Sabtu, 6 Juni 2026

Alumni Paraguay Tamat

Program pengiriman 30 pemain sepakbola ke Paraguay akhirnya tamat. Masalah tak adanya anggaran untuk melanjutkan program

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto Alumni Paraguay Tamat
PEMAIN Alumni Paraguay berfoto bersama di Markas Timnas Paraguay, November 2011 lalu.
* Setelah Kuras Dana Rp 42,8 M

BANDA ACEH - Program pengiriman 30 pemain sepakbola ke Paraguay akhirnya tamat. Masalah tak adanya anggaran untuk melanjutkan program yang dimulai sejak 2008-2012 ini menjadi penyebab utama. Sebelumnya, program ini menghabiskan dana Rp 42,8 miliar saat belajar ilmu sepakbola tiga tahun di salah satu negara Amerika Latin, dan setahun berada di Aceh

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Serambi, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh telah mengajukan penambahan dana untuk kelanjutkan program pembinaan Alumni Paraguay, dan juga rencana pengiriman 30 pemain sepakbola ke Spanyol pada tahun 2013. Dana yang diajukan ke Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA) berjumlah Rp 8 miliar untuk kedua progam ini.

Tapi yang disetujui dalam RAPBA 2013 hanya Rp 600 juta. Itu pun bukan hanya untuk program Alumni Paraguay dan Pra Spanyol, tapi kegiatan pembinaan dan pelatihan semua atlet cabang olahraga ke luar negeri.

Rencana anggaran Rp 600 juta tersebut yang membuat Alumni Paraguay tamat di awal 2013 setelah anggaran habis pada 31 Desember 2012. Program pengiriman pemain ke Spanyol juga bernasib sama setelah menghabiskan dana Rp 1,3 miliar selama menjaring 30 orang dari berbagai kabupaten/kota di Aceh tahun 2012.

Tak ditampungnya pengajuan anggaran Rp 8 miliar akibat Dispora tidak mampu meyakinkan pihak Komisi E DPRA menambah dana untuk kelanjutan program tersebut. Karena dalam rapat pembahasan dengan Komisi E DPRA pada Desember 2012, pihak Dispora Aceh yang dihadiri Kadis, Sekretaris dan kepala bidang Dispora tidak dapat menunjukan apa tujuan, target, dan sasaran yang ingin dicapai dari kedua program tersebut.

Kadispora Aceh, Syarifuddin kepada Serambi kemarin membenarkan pihaknya sudah mengajukan anggaran untuk kedua program tersebut. Tapi karena tak ada anggaran, maka program lanjutan Alumni Paraguay dan Pra Spanyol tak bisa dilanjutkan. Bila ada anggaran para pemain dipanggil lagi. Anggaran untuk Alumni Paraguay habis sejak 31 Desember 2012, dan mereka yang sebelumnya menginap di Hotel Daka, Lampriek tidak bisa tidur lagi di sana.

“Kami hanya pelaksana dan tak berhak memutuskan atau melaksanakan sebuah program. Yang punya kewenangan memutuskan adalah DPRA dan Pemerintah Aceh. Kalau dana tak disetujui bagaimana kami melanjutkan program itu? Siapa yang menanggung dana sebanyak itu. Karena ini bukan anggaran satu juta, tapi miliaran,” ujar Syarifuddin.  

Para Alumni Paraguay kini sudah tercerai berai meski masih terikat kontrak dengan Pemerintah Aceh hingga tahun 2014. Sejumlah pemain pun sudah mencari klub untuk bisa bermain bola dalam kompetisi musim 2012-2013. Bahkan pemain belakang alumni Paraguay, Syahrizal sudah berkostum Persija Jakarta yang tampil di Indonesia Super League (ISL), dan gelandang Zikri Akbar dipanggil lagi oleh salah satu di Paraguay.(adi)

Bubar Sebelum Penilaian
NASIB Alumni Paraguay memang miris setelah belajar tiga tahun ilmu sepakbola dan disambut bak pahlawan saat pulang ke Tanah Rencong. Kini program yang sudah berjalan sejak 2008-2012 ternyata berakhir di tahun 2013. Masalah anggaran menjadi penyebab untuk melanjutkan pembinaan para pemain.

Tamatnya program ini justru sebelum mendapat penilaian gagal atau sukses. Karena, hingga kini mereka belum pernah sekalilpun tampil atas nama Aceh baik dalam event resmi di tingkat nasional ataupun internasional. Akibatnya, sulit memberi penilai terhadap lulusan Amerika Latin ini.

Padahal jelas, dalam rentang waktu 2008 hingga 2012, proyek ini sudah menguras uang rakyat Aceh mencapai Rp 42,8 miliar. Karena, setiap bulannya, mereka membutuhkan dana Rp 700 juta agar dapat melanjutkan program pelatihan di Spanyol.

Jika mau jujur, Alumni Paraguay boleh dibilang bukanlah sebuah proyek gagal ataupun berhasil. Ya, hingga program ini bubar, kualitas Zulfadli dkk tak bisa dinilai. Sebab, mereka sama sekali tak pernah terjun dalam sebuah even resmi. Jadi, sangat sulit untuk menilai jika mereka berhasil atau gagal.

Memang, Rahmad Maulana dkk pernah bermain di kancah kompetisi Divisi Utama Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) musim 2011/2012.

Sebagai pemain dengan usia 18 hingga 19 tahun, prestasi mereka di pentas profesional patut diajukan jempol. Mereka yang berkostum PSSB Bireuen mampu menjaga tim tersebut tak terdegradasi.

Bukan hanya itu, dari 9 peserta di kompetisi, anak-anak muda ini berhasil nangkring di peringkat 5. Kecuali itu, mereka juga mampu membawa pulang nilai 7 dari pertandingan luar kandang. Poin penuh diperoleh ketika sukses menghajar PS Bengkulu, dan PSP Padang. Di kandang Persikabo Bogor, mereka sukses menahan tim tangguh dengan skor 2-2.

Faumi Syahreza dkk bukan kalah kualitas, namun mereka kalah dari segi postur. Namun, ketika mereka bermain di level pemain dengan usia sama, kualitas Rahmanuddin dkk tak terkalahkan. Bukti nyata, juara antarklub Persija, Matador Jakarta dihajar 3-0.

Bukan cuma itu, Alumni Paraguay juga berhasil mempermalukan juara Arafura Games dengan skor 2-0. Jadi jangan pernah remehkan dengan kemampuan anak-anak ini. Kini, Zikri Akbar telah berlabuh di klub papan atas Liga Paraguay, Cerro Portane. Bahkan, kini Zikri sudah masuk dalam line-up tim kaya Paraguay itu.

Kemudian, Syahrizal menjadi menara kembar di Persija Jakarta. Di sisi lain, Rahmanuddin dan Jalwandi sedang menguji kemampuan di PSLS Lhokseumawe, bersama kuartet Zulfadli-Nendy, Arif dan Randy untuk PSAP Sigli. Sebelumnya, Zulfadli juga sukses menembus masuk Timnas Indonesia U-19 ketika berlaga di Myanmmar.

Kini, program itu telah berakhir. Lalu, bagaimana mengembalikan uang rakyat Aceh Rp 43,8 miliar yang telah dihabiskan selama ini. Padahal mereka diharap bisa menjadi pemain profesional yang setiap kontraknya dengan klub, bisa menghasilkan uang untuk Aceh. Bahkan, kini klub merekrut mereka tanpa harus mengeluarkan uang sepersen pun.(muhammad hadi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved