Serambi Kuliner
Masam Jing di Teluk One-One
KABUPATEN Aceh Tengah yang terletak di Dataran Tinggi Gayo (DTG) selain memiliki ragam budaya, juga menyimpan aneka masakan maupun
Jenis masakan ini, hampir sama dengan model masakan di beberapa daerah di bumi Serambi Mekkah ini. Jika di kawasan pesisir Aceh, masakan sejenis masam jing sering disebut dengan asam keueung atau orang minang menyebutnya dengan asam padeh. Namun, bumbu maupun cara pengolahannya yang sedikit berbeda, sehingga masam jing menyajikan taste (rasa) yang memang khas dari Dataran Tinggi Gayo (DTG).
Masakan ciri khas Gayo ini bisa dijumpai di beberapa tempat di Takengon, ibu kota Aceh Tengah. Salah satunya di kawasan Teluk One-One, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. Di lokasi ini, konsumen bisa memilih sendiri ikan yang akan dimasak untuk menu masam jing atau ikan bakar. Artinya, ikan yang dijual kepada penikmat menu khas Gayo ini, masih segar.
Karena, sebelum dimasak konsumen bisa memilih sendiri ikan mujahir atau ikan bawal (ikan mas) dari dalam jaring. Di tempat itu juga disediakan berbagai jenis ikan bakar. Tentunya, sebelum menikmati santapan ikan bakar dan masam jing, pengunjung telah duluan “digoda” dengan aroma ikan bakar yang menyeruak dari asap pemanggangan sehingga makin menambah selera makan.
Kawasan Teluk One-One, berjarak sekitar tiga kilometer dari Takengon. Daerah tersebut terletak di kawasan pesisir Danau Lut Tawar. Sembari menikmati hidangan ikan bakar dan asam jing, pengunjung bisa menyaksikan langsung keindahan Danau Lut Tawar. Termasuk di antaranya lokasi pembudidayaan ikan air tawar.
Keberadaan ikan bakar di Teluk One-One, Kampung One-One ini, baru sekitar enam tahun terakhir berkembang. Sejak kawasan tersebut menjadi lokasi budidaya ikan air tawar, sebagian masyarakat memanfaatkan kesempatan bukan hanya menjual ikan mentah, tapi bisa langsung menyajikan masakan siap hidang dengan menu khas Gayo.
Seperti yang dilakukan Abrar, warga Kampung One-One dimana ia membuka usaha ikan bakar di Teluk One-one. Usaha itu sudah ia lakukan sejak enam tahun lalu. Berawal dari membuka tempat seadanya, namun kini usahanya mulai berkembang. Bahkan warga Takengon, banyak yang mulai menikmati ikan panggang maupun ikan masam jing di lokasi itu.
Bila sebelumnya kawasan tersebut tidak lebih menjadi area lintasan warga yang hendak menuju kawasan wisata danau, kini Teluk One-One telah menjadi salah satu kawasan wisata kuliner dengan sajian menu khusus ikan bakar dan masam jing yang merupakan masakan ciri khas Gayo. “Alhamdulillah, banyak juga yang datang dari luar daerah untuk makan ikan segar di warung saya,” kata Abrar.
Menurutnya, hidangan ikan bakar maupun ikan masam jing ketika penyajian dipadukan dengan beberapa jenis masakan lokal lain seperti, cecah terong angur dan sayur pucuk jipang rebus. Ada juga sambal kecap untuk ikan bakar. “Sajian yang kami buat untuk masakan ikan-ikan ini, lebih memperkenalkan masakan lokal. Selama ini, banyak juga peminatnya,” ujar pemilik Kantin Awas 12 ini.
Bila hari-hari biasa, lanjut Abrar, paling sedikit dalam sehari ia bisa laku hingga lima kilogram ikan. Tapi, di akhir pekan atau hari libur penjualan ikan bakar maupun menu masam jing bisa lebih banyak. Apalagi, setelah lebaran ikan bakar maupun masam jing, bisa laku hingga puluhan kilogram. “Lama kelamaan, usaha saya ini mulai dikenal. Ada beberapa orang warga di sini yang juga mulai membuka usaha ikan bakar dan asam jing seperti saya ini,” pungkas Abrar.
Soal harga, ia menjelaskan untuk Ikan mujahir bakar plus nasi, cecah terong angur, dan sayur dijual Rp 35 ribu per porsi. Untuk Masam jing mujahir plus nasi, cecah terong angur, dan sayur, sebut Abrar, harganya Rp 35 ribu per porsi. “Sedangkan masam jing bawal plus nasi, cecah terong angur, sayur, saya jual 50 ribu rupiah per porsi,” jelasnya.
Soal cara mengolah masam jing, menurutnya, tidak serumit mengolah rendang. Bumbu yang digunakan cukup sederhana. Tapi dalam membuat masakan ini butuh pengalaman dalam meracik bumbu sehingga masam jing yang disajikan memiliki rasa yang khas dan nikmat untuk dicicipi.
Anda penasaran dan ingin menikmati ikan bakar dan masam jing khas Gayo, silakan datang di kawasan Teluk One-One, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. Anda bisa menikmati aneka kuliner dengan harga terjangkau.(mahyadi)
Jadi Kawasan Wisata Kuliner
MULAI menggeliatnya kawasan Teluk One-One sebagai lokasi penjualan ikan bakar serta menu lokal khas Gayo seperti masakan masam jing, membuat kawasan itu bisa menjadi lokasi wisata kuliner di Kota Dingin Takengon.
Harapan saya, di samping kawasan tersebut merupakan daerah wisata, ikan bakar maupun ikan masam jing, bisa menjadi ikon Teluk One-One. Di samping, kawasan tersebut memang merupakan lokasi budidaya ikan air tawar.
* Subhandhy AP MSi, Camat Lut Tawar.(c35)
Pertahankan Masakan Gayo
BERAGAM jenis masakan Gayo, harus bisa dipertahankan jika punya rasa yang khas dan sisi kesehatannya terjamin. Karena, hampir semua masakan Gayo seperti masam jing, pengat Gayo dan dedah tak menggunakan bahan yang mengandung lemak berlebihan seperti santan. Sehingga makanan itu tidak akan menggangu kesehatan orang yang mengonsumsinya. Warung nasi yang menyajikan jenis masakan lokal di Takengon, sudah mulai banyak, termasuk di antaranya beberapa warung nasi yang khusus menyajikan masakan masam jing, dedah, pengang gayo, cecah dan berbagai jenis lain. Kita berharap hal-hal yang berbau lokal ini, bisa dipertahankan dan bisa berkembang sebagai salah satu pendukung untuk kemajuan pariwisata di Gayo
* Hj Ummi Kalsum, Hj Ketua BKMT Aceh Tengah.(c35)
Perlu Promosi
IKAN bakar di kawasan Teluk One-One, Kampung One-One, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah, sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Takengon. Namun, gaungnya masih dikenal hanya di kalangan lokal. Untuk itu, keberadaan ikan bakar dan ikan masam jing di Teluk One-One, perlu dipromosikan lagi sehingga bisa lebih dikenal masyarakat luas, khususnya di Aceh. Daerah kita dikenal dengan kawasan wisata. Apalagi danau merupakan satu-satunya objek yang menarik untuk dikunjungi. Jika ikan bakar serta masam jing khas Gayo ini, bisa lebih dipromosikan, sehingga bisa menjadi salah satu target wisata kuliner di Gayo.
* Aan Rosihan, Warga Takengon.(c35)
Rujak Nenas dari Pegasing
PEGASING yang terletak di barat Takengon, menjadi salah satu kawasan penghasil nenas (di Aceh Tengah sering disebut nanas). Sebagian masyarakat di daerah itu, memiliki areal kebun nenas. Sejak puluhan tahun silam, Pegasing, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah, dikenal lantaran nenasnya yang punya cita rasa khas yang berbeda dengan daerah lain.
Nenas Pegasing, selain untuk konsumsi lokal juga dipasok ke beberapa daerah di Aceh. Seiring dengan keberadaan nenas di Pegasing, kawasan itu juga dikenal dengan rujak nenasnya yang sering disebut dengan nanas voles. Jenis panganan yang satu ini, merupakan menu favorit dari Pegasing yang berbahan baku nenas.
Berbeda dengan rujak yang dicampur beberapa jenis buah-buahan, Nanas voles disajikan secara sederhana, hanya menggunakan bumbu rujak seperti gula merah dan kacang tanah tanpa campuran bermacam buah. Keberadaan nanas voles ini, sudah ada sejak puluhan tahun silam. Bahkan menu tersebut masih bertahan hingga saat ini.
“Memang betul, kawasan Pegasing ini, dikenal dengan nanas dan nanas volesnya. Namun ada juga rujak-rujak biasa yang kami jual disini. Sedangan keberadaan nanas voles memang sudah ada sejak puluhan tahun silam. Saya sendiri jualan nanas voles ini sudah sebelas tahun melanjutkan usaha orang tua,” kata pemilik Nanas Voles Café Bola, Pegasing, Boyman, beberapa waktu lalu.
Menurut Boyman, nenas voles merupakan salah satu menu khas dari Pegasing, di samping kawasan ini merupakan daerah penghasil nenas. Penikmat nanas voles sebagian besar warga lokal dan terkadang di hari-hari tertentu banyak juga warga dari luar yang menikmati sajian nanas voles ini. “Kalau cuaca panas, lumayan juga orang datang untuk makan nanas. Yah kadang-kadang juga sepi,” ujarnya.
Namun demikian, kondisi penjualan nanas voles hingga saat ini masih tetap stabil. Meski terkadang, pedagang kesulitan untuk mendapat nenas, lantaran produksinya berkurang. Apalagi, setelah selesai bulan puasa, hampir setiap tahun nenas berkurang. “Berkurang bukan karena tak panen tapi kalau bulan puasa, nenas ini paling banyak dipasok ke kawasan Pesisir Aceh, sehingga untuk lokal sudah tidak cukup lagi. Itupun kalau setelah selesai puasa aja,” jelas Boyman.
Keberadaan nenas dan nanas voles Pegasing diprekdiksi akan bertahan hanya untuk beberapa tahun ke depan. Pasalnya, areal perkebunan nenas Pegasing, dari tahun ke tahun mulai menyusut lantaran berubah fungsi jadi pemukiman padat penduduk. Bahkan dikhawatirkan, komoditi asal Pegasing itu, akan hilang karena tak banyak lagi masyarakat yang membudidayakannya. “Harapan kami nenas ini bisa dibudayakan di tempat lain di Pegasing ini. Biar Pegasing bisa tetap dikenal karena nenas yang manis dan nanas volesnya yang nikmat,” harap Boyman.(mahyadi)
Ragam Kuliner di Aceh Tengah
SELAIN masam jing dan ikan bakar di kawasan Teluk One-One, Kabupaten Aceh Tengah yang didiami oleh multietnik ini juga memiliki berbagai masakan maupun makanan yang jenisnya beragam. Beberapa jenis masakan lain dari daerah penghasil kopi ini yang merupakan ciri khas Gayo yaitu seperti dedah, pengat gayo, sengeral, dan masakan awas 18.
Biasanya, jenis-jenis masakan tersebut jika disajikan, kerap disandingkan dengan beberapa jenis sambal khas Gayo. Di antaranya, cecah terong angur (terong belanda), dan cecah bajik (nangka muda). Belum lagi dengan penganan yang ada di Gayo seperti lepat, dan gutel.
Pengat Gayo merupakan masakan khas Gayo yang hampir sama dengan masam jing. Hampir semua jenis ikan bisa dimasak pengat Gayo, tentunya lebih khas lagi jika sajian pengat Gayo ini, berbahan baku utama seperti ikan depik, mujahir dan ikan mas air tawar. Yang membedakan masam jing dengan pengat Gayo, masakan asam jing dibubuhi kuah sedangkan pengat gayo direbus hingga kering dan lebih nikmat lagi apabila dimasak di kuali tanah.
Untuk masakan jenis dedah, proses pengolahannya lebih sederhana dibanding masam jing dan pengat Gayo. Masakan jenis dedah ini, bahan bakunya tetap semua jenis ikan, tergantung selera. Bumbu masakan dedah inipun tidak terlalu banyak, hanya butuh cabai merah, kunyit, jahe dan serai. Jika pengat Gayo dan asam jing, memiliki warga merah setelah dimasak, pengat dedah berwarna kuning lantaran pengolahnya menggunakan kunyit.
Untuk jenis sengeral, masakan ini khusus untuk sajian berbahan baku daging ayam. Masakan jenis sengeral ini, selain menggunakan beragam bumbu, juga dicampur dengan kelapa gongseng sehingga terasa lebih berlemak. Demikian juga dengan masakan awas 18. Masakan ini, khusus berbahan baku daging ayam. Konon masakan awas 18, mengunakan 18 jenis bumbu sehingga disebut dengan awas 18. Bumbu dalam bahasa Gayo disebut dengan awas.
Berbicara tentang cecah, makanan ini merupakan jenis masakan tambahan yang sama jenisnya seperti sambal. Namun campuran dan cara pengolahannya yang lebih sederhana dan mencerminkan khas dari dataran tinggi Gayo. Cecah terong angur, bahan baku utamanya adalah terong belanda (dalam bahasa gayo terong angur). Terong belanda diulek setelah dikupas (digiling) dengan campuran bawang dan cabai serta sedikit terasi masak. Jenis cecah ini, memiliki rasa cenderung agak sedikit asam dan pedas.
Berbeda dengan cecah bajik. Cecah ini, bahan baku utamanya buah nangka muda yang masih sebesar telunjuk dalam bahasa Gayo disebut bajik. Nangka muda digiling agak halus, dicampur dengan pisang muda, jambu kelutuk muda, jambu air dan juga termasuk terong belanda. Rasa cecah agak kelat lantaran berbahan baku nangka muda.
Sementara itu, lepat gayo dan gutel, merupakan panganan kue khas Gayo. Lepat hampir sama modelnya dengan panganan dari kawasan pesisir Aceh, yakni kue timpan. Namun yang membuat beda, lepat gayo, dibungkus dengan daun pisang yang lebih tua. Sedangkan kue timpan mengunakan bungkusan daun pisang muda.
Kue lepat gayo, jarang dijumpai di warung-warung kopi. Kue ini, biasanya dibuat menjelang masuknya bulan puasa dan pada hari Raya Idul Fitri maupun lebaran haji. Membuat kue lepat, merupakan bagian dari tradisi masyarakat Gayo, dalam menyambut datanya bulan ramadhan dan lebaran, sehingga jarang dijumpai dijual di hari-hari biasa.
Sedangkan gutel, bisa dikatakan makanan khas gayo, yang menggunakan bahan baku sederhana. Jenis makanan ini, mulai kurang populer dengan mulai banyaknya beredar kue-kue instan dan beragam. Namun gutel tetap menjadi salah satu kue atau panganan khas Gayo.(mahyadi)