Buruh Blokir Bandara Polonia
Sedikitnya 20 calon penumpang pesawat di Bandara Polonia, Medan, Rabu (5/12), terlambat terbang akibat terjebak di kerumunan massa
* 20 Penumpang Terlambat Terbang
MEDAN - Sedikitnya 20 calon penumpang pesawat di Bandara Polonia, Medan, Rabu (5/12), terlambat terbang akibat terjebak di kerumunan massa pengunjuk rasa yang memblokir jalur bandara. Selain menduduki bandara, massa buruh yang menuntut upah minimum provinsi (UMP) sebesar Rp 2,2 juta itu juga memblokir pintu tol.
Pemblokiran ruas jalan menuju Bandara Polonia itu mulai dilakukan massa Pekerja Buruh Melawan (PBM) sejak pukul 10.00 WIB. Mereka melarang setiap kendaraan yang akan masuk ke terminal keberangkatan bandara. Akibatnya, puluhan calon penumpang yang tiba dengan kendaraan umum, maupun kendaraan pribadi, terpaksa jalan kaki dari Jalan Juanda menuju pintu bandara yang berjarak sekira 100 meter.
“Penderitaan yang kami alami harus kalian rasakan juga. Kami hanya ingin hidup layak, tolong naikkan upah buruh!” teriak seorang orator di antara massa.
Station Manager Airport Duty Manager (OIC) Bandara Polonia Medan, Djamal menyebutkan data yang diterima hingga pukul 13.00 WIB sudah terdapat 20 calon penumpang yang terlamat terbang. Ia mengaku sangat menyesalkan tindakan massa, karena sudah mengganggu kenyamanan publik.
“Kejadian ini sudah kami prediksi. Jadi, antisipasi terhadap calon penumpang yang terlambat sudah ada solusinya,” kata Djamal.
Sehari sebelum terjadinya aksi unjuk rasa itu, ia sudah berkoordinasi dengan seluruh maskapai yang memiliki jadwal penerbangan di Bandara Polonia untuk memberikan kelonggaran bagi penumpang. Salah satu kesepakatan itu ialah tidak membebankan denda bagi penumpang yang terlamat check in. “Kalau terlambat terbang, maka penumpang tersebut akan diterbangkan pada jadwal berikutnya oleh maskapai yang sama,” tuturnya.
Aksi pendudukan bandara itu menarik perhatian Kapolda Sumut, Irjen Wisjnu Amat Sastro, sehingga ia turun ke lokasi. Dalam dialog dengan perwakilan buruh, Wisjnu mempersilakan pengunjuk rasa menyampaikan aspirasinya secara santun dan tertib.
“Saya dukung kalau tertib. Silakan sampaikan dengan santun. Tapi jangan sampai mengganggu atau merusak sarana publik,” ujarnya. Ia mengatakan polisi bersama muspida sudah memberikan hak buruh menyampaikan orasinya mengenai penolakan revisi UMP 2013 yang tidak sesuai dengan tuntutan buruh. Tapi ia juga menagih kewajiban para buruh untuk menaati hukum yang berlaku.
“Nanti kami tagih kewajiban buruh untuk mematuhi aturan hukum. Jadi, hak dan kewajiban harus bisa sama-sama kita jaga,” kata Wisjnu. Disebutnya, aksi pendudukan Bandara Polonia sangat mengganggu kenyamanan publik, apalagi menimbulkan macat di sejumlah lokasi. “Makanya paling lama jam 6 sore harus sudah bubar,” katanya.
Tak lama berselang, massa pun langsung membubarkan diri, sehingga akses ke bandara kembali normal. Selanjutnya massa memfokuskan aksinya di Kantor Pemprov Sumut.
Ratusan massa gabungan dari berbagai aliansi buruh di Kabupaten Deliserdang, Sumut, juga melakukan aksi blokir pintu masuk Kawasan Industri (KI) Star di Tanjungmorawa (Tamora), dalam upaya menggalang massa, Rabu pagi.
Pemblokiran pintu masuk KI Star dilakukan untuk mencegah para buruh bekerja hari ini (Rabu, 5/11) dengan maksud agar bergabung dengan rekan-rekan buruh lainya untuk berunjuk rasa di Medan, dalam rangka menuntut kembali kenaikan UMP Sumut yang layak. Padahal, UMP sudah direvisi dari Rp 1.305.000 menjadi Rp 1.375.000. Namun, para buruh masih keberatan, karena dianggap belum mengakomodasi kebutuhan mereka sehari-hari.
Aksi sweeping pabrik di Kawasan Industri Tanjungmorawa (Tamora) oleh massa buruh, sempat ricuh. Massa dari aliansi buruh yang mendatangi pabrik obat antinyamuk di Gang Sawi, Jalan Kebun Sayur, Desa Tanjung Morawa B, Kecamatan Tanjung Morawa, nyaris bentrok dengan petugas keamanan PT Mayatok.
Sekitar 20 buruh yang melakukan penyisiran di pabrik ini, semula meminta pihak keamanan mengeluarkan sepuluh buruh perwakilan pabrik tersebut, agar bergabung dengan masa buruh lainya untuk menggelar aksi unjuk rasa ke Medan, menuntut kenaikan upah.
Aksi konvoi ribuan buruh dari sejumlah pabrik yang berada di Kawasan Industri Medan (KIM) itu juga sempat memacetkan lalu lintas (lalin) di sepanjang Jalan Komodor Laut Yos Sudarso Medan, persisnya di daerah Pulo Brayan. Kemacetan hampir satu kilometer.
Diperkirakan 20 ribuan buruh memadati jalan tersebut, sehingga macetnya hingga hingga petang hari. Dalam konvoi tersebut, para buruh meminta Gubernur Sumut menetapkan upah buruh dan menghapuskan buruh kontrak atau outsourcing. (lau/mad)