ata tampak bercakap Melayu. Namun, setelah tahu kami berasal dari Aceh barulah beliau tersenyum dan langsung berbicara bahasa Aceh. Sayangnya, beliau sama sekali belum pernah ke Aceh. Tapi aura keacehannya  masih jelas terlihat dari raut wajah dan pembicaraannya.

Selain itu, di kawasan Mukim Ulu Melaka, sekitar 13 km dari Bandar Kuah, ibu kota Langkawi, di tepi jalannya tampak pamflet bertuliskan Makam Purba (Maksudnya Makam Kuno). Lokasinya sekitar 100 meter arah kiri dari pinggir jalan Ulu Melaka, tepatnya di Kampung Hutan Buloh. Ada jalan kecil belum teraspal selebar 4-5 meter sebagai akses masuk ke kawasan itu yang kini dikelilingi oleh hunian warga.

Di papan informasi dekat makam itu ada penjelasan bahwa kuburan ini kemungkinan adalah pendatang dari Aceh yang dikenali lewat identitas batu nisan khas Aceh. Makam ini ditemukan Ahmad bin Bulat, warga setempat, saat menggali tanah tahun 1975. Cukup beralasan kenapa kami diajak ke makam kuno ini, karena ini sebagai bukti “pendudukan” warga Aceh di tanah Langkawi sejak ratusan tahun silam.  

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved