Kisah Cinta Yusef dan Ghada di Tengah Perang Suriah
"Saya ingin perang segera berakhir, sehingga kami bisa memulai hidup kami bersama anak-anak,"
Bahkan, untuk mendapatkan restu keluarganya, Ghada butuh waktu berbulan-bulan.
"Ayah
saya adalah pendukung Assad, dan saat kami pertama kali bertemu, saya
berusaha menyembunyikan fakta bahwa Yusef bertempur bersama pasukan
pembebasan Suriah," ujar Ghada yang adalah sarjana sastra Inggris itu.
Ayah
Ghada, secara tak sengaja menemukan foto Yusef yang mengenakan pakaian
militer. Akibatnya, sang ayah melarang Ghada bertemu lagi dengan Yusef.
Namun,
YUsef -yang adalah mahasiswa pemasaran di universitas- justru
mengundang keluarga Ghada ke kawasan yang dikuasai pemberontak, tempat
Yusef tinggal.
"Saya mengundang orangtua Ghada untuk menunjukkan
bahwa pemberontak bukanlah teroris, seperti yang digembar-gemborkan
pemerintah," kenang Yusef.
"Mereka lalu menyadari kehidupan di
sini jauh lebih baik ketimbang di kawasan yang dikuasai pemerintah, di
luar pengeboman tentu saja," tambah Yusef.
Berharap Perdamaian
Ghada
dan Yusef pertama kali bertemu lewat satu dari ratusan akun Facebook
yang dikelola aktivis Suriah yang menentang rezim Bashar al Assad.
"Yusef dan saya kemudian memulai chatting karena foto profil saya di Facebook adalah seekor anak kucing. Yusef sangat suka kucing," ujar Ghada.
Cinta keduanya kemudian tumbuh di tengah Aleppo yang terbagi-bagi antara kawasan pro dan anti pemerintah.