Fam Trip Garuda

Bersitegang di Ladies Market

Ya, itulah penggalan akhir tembang megahits Stairway to Heaven yang dilengkingkan rocker gaek Robert Plane

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Bersitegang di Ladies Market
SERAMBI/NURDINSYAM
Ladies Market di Hongkong.
PENGANTAR REDAKSI - PT Garuda Indonesia Airways (GIA) Banda Aceh menerbangkan pelaku pariwisata dari jajaran birokrat, travel, dan kalangan perbankan menuju Hong Kong, Macau, dan Cina dengan tajuk Fam Trip (Familisation Trip). Perjalanan selama 9-15 Desember itu dipimpin Yudhi Muhammad Furqan, Sales Manager Garuda Banda Aceh. Wartawan senior Serambi Nurdinsyam ikut dalam rombongan itu dan menuliskan kisah perjalanannya untuk Anda dalam tiga tulisan, mulai hari ini.

AND she’s buying a stairway to heaven... Ya, itulah penggalan akhir tembang megahits Stairway to Heaven yang dilengkingkan rocker gaek Robert Plane, vokalis grup band legendaris Led Zeppelin. Lagu yang saya unduh dari audio tempat duduk pesawat Garuda Flight GA 0876, lewat album Led Zeppelin Celebration Day itu baru saja berlalu, sejenak suara renyah pramugari menggema. Ia memberitahukan bahwa kami segera mendarat di Hong Kong International Airport atau Bandara Chai Lan Kok, Hong Kong.

Jarum jam menunjukkan pukul 05.40 waktu Hong Kong atau 04.40 WIB. Udara dingin dengan suhu 16 derajat Celsius langsung menyergap. Kami baru saja menyudahi perjalanan nonstop selama 4 jam 35 menit dari Cengkareng, Jakarta.

Proses di imigrasi berjalan lancar. Kami langsung menyambar bagasi kabin yang telah tertumpuk di pintu ke luar. Seorang lelaki kurus dengan kartun bertuliskan Fam Trip Garuda di dada langsung menyapa ramah kami. Dia adalah Ajok, pria Cina kelahiran Bandung. “Selamat datang di Hong Kong,” katanya seraya menyalami kami satu per satu. Ajok adalah guide kami selama di Hong Kong.

Ajok telah menyiapkan ‘makanan muslim’ untuk kami di satu restoran pada lantai lima Bandara Chai Lan Kok. Hanya sebagian yang menyantap sarapan suguhan Ajok. Sebab, sekitar satu jam sebelum landing, Garuda telah menyuguhkan sarapan untuk para penumpangnya.

Hong Kong memang bersih dan serba teratur, mulai dari bandara hingga jalan raya. Tak terbayang di benak warga Hong Kong yang jumlahnya 7 juta jiwa itu untuk menerobos lampu merah atau sekadar membuang sampah di luar tempatnya. Denda menanti dia senilai 5.000 dolar Hong Kong--kurs Rp 1.250 per 1 dolar Hong Kong--untuk pembuang sampah serta 1.500 dolar Hong Kong untuk penerobos lampu merah. Bandingkan dengan negeri geutanyoe yang kadang malah bangga telah membuang sampah di jalan serta sekalian menerobos lampu merah.

Hong Kong yang luasnya sekitar 1.103 km2, terdiri atas tiga pulau yang disambung dengan jembatan dan jalur bawah laut. Hong Kong tak melulu diwarnai gedung pencakar langit, baik apartemen maupun hotel, tapi juga dipenuhi pegunungan asri. Bahkan di antara gedung juga menyembul hutan kota. Gedung-gedung megah bak menancap di perut bukit, bahkan kadang dengan kelerengan yang terjal. Hong Kong benar-benar megah! “Warga kami seperti mengerucut jumlahnya. Karena pasangan muda umumnya tak mau memiliki anak dan lebih memilih memelihara anjing atau kucing,” ujar Ajok setengah tertawa saat bus berjalan.

Ia juga menawarkan wisata mandiri keliling Hong Kong dengan tarif angkutan 5 dolar Hong Kong per stopan serta 20 dolar Hong Kong per kilometer jika naik taksi.

Hong Kong murni menawarkan suasana kota yang glamour, sehingga menjadi kue yang dikerubungi semut. Sebagai contoh, upah minimum regional (UMR) di bekas koloni Inggris dan sejak 1 Juli 1997 diserahkan ke Cina itu, mencapai 28 dolar Hong Kong/jam. Tak heran jika TKW berbondong-bondong ke Hong Kong.

Selain Museum Madamme Tussauds yang memajang nyaris seluruh tokoh dunia, mulai dari Mahatma Gandhi hingga Obama, Elvis Presley hingga Amita Bachan, Hong Kong juga memiliki pusat transaksi tradisional, Ladies Market.

Salah satu jualan utama Museum Madamme Tussauds Hong Kong adalah patung lilin Jackie Chan yang diletakkan di pintu masuk terdepan. Anda harus merogoh kocek 20 dolar Hong Kong untuk sekadar berfoto dengan patung Jackie Chan.

Di Ladies Market kita bisa berjibaku menawar harga, bahkan sampai bersitegang urat leher dengan pemilik kedai kaki lima di kawasan Kwan Road atau sepanjang Shan Street, saat membeli barang. Baik busana, perhiasan, maupun pernak-pernik lainnya.

Ada keharuan tersendiri, saat kami mampir di masjid yang terletak di Yat Sin Street untuk shalat dan makan siang di restoran muslim dalam kawasan itu. Setelah santap siang, kami bergegas berwudhuk, lamat-lamat terdengar suara lirih wanita muda mengaji. “Mereka adalah wanita TKW yang berlatih mengaji, karena hari ini hari Minggu (libur),” ujar seorang wanita di rombongan kami.

Hong Kong memang warna-warni yang memesona, terutama ketika kita menatap dari Avenue Osta Kowloon, ke deretan gedung pencakar langit yang fenomenal di seberang sana. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved