Minggu, 7 Juni 2026

Citizen Reporter

Di Brunei, Pejalan Kaki Sangat Dihormati

BRUNEI Darussalam merupakan negara yang makmur, tenang, damai, dan sejahtera. Negeri ini menerapkan syariat Islam dalam pemerintahannya

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto Di Brunei, Pejalan Kaki Sangat Dihormati
IMA DWITAWATI MBA
OLEH IMA DWITAWATI MBA, Peserta Brunei-US English Enrichment Program for ASEAN 2012 dari LPSDM Aceh, melaporkan dari Brunei

BRUNEI Darussalam merupakan negara yang makmur, tenang, damai, dan sejahtera. Negeri ini menerapkan syariat Islam dalam pemerintahannya. Masalah yang sangat menonjol di negara kaya ini adalah tidak adanya angkutan umum (public transportation) yang memungkinkan pendatang untuk bebas bereksplorasi mengunjungi berbagai tempat di Brunei.

Masalah yang lain adalah kurangnya lahan parkir di pusat-pusat perbelanjaan. Setiap warga Brunei memiliki mobil, karena mobil di sini merupakan kebutuhan pokok. Bahkan tenaga kerja asing pun memiliki mobil. Jika tak punya mobil pribadi, maka ruang geraknya akan sangat terbatas, karena ketiadaan transportasi umum.

Sejauh yang saya amati, ada hal menarik dari pengendara mobil di Brunei. Ketika ada pejalan kaki yang hendak menyeberangi jalan, pengendara mobil langsung berhenti. Ia mengangkat tangan dan mempersilakan pejalan kaki menyeberang. Mereka sangat menghormati dan monomorsatukan para pejalan kaki (pedestrian).

Jalan-jalan di Brunei semuanya highway dan itu gratis tanpa bayar (toll free). Harga bahan bakar juga hanya 30 sen per liter. Murahnya harga minyak ikut menjadi faktor pendorong banyaknya warga memiliki kendaraan pribadi di Brunei.

 Muzium Brunei
Saat ikut Program Brunei-US English Learning Enrichment Program for Asean 2012 di University of Brunei Darussalam baru-baru ini, saya sempat mengunjungi Muzium Brunei. Museum ini memiliki galeri kesenian Islam, sejarah, dan teknologi industri perminyakan di Brunei Darussalam. Juga terdapat galeri ilmu alam, tradisi kebudayaan Brunei, arkeologi, sejarah Brunei, dan galeri kemerdekaan Negara Brunei.

Dokumentasi masa lalu dan masa kini itu perlu, sehingga ketika generasi berikutnya hadir meneruskan kehidupan di muka bumi ini, maka ia tidak akan lupa identitas dan dari mana ia berasal.

Saya dan beberapa teman juga menuju Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien, masjid nomor satu di Brunei Darussalam. Masjid berkubah emas ini benar-benar memukau, bagai terapung di tengah danau. Masjid ini menjadi salah satu situs yang bakal selalu dikunjungi wisatawan jika datang ke Brunei.

Setelah beberapa menit berada di masjid ini, kumandang azan zuhur pun menggema melalui pelantang suara di menara masjid. Saya bergegas menuju tempat wuduk dan bersemangat untuk ikut shalat berjamaah. Tempat jamaah perempuan luasnya kira-kira hanya seperdelapan dari luas masjid, berada di sisi kiri masjid.

Pada kesempatan itu pula saya lihat jumlah jamaah pria tidak lebih dari satu saf. Padahal, masjid ini berhadapan langsung dengan pusat perbelanjaan yang sangat ramai pengunjungnya. Ketika itu saya teringat Masjid Baiturrahman dan Masjid Al-Makmur di Banda Aceh yang jamaahnya hampir selalu ramai. Kesan saya, semangat berjamaah orang Aceh ternyata lebih tinggi daripada rakyat Brunei.

Seusai shalat Zuhur di Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien, kami bergegas menuju Royal Regalia. Tempat ini merupakan sebuah bangunan yang mendokumentasikan secara lengkap sejarah Kesultanan Brunei. Di tempat ini digambarkan latar belakang keluarga, pendidikan, pengangkatan sebagai sultan, hingga dokumentasi hubungan internasional Kerajaan Brunei dengan negara-negara lain. Menariknya lagi, di tempat ini juga digambarkan karakter dan kesukaan Sultan Brunei. Tempat ini sungguh merupakan wahana bagi rakyat Brunei untuk kenal lebih dekat dengan sultannya. Luar biasa.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved