Fam Trip Garuda
Spirit Islam di Makam Saad bin Abi Waqqas
DINGIN udara pagi masih sangat terasa ketika rombongan Fam Trip Garuda meninggalkan Golden Dragon Hotel Macau
Sejenak melewati border untuk proses keimigrasian, kami telah melintas gerbang menuju Cuhai.
Acong, pemandu kami selama di Cina, sudah menanti. Lelaki paro baya ini adalah warga Cina keturunan Bali. Ayah ibunya masih berbahasa Indonesia di rumah mereka di Shenzhen. Wajar saja, Acong begitu fasih berbahasa Indonesia, malah dialek Jakartanya terasa kental.
Kami hanya melewati Kota Cuhai, sebuah kota pantai dengan jumlah penduduk 3 juta dan luas sekitar 300 km2. Seperti kota-kota lain di Cina, Cuhai terlihat apik dengan fasiltas olahraga dan taman publik yang sangat terawat di sepanjang pesisir pantai kota.
Sekitar dua jam perjalanan darat menggunakan bus wisata yang berkondisi baik serta bersih luar dalam, kami menyusuri kawasan pertanian, industri, dan apartemen belasan lantai yang menjadi hunian penduduk. Tak ada bangunan kumuh apalagi rumah kardus di sepanjang highway Cuhai-Shenzhen yang kami lewati.
Saat bersantap siang di sebuah restoran muslim menjelang Kota Shenzhen, kami bertemu rombongan wisata dari Malaysia dan Jakarta. Restoran muslim itu seperti tak pernah sepi dari pengunjung.
Shenzhen yang berpenduduk sekitar 13 juta jiwa adalah salah satu daerah tujuan wisata utama di Cina yang ditunjang fasilitas pendukung sangat memadai. Salah satunya adalah Taman Mini Cina, seperti TMII di Jakarta. Di sini juga ada teater berkapasitas 3.000 pengunjung dengan setting seperti Keong Mas TMII. Pengunjung memungkasi kunjungan dengan menonton sebuah parade budaya Cina yang dipaket secara kolosal dengan setting panggung yang kolosal pula, dalam label Splended of China.
Shenzhen makin mengundang decak kagum saat kami menginjakkan kaki di lokasi wisata Window of The World. Ya, jendela dunia! Semua keajaiban dunia tersaji di sini, mulai dari Borobudur, Angkor Wat, hingga Menara Eiffel. Window of The World ditata sangat apik, berikut musik etnik lokasi asli keajaiban dunia yang dipamerkan. Tentu saja ada denting gamelan dan gending Jawa yang bening di miniatur Borobudur.
***
SEJENAK makan siang di restoran Abdullah di pinggiran Kota Guangzhou, kami bergerak menuju satu kompleks pemakaman muslim Guanzhou. Inilah klimaks dari rangkaian tur Hongkong-Macau-Cina daratan, saat kami menjejakkan kaki di kompleks pemakaman Saad bin Abi Waqqas, salah seorang sahabat utama sekaligus paman Nabi Muhammad saw. Suasana hiruk pikuk dan glamour duniawi Hong Kong-Cina langsung lenyap berganti rasa khidmat dengan balutan religi yang tinggi.
Makam Saad bin Abi Waqqas, sahabat nabi yang berjuluk sang “Singa” serta menjadi orang pertama melepas anak panah di jalan Allah, terletak di sudut belakang kompleks yang asri dan rimbun. Seorang pria Cina tampak membaca Surah Yasin di sisi pusara Saad bin Abi Waqqas, dalam ruang 7 x 6 meter yang senantiasa semerbak.
Saad adalah satu di antara sepuluh orang yang dijanjikan surga oleh Nabi Muhammad. Ia terlibat Perang Badar, Perang Uhud, dan menjadi panglima perang saat 30.000 pasukan Islam menaklukkan Persia.
Saad membawa Islam ke Cina pada masa Khalifah Usman bin Affan tahun 644-656, ketika Cina dikuasai Dinasti Tang. Sebelumnya pada masa Khalifah Umar, Saad diklaim juga sudah menyebarkan Islam ke Cina, melalui Absinia atau Ethiopia.
Dari andil sang Singa itulah, kini 20 juta muslim bertebar di Cina, dengan pusat terbesar di Xinjian (1/6 wilayah Cina) serta Ninxia. Dan sebanyak 34.000 masjid serta sembilan institut Islam ada di Cina, seperti dikatakan Herman Su, dari travel China Moslem Holiday, saat kami bertemu di Guangzhou.
Azan zuhur berkumandang dari masjid yang bergaya Cina di bagian depan kompleks pemakaman. Sejenak memanjatkan doa di pusara Saad bin Abi Waqqas yang kala meninggal minta dikafani dengan jubah yang ia pakai saat Perang Badar itu, kami bergegas menuju masjid.
Air mata tak terbendung seusai shalat. Dengan tangan bergetar kami meraih Alquran dari sebuah sudut masjid, di antara isak dan keharuan kami baca ayat-ayat pertama Surah Albaqarah.
Pantas saja 1.400 tahun lalu, Rasulullah bersabda, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina, sekaligus mengirim utusana ke sana. Kini terbukti bagi kita, Cina memang pantas menjadi guru bagi negeri ini di banyak lini. Termasuk di bidang pariwisata tentunya.(nurdinsyam)