Penembakan di Aceh

Senjata Penembak Etnis Jawa Selalu Sama

Semua penembakan di Aceh yang dilakukan kelompok Ayah Banta Cs ternyata menggunakan senjata yang sama, yakni jenis AK-56, M-16

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Senjata Penembak Etnis Jawa Selalu Sama
SERAMBI/FIKAR W EDA
Ayah Banta Cs menyalami tim kuasa hukum seusai sidang di PN Jakarta Pusat, Senin (12/11).
* Keterangan Saksi Ahli di Sidang Ayah Banta Cs

JAKARTA - Semua penembakan di Aceh yang dilakukan kelompok Ayah Banta Cs ternyata menggunakan senjata yang sama, yakni jenis AK-56, M-16 dan senjata laras pendek jenis revolver. Kesimpulan itu disampaikan Ir AKBP Sapto Sri Suhartomo dari Laboratorium Forensik Cabang Medan saat menjadi saksi ahli dalam sidang lanjutan kasus teror terhadap etnis Jawa, dengan terdakwa Fikram alias Ayah Banta, Kamaruddin alias Mayor, Jamaluddin alias Dugok, Mansyur alias Mancuk dan Sulaiman alias Ule Bara di PN Jakarta Pusat, Senin (12/11).

Sapto menjelaskan, dari hasil analisa yang dilakukan pihaknya, senjata AK-56 digunakan untuk penembakan etnis Jawa di PT Satya Agung, 4 Desember 2011, penembakan terhadap pekerja galian Telkom di Bireuen, penembakan Saiful Bahri dan Babon. Sedangkan senjata M-16 digunakan pada peristiwa di PT Setya Agung dan penembakan rumah Misbahul Munir, 11 Januari 2012. Senjata laras pendek jenis revolver digunakan pada penembakan penjaga toko Istana Boneka berdarah Jawa, dan penembakan pekerja bangunan etnis Jawa di Bedeng atau Barak Aneuk Galong.

Menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim Nawawi Pomolango SH, saksi Sapto mengatakan AK-56 dan M-16 adalah jenis senjata yang dulu pernah digunakan TNI/Polri. “Tapi sekrang tidak lagi,” katanya. Selain meneliti tentang senjata-senjata itu, Laboratorium Forensik Cabang Medan juga menganalisa empat bom pipa yang ditemukan di kawasan Gunung Geureutee. “Itu jenis bom yang memiiliki daya ledak rendah, tapi bisa mematikan kalau kena manusia,” kata saksi.

Saksi menjelaskan, bom tersebut dirakit di sebuah rumah toko di Jalan Embang Punteut Desa Alue Majron Simpang Cot Matahe Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara. “Kita menemukan sisa-sisa bahan rakitan identik di ruko tersebut,” katanya.

Sebelumnya, jaksa penuntut umum (JPU) membeberkan rangkaian kekerasan bersenjata tersebut meliputi peristiwa di perkebunan PT Satya Agung, pada 4 Desember 2011 menewaskan tiga orang, penembakan penjaga toko Istana Boneka Banda Aceh, 31 Desember 2011, penembakan buruh bangunan asal Jawa di Bedeng atau Barak Aneuk Galong pada 5 Januari 2012 dengan korban tewas satu orang dan dua luka-luka.

Peristiwa lain adalah penembakan rumah pribadi Wakil Ketua DPRK Aceh Utara Misbahul Munir di Desa Keude Krueng, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, serta pemasangan bom pipa yang diletakkan di kawasan Gunung Geureute, jalur yang akan dilintasi rombongan Irwandi Yusuf.(fik)

Tak Mengarah ke Terorisme
KUASA hukum Ayah Banta Cs, Maderahman Marasabessy, membantah bahwa Ayah Banta Cs melakukan tindak pidana terorisme. “Itu semua adalah tindak pidana umum, dan sama sekali tidak mengarah kepada tindak terorisme,” kata Maderahman, menanggapi keterangan saksi ahli.

Ia menunjuk tentang letak bom pipa yang menurut saksi ahli ditujukan hanya kepada satu arah. “Itu kan fakta yang ada di persidangan,” tukas Maderahman.(fik) 

---------
Saksikan konser kemanusian untuk Rakyat Palestina bersama Fadly (Padi), Sulis (Cinta Rasul), Tim Nasyid Izzatul Islam dan Rafli Kande, 18 November 2012 di AAC Dayan Dawood.
Infaq dapat juga disalurkan melalui Rek BSM Nomor 707 555 6661 a.n KNRP Aceh | Info: 0877 4757 6844.

Komite Nasional Untuk Rakyat Palestina (KNRP) Aceh adalah lembaga kemanusian yang peduli permasalahan Masjid Al-Aqsa dan isu kemanusian rakyat Palestina.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved