Kisah Cinta Yusef dan Ghada di Tengah Perang Suriah
"Saya ingin perang segera berakhir, sehingga kami bisa memulai hidup kami bersama anak-anak,"
"Kami
hanya pernah bertemu empat kali. Ghada tinggal di kawasan yang dikuasai
pemerintah. Dan jika saya pergi ke sana saya pasti dibunuh karena saya
anggota pemberontak," kata Yusef.
"Seringkali juga terlalu
berbahaya bagi Ghada untuk mengunjungi saya. Jadi kami menghabiskan
waktu selama tujuh bulan terakhi lewat internet dan telepon," kata
Yusef.
Kini keduanya sudah menikah dan berharap memiliki
setidaknya dua orang anak, meski keduanya memiliki pemikiran berbeda
soal masa depan.
"Saya ingin anak-anak saya ikut berjuang dalam
perang atau membangun kembali negeri ini jika konflik berakhir," kata
Yusef bangga.
Namun, saat ini Ghada hanya memimpikan perdamaian datang sesegera mungkin.
"Saya ingin perang segera berakhir, sehingga kami bisa memulai hidup kami bersama anak-anak," harap Ghada.
Dengan kondisi perang belum kunjung berakhir, Ghada kahwatir keluarganya harus pergi meninggalkan Suriah dan menjadi pengungsi.
"Saya tak ingin meninggalkan Suriah. Namun, bisa saja pikiran saya berubah karena yang saya inginkan adalah yang terbaik untuk keluarga," papar Ghada.
"Dalam hati terdalam saya ingin membangun sebuah negara baru di mana anak-anak kami bisa hidup bahagia," pungkas Ghada perlahan.