Rabu, 8 April 2026

STAIN Malikussaleh Lhokseumawe

Berawal dari Al-Ahwal Al-Syakhsyiyah

SEKOLAH Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikussaleh Lhokseumawe, kini terus berbenah. Tercatat jumlah mahasiswa sudah

Editor: bakri
SEKOLAH Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikussaleh Lhokseumawe, kini terus berbenah. Tercatat jumlah mahasiswa sudah mencapai 1.200 orang, dengan gedung-gedung megah dan berbagai fasilitas lainnya. Semua ini merupakan buah dari kerja keras orang-orang dahulu yang mencurahkan segenap tenaga, pikiran, serta materinya demi generasi yang hidup setelahnya.

Data dihimpun Serambi dua hari lalu, sejarah STAIN Malikussaleh diawali dengan pendirian Akademi Ilmu Agama (AIA), 12 Juni 1969. Al-Ahwal Al-Syakhsyiyah adalah program studi pertama yang dibawa oleh jurusan Syariah sejak akademi itu didirikan. AIA didirikan atas prakarsa Drs Tgk H A Wahab Dahlawi, bupati Aceh Utara saat itu, bersama sejumlah tokoh masyarakat Aceh Utara.

Pada awalnya, proses kuliah berlangsung di Desa Lancang Garam Kecamatan Banda Sakti Lhokseumawe dengan kampus yang sederhana. Baru pada tahun 2004, Presiden Megawati Soekarno Putri meresmikan kampus itu dengan nama baru, STAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Saat itu Jurusan Syariah semakin banyak diminati.

Bahkan sekarang di jurusan itu telah memiliki lebih dari 1.200 mahasiswa, setelah bertambah dua program studi lagi. Masing-masing Hukum Ekonomi Syariah, pada tahun 2011 dan Ekonomi Islam pada tahun 2012.

“Sekarang kita telah memiliki gedung sendiri di Desa Alue Kecamatan Muara Dua Lhokseumawe, dan proses perkuliahan sekarang berlangsung di kampus baru,” kata Ketua Jurusan Syariah Nazaruddin SHi MAg.

Disebutkan, gedung syariah berlantai tiga sekarang sudah bisa difungsikan sebanyak 14 ruangan untuk proses belajar, dengan dosen yang mengajar di jurusan itu 50 orang, 30 diantaranya adalah dosen tetap, mayotitas sudah magister. “Ada belasan juga dosen yang sedang menyelesaikan pendidikan doktor di luar daerah dan luar negeri,”katanya.

Karena ruang praktek belum bisa digunakan, pihaknya bekerjasama dengan sejumlah intansi lain supaya mahasiswa bisa praktek langsung. Disebutkan, untuk praktek peradilan semu, pihak bekerjasama dengan Mahkamah Syariah, kemudian untuk perbankan pihaknya bekerjasama dengan  di Bank Syariah yang ada di Lhokseumawe dan Aceh Utara.

“Lab peradilan semu, kemudian bank mini, dan lab pembahasan terhadap persoalan agama yang aktual sudah, dalam waktu dekat sudah bisa digunakan,” katanya.

Untuk mendalami ilmu falakh, mahasiswa Jurusan Syariah juga melakukan praktek di badan Hisab dan Ruqyah di kantor Kementerian Agama Aceh.(jafaruddin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved