Senin, 18 Mei 2026

Lubang Kawah Semburkan Gas

Tim Geologi Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Aceh, Rabu kemarin melakukan ekspidisi ke Kawah Cempaga (Cimpago)

Tayang:
Editor: hasyim
zoom-inlihat foto Lubang Kawah Semburkan Gas
SERAMBI/BUDI FATRIA
TIM Geologi Distamben Aceh (kiri), meninjau alat pendeteksi gempa yang dipasang pada ketinggian 795 mdpl di Gunung Seulawah Agam, Rabu (9/1). Sedangkan foto kanan memperlihatkan kondisi Kawah Cempaga menyemburkan gas.

* Kondisi Normal Namun Tetap Waspada   

BANDA ACEH - Tim Geologi Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Aceh, Rabu kemarin melakukan ekspidisi ke Kawah Cempaga (Cimpago) di lereng selatan Gunung Api Seulawah Agam, Kecamatan Seulimuem, Kabupaten Aceh Besar. Di ketinggian 1.100 meter dari permukaan laut (mdpl)--di balik selimut awan--tim menemukan 20 lubang kawah kering menyemburkan gas dengan suhu antara 95-97,5 derajat Celcius.

‘Ekspedisi Kawah Cempaga’ pada Rabu kemarin merupakan ekspedisi hari kedua setelah sehari sebelumnya, Selasa (8/1) tim serupa mendaki ke Kawah Heutz di lereng utara dengan ketinggian 700 mdpl. Kawah Heutz dan Kawah Cempaga merupakan dua kawah Gunung Berapi Seulawah Agam yang sejak 3 Januari 2013 pukul 19.00 WIB dinaikkan statusnya dari normal (level I) menjadi waspada (level II).

Penelitian tim Geologi Distamben Aceh ke Kawah Cempaga dipimpin langsung Kadistamben dan Energi Aceh, Ir Said Ikhsan didampingi Kepala Bidang Geologinya, Ir Akmal Husien dan Ketua Pengamatan Gunung Api Seulawah Agam, Ir Razali. Tim tersebut diperkuat lima anggota plus tiga awak media, yaitu dua dari Harian Serambi Indonesia (reporter Herianto dan fotografer Budi Fatria) serta dari LKBN Antara, Ampelsa. ‘Ekspedisi Kawah Cempaga’ dipantau dan disiarkan langsung oleh Radio Serambi FM 90,2 MHz.

Tidak seperti ke Kawah Heutz, misi ke Kawah Cempaga tidak melibatkan pawang gajah dan harimau namun digantikan dengan dua penunjuk jalan yang menguasai ‘karakter’ Seulawah.

Penelitian yang dilakukan kemarin termasuk memastikan berfungsi atau tidak alat pendeteksi gempa (seimometer) yang dipasang pada ketinggian 795 mdpl. Ternyata alat yang berada di tengah semak belukar yang banyak bekas-bekas tapak harimau itu dipastikan oleh tim masih bekerja untuk mengirimkan data ke Pos Pemantau Gunung Api Seulawah Agam di Lambaro Tunong, Kecamatan Lembah Seulawah pada ketinggian 130 mdpl.

“Alat itu penting dicek, karena fungsinya adalah untuk mengirim sinyal aktivitas ledakan gempa magma panas atau gempa yang terjadi pada dapur magma Gunung Api Seulawah Agam ke alat pencatat gempa (seimograf PS 2) di Lambaro Tunong,” kata Kadistamben dan Energi Aceh, Said Ikhsan.

Menurut Said Ikhsan, peralatan pemantau dan pendeteksi aktivitas Gunung Api Seulawah Agam dipasang pada 2007 atau tiga tahun pascagempa dan tsunami Aceh. Said Ikhsan mengimbau masyarakat untuk ikut menjaga keamanan peralatan yang sangat penting itu.

 Tantangan
Setelah memarkirkan kendaraan di kawasan hutan tanaman industri (ketinggian 600 mdpl), tim langsung berjalan kaki ke target pertama yaitu alat pendeteksi gempa di ketinggian 795 mdpl. Waktu tempuh untuk ‘etape’ ini cuma sekitar 45 menit. Perjalanan yang benar-benar menantang adalah dari titik 795 mdpl ke Kawah Cempaga di ketinggian 1.100 mdpl.

Meski jarak antara titik 795 ke 1.100 hanya tiga kilometer, tetapi waktu tempuh mencapai 2,5 jam dengan kemiringan 45 derajat sehingga anggota tim terkadang harus merangkak.

Pukul 11.30 WIB, tim tiba di Kawah Cempaga. Baru sekitar 10 menit berada di lokasi kawah, cuaca yang awalnya cerah mendadak berkabut hitam dengan jarak pandang tersisa sekitar 10 meter. Seulawah Agam didera petir, guntur, dan hujan. Tim geologi yang sedang mengamati dan mengukur suhu Kawah Cempaga tampak gusar. Ketua tim menginstruksikan mempercepat pekerjaan namun jangan ada item pengamatan yang luput, seperti perubahan tanah dan vegetasi di sekitar kawasan Kawah Cempaga.

 20 lubang gas
Pengamatan/penelitian Kawah Cempaga dilakukan selama 1,5 jam oleh tim geologi Distamben Aceh. Mereka menemukan 20 lubang kawah panas yang menyemburkan gas. Dari 20 lubang kawah yang menyemburkan gas itu, enam di antaranya dilakukan pengukuran. Suhunya mencapai 95-97,5 derajat Celcius.

Meski semua lubang kawah menyemburkan gas, namun menurut Said Ikhsan didampingi Kabid Geologi Distamben Aceh, Akmal Husein, kondisinya masih normal, belum seperti Kawah Heutz. Begitupun, tetap harus diwaspadai.

“Tujuan pengamatan/penelitian ke Kawah Cempaga untuk membandingkan dengan Kawah Heutz pada ketinggian 700 meter di lereng utara. Ini juga bagian dari instruksi Gubernur Aceh agar aktivitas Gunung Api Seulawah Agam di-update terus menerus dan menginformasikan perkembangannya kepada masyarakat,” kata Said Ikhsan.

Menurut Said Ikhsan, Wakil Ketua DPRA Drs H Sulaiman Abda, BNPB Pusat, Kepala BPBA terus mengontak pihaknya meminta penjelasan dan perkembangan kedua kawah Gunung Api Seulawah. “Kami jelaskan kondisinya masih normal, tapi statusnya waspada. Secara rutin seminggu sekali kami sampaikan laporannya melalui media massa agar diketahui secara luas oleh masyarakat,” ujar Said Ikhsan.

Sekitar pukul 14.00 WIB, setelah melakukan pengamatan Kawah Cempaga, tim turun ke ketinggian 975 meter untuk beristrahat dan makan minum. Ini dilakukan untuk menghindari gas beracun yang sewaktu-waktu bisa saja keluar dari salah satu lubang hingga bisa menyebabkan kematian.

Setelah sekitar setengah jam beristirahat, tim bergerak pulang. Baru 15 menit menuruni lereng gunung yang curam, hujan mengguyur dengan sangat lebat. Dalam keadaan panik karena ancaman air bah, tim menunggu hujan reda sambil berlindung di bawah pepohonan. “Ini ekspedisi terberat yang pernah saya lakukan bersama tim,” ungkap Said Ikhsan yang tampak sangat kelelahan.(her)

data dan fakta
kawah cempaga 

* Luas 200 meter persegi * Ditemukan 20 lubang kawah kering mengelurkan gas H2S, H2SO4, CO, dan CO2 * Suhu 95-97,5 derajat Celcius * Tanah di lokasi kawah berwarna kuning, putih, coklat, dan hitam seperti bekas terbakar * Banyak tanaman atau vegeta yang mati * Jumlah gempa yang terjadi pada dapur magma telah menurun dari 12 kali per hari menjadi 5 kali per 9 Januari 2013

rekomendasi tim

* Status Gunung Api Seulawah Agam tetap waspada * Masyarakat di sekitar gunung api tidak perlu takut, baik yang berada di sekitar Kawah Heutz maupun Kawah Cempaga * Tim Geologi terus memantau perkembangan gempa yang terjadi pada magma dapur Gunung Api Seulawah Agam melalui Pos Pemantauan Gunung Api di Desa Lambaro Tunong, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar * Untuk peningkatan frekuensi pemantauan ke kawah, Tim Geologi dan Pusat Pengamatan Gunung Api butuh tambahan kendaraan bermotor roda dua sebanyak tiga unit dan biaya operasional * Peralatan pencatat gempa perlu ditambah lagi yang digital untuk meningkatkan kepekaan deteksi * Penyuluhan mitigasi atau penanggulangan bencana Gunung Api perlu ditingkatkan kepada masyarakat

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved